Edisi 07-02-2016
Longsor Purworejo, Lima Tewas , Dua Hilang


PURWOREJO– Lima orang tewas dan dua hilang tertimbun tanah longsor yang menerjang Dusun Siwinong RT 003/RW 004, Desa Penungkulan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jumat (5/2) sekitar pukul 20.00 WIB.

Bencana yang dipicu hujan deras sejak siang hingga malam hari itu juga mengakibatkan sejumlah rumah rusak, akses jalan putus, dan tumbangnya pohon-pohon pertanian warga. Longsor diduga akibat bukit setinggi 30 meter yang menjulang di Dusun Siwinong tak kuat menahan debit air yang menggerusnya.

Tak pelak, tiga rumah warga milik Amat Sarengat, Rahman, dan Dardai yang ada di bawah bukit rata dengan tanah. Seluruh penghuni tiga rumah yang berjumlah tujuh jiwa itu pun ikut terkubur tanah. Ketujuh korban yaitu Amat Sarengat, 80; Salimah, 60; Triyanto, 9; Sumini, 80; Suprapti, 45; Fitri, 16; dan Erni Yulianti, 8. Kades Penungkulan, Anang menuturkan seluruh korban malam itu sedang berada di dalam rumahnya.

“Karena hujan turun sejak siang hingga malam, kemungkinan korban tidak mendengar suara di luar dengan jelas,” katanya kepada wartawan kemarin. Untuk menuju lokasi kejadian medannya cukup berat. Lokasi longsor berada di atas perbukitan dan aksesnya hanya jalan setapak rabat beton.

Otomatis regu penolong tidak bisa langsung melakukan proses pencarian korban. Kasi Logistik dan Kegawatdaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Hardoyo menjelaskan begitu mendengar informasi tanah longsor, seluruh Tim SAR berkumpul di Kantor BPBD untuk melakukan berkordinasi.

“Tak begitu lama kami langsung menuju lokasi longsor di Desa Penungkulan. Kondisinya sangat gelap dan hujan belum juga reda,” ujar Hardoyo. Mereka belum berani langsung mengevakuasi karena dikhawatirkan akan datang bencana tanah longsor susulan. Mereka akhirnya baru memulai proses evakuasi para korban tanah longsor dini hari kemarin .

Proses evakuasi dilakukan oleh regu penolong yang terdiri dari Tim SAR, BPBD, TNI, dan Polri melakukan pencarian dengan peralatan seadanya. Alat berat tak bisa menjangkau lokasi lantaran kondisi jalan yang ekstrem dan sempit untuk dilalui kendaraan besar. Akhirnya beberapa jasad korban berhasil ditemukan oleh regu penolong.

Korban pertama yang berhasil ditemukan adalah Suprapti, 45, dan anaknya Erni Yulianti, 8. “Korban pertama kami temukan pada pukul 03.00 WIB. Saat ditemukan jasad keduanya saling berdekatan,” ucap Hardoyo. Kemudian berturut-turut ditemukan jasad Amat Sarengat, Fitri, dan Sumini. Sedangkan Salimah, 60, dan cucunya Triyanto, 9, hingga berita ini diturunkan masih belum bisa ditemukan.

Setelah ditemukan kelima jasad korban langsung dibawa ke Musala Al Iman, Desa Penungkulan. Di sana para korban dimandikan dan disemayamkan. Jenazah Suprapti dan anaknya Erni dimakamkan pertama kali. Pihak desa sendiri menempatkan kelima korban dikubur berjajar di pemakaman umum desa setempat.

“Semua korban rencananya kami makamkan berdampingan,” ungkap Anang. Terkait pencarian, Tim SAR gabungan menghentikan pencarian korban kemarin sore. Pencarian akan dilanjutkan pagi ini. Hardoyo mengatakan untuk sementara tim SAR ditarik dari lokasi pencarian korban longsor pada pukul 17.30 WIB. “Kami tarik karena jika dilanjutkan juga tidak efektif karena semua sudah capek," katanya.

Longsor di Kulonprogo

Hujan deras disertai angin kencang juga melanda Kabupaten Kulonprogo pada Jumat malam. Akibatnya ada lima kejadian bencana yang dilaporkan ke BPBD, baik tanah longsor maupun pohon tumbang menimpa rumah dan menutup jalan. “Laporan yang masuk ada lima kejadian, tiga ringan dan langsung tertangani dan dua yang masuk kategori sedang,” ungkap Kepala BPBD Kulonprogo Gusdi Hartono kemarin.

Di Pedukuhan Kepek Pengasih ada pohon tumbang dan melintang di tengah jalan. Begitu juga di Pedukuhan Selo, Hargorejo, Kokap. Di wilayah Hargorejo juga dilaporkan ada longsoran kecil yang menutup jalan desa. Tiga lokasi ini langsung ditangani masyarakat dan sudah tuntas. Sedangkan dua kejadian besar terjadi di Pedukuhan Tukharjo, Purwoharjo, Samigaluh.

Tebing setinggi 15 meter longsor dan menutup jalan provinsi yang menghubungkan Dekso menuju Kecamatan Samigaluh, tembus Purworejo. Satu lagi di Pedukuhan Papak, Kalirejo kokap, terdapat pohon tumbang yang menimpa tiga rumah penduduk. Satu rumah dilaporkan kondisinya rusak parah. “Kami masih menunggu alat berat dari DIY, untuk membuka akses jalan di Tukharjo,” ujarnya.

Sementara Supriyanto, warga Pedukuhan Tukharjo mengatakan tanah longsor terjadi pada Jumat malam. Saat itu hujan hanya gerimis. Namun sebelumnya hujan deras sempat turun dan mengguyur kawasan ini. “Begitu ada laporan kami langsung ke lokasi dan menutup jalan agar tidak ada warga yang melintas,” imbuhnya.

Akibat longsoran tanah, jalan utama ini ditutup. Warga dan pengguna jalan harus memutar sejauh lima kilometer. Hingga kemarin sore ratusan warga masih melakukan kerja bakti. Sebelumnya pada Rabu (3/2), kepala Dukuh Nglinggo, Pagerharjo Samigaluh tewas tertimpa material tanah saat kerja bakti membersihkan material longsoran yang menutup jalan.

Dua warga lain hanya mangalami luka ringan dan sempat menjalani perawatan medis. Hujan pada hari Jumat juga mengakibatkan longsor disejumlah wilayah di Magelang. Bahkan tanah longsor mengancam jalur Magelang–Purworejo tepatnya di Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman hingga terpaksa digunakan sistim buka tutup. Kejadian tanah longsor terjadi di sejumlah titik wilayah Kecamatan Borobudur dan Salaman.

Berdasarkan data yang ada, talud rumah milik Jemilah, 70, warga Dusun Ngaglik, Desa Giri Tengah, Kecamatan Borobudur diperkirakan longsor pukul 19.00 WIB (Jumat). “Setelah menerima laporan, kami bersama Muspika melakukan peninjauan di lokasi. Longsoran menimpa sepeda motor Ninja. Kemudian atas saran dari Pak Camat, rumah tersebut agar dibongkar sekalian,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Magelang, Pranowo kemarin.

Tanah longsor juga terjadi di bahu jalan sebelah kiri dari arah jalur Magelang–Purworejo, tepatnya di jalan menanjak Margoyoso, Kecamatan Salaman pada dini hari kemarin. “Warga yang khawatir jika dilewati kendaraan berat kemudian memasang ramburambu berupa tong agar pengguna jalan berhati-hati. Selain itu, dibuat jalur satu arah bergantian,” kata Aji Sasmito, warga setempat, kemarin.

Hery priyantono/ eko susanto/ kuntadi

Berita Lainnya...