Edisi 07-02-2016
Korban Tewas Miras Oplosan Jadi 21 Orang


YOGYAKARTA – Korban tewas akibat minuman keras (miras) oplosan terus berjatuhan. Hingga kemarin setidaknya sudah ada 21 orang meregang nyawa, sedangkan puluhan korban lainnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit, di antaranya dalam kondisi kritis.

Data terakhir menyebutkan, 21 orang yang tewas tersebut tersebar di Kabupaten Sleman, Bantul, maupun Kota Yogyakarta. Para korban berjumlah 19 orang diduga menenggak miras oplosan yang diracik dari penjual bernama SK, dibantu istrinya SB, di daerah Ambarrukmo, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Pasangan suami istri ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di Polres Sleman. Kepala Satuan Reskrim Polres Sleman AKP Sepuh Siregar menjelaskan, miras yang dijual SK dan SB itu memiliki bahan dasar etanol 96%, air, sitrun, sari man i s , kemudian ditambah aroma rasa buah, yakni salak atau jeruk. Komposisinya etanol 15% dan air 85%.

“Sudah setahun mereka menjual miras,” ungkap Sepuh Siregar kemarin. Meski sudah setahun berjualan miras racikan yang biasa disebut sari vodka dan arak itu, diklaim baru kali ini peminumnya berjatuhan hingga tewas. Menurut Sepuh, minuman yang membuat para korban berjatuhan itu diracik terakhir.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, yaitu diracik Selasa (2/2) lalu. “Untuk itu, kita cek di laboratorium sampel minuman itu,” ungkapnya. Berdasarkan informasi terakhir yang diterimanya, jumlah korban tewas hingga kemarin ada 17 orang. Korban lain yang masih dalam perawatan di RS Bethesda Yogyakarta sebanyak 15 orang, RSUP Dr Sardjito Yogyakarta 7 orang, dan di RS Hidayatullah Yogyakarta ada 3 orang.

Di antara mereka ada korban yang kondisinya kritis. Selain korban yang meninggal di rumah sakit dan ditangani Polres Sleman, Jumat (5/2) malam dua perempuan yang tinggal kos di Kanoman, Dusun Karangjambe, Banguntapan, Bantul, ditemukan tewas di kamarnya. Ini juga akibat menenggak m i r a s oplosan.

Mereka adalah SND, 21, dan NG, 23, keduanya asal Ternate, Maluku Utara. Kedua jasad korban setelah dievakuasi ke RSUP dr Sardjito, Yogyakarta. Kapolsek Banguntapan Kompol Suharno membenarkan kejadian itu. Dia mengutarakan malam itu kepolisian langsung mendatangi lokasi untuk olah TKP.

Hasilnya mereka menemukan sejumlah barang bukti miras. Barang bukti itu di antaranya empat botol yang masih berisi miras berwarna bening seperti arak, seperti ada kesesuaian dengan barang bukti kejadian di lokasi lain. “Diduga belinya dari lokasi yang sama,” ungkapnya.

Sebenarnya lokasi kejadian dengan daerah Ambarrukmo, Caturtunggal, Depok, tempat penjual tinggal, itu beda kabupaten, tapi terbilang tidak jauh. Kepastian mengenai kasus itu masih dalam penyelidikan polisi. Masih ada dua korban lain yang berasal dari Margoluwih, Seyegan, Sleman yang tewas pada Jumat kemarin.

Korban berinisial AN, 35, dan SR alias Teguh, 35, membeli miras bening dari pedagang MT dan PY yang merupakan pasangan suami istri, warga setempat. Miras yang biasa disebut beningan dari penjual itu oleh korban dioplos sendiri dengan campuran buatan sendiri. Setelah kejadian itu polisi menahan pasangan suami istri itu bersama barang bukti berupa 33 botol miras.

Dari jumlah korban tewas, sebagian besar merupakan warga luar Jawa. Mengenai masalah ini dosen sosiologi kriminal UGM, Suprapto, berpendapat bahwa di luar Jawa memang dulunya ada daerah dengan budaya meminum minuman keras.

Meski demikian, dalam perkembangannya pemerintah daerah setempat ada yang melarang orang mabuk. “Tapi karena dulunya sudah membudaya untuk menghilangkan kebiasaan itu belum bisa dilakukan maksimal, walaupun sudah berada di daerah lain. Jadi, ada semacam ketergantungan seperti orang merokok itu,” urainya.

Aparat Kecolongan

Kepala Seksi Operasional dan Penegakan Perundang-Undangan Satpol PP Sleman Rusdi Rais menyampaikan, operasi miras memang terus dilakukan. Bahkan dalam waktu dekat satuannya sudah merencanakan operasi. Dia mengaku kecolongan dengan banyaknya korban yang berjatuhan akibat miras oplosan.

“Ya, kami kecolongan di awal tahun,” katanya. Melihat bahaya yang diakibatkan miras itu, dia berharap penjual yang berhasil ditahan dan diajukan di persidangan nantinya tidak mendapatkan sanksi denda, melainkan langsung sanksi kurungan. Menurut dia, seberapa pun denda yang diberikan, para penjual itu mau membayar sehingga tidak membuat efek jera.

“Kami mendorong supaya penjual miras itu mendapatkan sanksi kurungan, bukannya denda,” ungkapnya. Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengakui pelaksanaan razia miras terus dilakukan kepolisian. Namun, dia enggan disebut kecolongan karena untuk melakukan penegakan hukum kepolisian harus didasarkan pada temuan barang bukti. “Kalau kita datangi terus tidak ada bukti kan tidak bisa kita tindak, kita terus setiap hari lakukan operasi,” akunya.

Yulianto mengakui, polisi sejak Januari lalu sudah mengamankan ribuan botol miras. Bahkan ada yang jumlahnya sekitar 9.000 botol dan kasusnya sudah P-21, tinggal menunggu pemusnahan barang bukti oleh kejaksaan. “Dengan munculnya kasus sampai korban banyak yang meninggal ini, giat operasi akan kita tingkatkan,” ucapnya.

Perihal miras oplosan yang dijual pasutri asal Ambarrukmo, Caturtunggal, Depok, yang berbahan dasar etanol, Yulianto menyampaikan, penjual itu mendapatkan miras dari toko bahan kimia. Etanol itu menurut dia dijual bebas, seperti untuk keperluan laboratorium bukannya untuk dikonsumsi. Kepala Humas RSUP dr Sardjito Yogyakarta, Trisno Heru Nugroho, menuturkan, rumah sakitnya mendapat titipan empat jenazah yang hingga kemarin sore masih berada di bangsal forensik.

Berdasarkan keterangan medis, keempat jenazah tersebut diindikasikan tewas karena minum miras oplosan. Dua jenazah berjenis kelamin laki-laki dan dua perempuan. Di tempat terpisah, Kepala Satpol PP DIY Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat mengatakan sudah mengantongi nama-nama tempat-tempat yang diduga sebagai produsen atau penjual miras dan oplosan. “Kami kerahkan personel, meski terbatas. Kami sudah tahu sejumlah titik. Pengawasan di hotel nonbintang dan kafe juga ditingkatkan,” papar Gusti Yudha.

Muji barnugroho/ ristu hanafi/ ridwan anshori

Berita Lainnya...