Edisi 07-02-2016
Perkuburan Sei Mati, Wajah Lain Eksistensi Tanah Deli


SEIRING- perkembangan Kota Medan dengan kemajuan perkebunannya, perpindahan penduduk ke Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini tidak bisa terhindarkan. Migrasi masyarakat Mandailing, Angkola, Aceh, hingga Arab, terus berdatangan ke Kota Medan sejak 1906. “Mereka bekerja pada beberapa perusahaan percetakan, kranidi kantor pemerintah maupun perkebunan. Beberapa di antaranya mengabdi pada Sultan Deli,” ujar Erond Damanik. Melihat lonjakan penduduk Mandailing di Kota Medan, maka Sultan Deli pada 1912 memberikan sebagian lahan di Sei Mati kepada etnis asal Tapanuli bagian selatan. Kemudian sebagian lahan dijadikan perkuburan.

“Jadi boleh dikatakan, perkuburan Sei Mati ini wajah lain dari eksistensi Tanah Deli pada masa lalu. Di mana banyak orang datang ke sini mencari penghidupan baru,” katanya. Awalnya TPU Sei Mati ditujukan untuk pemakaman warga Muslim berasal atau etnis Mandailing, Angkola, Melayu, India, dan Arab. Namun sejak 1923, TPU Sei Mati menjadi perkuburan orang Mandailing.

Menurut Erond, penamaan Sei Mati atau Sungai Mati juga dipengaruhi keberadaan perkuburan itu, yakni sungai yang berdekatan dengan perkuburan. Salah satu peristiwa penting terkait keberadaan TPU Sei Mati adalah konflik antara etnis Mandailing dan Angkola yang terjadi tahun 1923. Awal perseteruan adalah etnis Mandailing tidak mau menyebut diri menjadi orang Batak. Sementara orang Angkola mengaku Batak. Pada saat itu, kata Erond, ada jenazah orang Angkola yang ditandu dan akan dimakamkan di perkuburan itu. Tapi kemudian etnis Mandailing menolak karena diklaim pemakaman itu untuk orang Mandailing, bukan untuk orang Angkola.


“Persoalan ini sampai ke Pemerintah Gemeente Medan dan tidak sanggup menyelesaikannya. Maka dilanjutkan hingga ke Gubernur Jenderal Hindia. Kala itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengacu pada surat wakaf Sultan Deli bahwa pemakaman tersebut untuk orang Mandailing. Maka sejak itu, pemakanan Sei Mati lebih dikenal sebagai permakaman Mandailing hingga kini,” ujarnya.


Meskipun sekarang TPU itu disebut perkuburan Mandailing, tetapi bisa juga masuk non Mandailing Angkola sepanjang dia Muslim. Karena itu, di kompleks perkuburan saat ini terdapat juga beberapa pusara non Mandailing dan Angkola. Namun umumnya, mereka ini adalah kerabat dari keluarga Mandailing dan Angkola. “Ini berlaku sebagai buah membaiknya hubungan Mandailing dan Angkola sejak kemerdekaan 1945,” katanya. Ketua Nazir Tanah Wakaf Perkuburan Mandailing, Ahmad Fauzi Lubis mengatakan, perkuburan tersebut sudah ada sejak Kesultanan Deli.

Diakuinya, perkuburan tersebut ditujukan khusus untuk warga Mandaling. Namun di kawasan itu juga ada pusara warga dari etnis Arab, Minang, Jawa, dan Melayu. Menurut dia, sejarah TPU itu berawal pada awal tahun 1885 ketika para pemuka masyarakat Mandailing merantau di Tanah Deli. Pemuka Mandaling tersebut masing-masing Soetan Baroemoen, Haji Abdoessamad, Haji Mohd Arif, dan lainnya. Kemudian tanah yang diperoleh tersebut diwakafkan sebagai perkuburan saja. “Lahan ini tidak dibenarkan untuk yang lain. Hanya untuk perkuburan,” katanya. ● irwan siregar

Berita Lainnya...