Edisi 07-02-2016
Kami Memaknai sebagai Pergantian Musim Saja


Bagi muslim Tionghoa di Kota Medan, tidak ada yang meriah pada perayaan Imlek 2567 bertepatan pada Senin, 8 Februari mendatang.

Hari pergantian tahun tersebut hanya dimaknai sebagai pergantian musim dingin ke musim semi, tidak ada yang spesial. Dianggap sebagai hari yang biasa saja membuat, muslim Tionghoa pada umumnya juga tidak menghiasi rumah mereka dengan pernak-pernik khas Imlek seperti lampion, aksara Tionghoa, kue bakul, bahkan angpau.

Ketua Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Fajar Siddik (Liu Won Zhang) saat berbincang dengan KORAN SINDO MEDAN belum lama ini menuturkan, bagi PITI Imlek dijabarkan sebagai merayakan tradisi pergantian tahun. Kendati banyak orang memaknainya sebagai perayaan hari besar, namun sebagai umat Islam, PITI hanya ikut suasananya.

“Saudara merayakan, kami hanya memaknai sebagai pergantian musim. Jika masyarakat Tionghoa lain biasanya merayakan dengan pernak-pernik seperti lampion, aksara Tionghoa, kue bakul dan lain-lain, kami tidak,” ujarnya. Siddik juga menyebutkan, bahkan ucapan selamat yang disampaikan PITI kepada masyarakat Tionghoa lainnya hanya sebatas pada ucapan selamat atas pergantian musim yang biasanya di kalangan petani di Tionghoa merupakan awal masa bercocok tanam.

“Pemaknaan Imlek bagi kami hanya sebagai pergantian musim yang umum terjadi,” ucap Fajar. Kendati memberikan batasan-batasan bagi perayaan Imlek untuk mencegah hal-hal yang menjadi larangan dalam Islam, beberapa kegiatan tetap dilakukan memaknai Imlek. Biasanya beberapa warga PITI akan menggelar acara silaturahmi yang diisi dengan tausiyah.

“Kegiatan yang dilakukan itu bisa saat jatuhnya Imlek ataupun sesudahnya. Tapi biasanya dilakukan perorangan, bukan atas nama PITI. Itu hal yang wajar karena biasanya merupakan ajang berkumpul mempererat silaturahmi serta tausiyah yang intinya untuk mempertebal keimanan sebagai muslim,” papar Fajar. Untuk urusan memberikan pemahaman tentang Imlek terhadap anggota PITI Medan agar tidak melenceng dari nilainilai keislaman, PITI kerap memberikan masukan kepada sekitar 1.000 anggota PITI yang ada di Kota Medan.

Namun diakui Fajar, untuk muslim Tionghoa yang tidak menjadi anggota PITI, hal itu sulit dilakukan. Jumlah muslim Tionghoa yang tergabung dalam PITI masih kurang dari 20% jumlah muslim Tionghoa yang ada di Medan. Pendataan warga tersebut yang menjadi tugas PITI Medan saat ini. “Kami berharap, umat muslim lainnya bisa bergabung dalam PITI dan membesarkan organisasi ini,” papar Fajar.

Namun, di saat jelang perayaan Imlek kali ini, muslim Tionghoa masih memiliki permasalahan yang sampai saat ini belum bisa terselesaikan, yakni anggapan sebagian warga Tionghoa lain terhadap mereka. “Kita tahu sendiri sebagian warga Tionghoa di Medan ini agak eksklusif dibanding di daerah lain. Hal ini terus kami perjuangkan. Kami terus berupaya mendobrak, menjembatani agar anggapan sebagian masyarakat Tionghoa lain terhadap muslim seperti kami sebagai warga kelas tiga bisa berubah. Kami ingin luruskan, perbedaannya hanya pada akidah, sementara secara umum kami tetap sama,” ucapnya.

Syukurnya dari terobosan yang sudah dilakukan selama ini, sambutan baik datang dari organisasi Tionghoa lainnya khususnya di Sumut dan Kota Medan. Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI) Sumut dan Medan, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sumut dan Medan sudah melirik untuk menjalin kerja sama dengan pihaknya. “Kami kerap diajak jika PSMTI maupun INTI melakukan kegiatan. Itu merupakan langkah yang baik untuk persatuan antara muslim Tionghoa dan nonmuslim Tionghoa. Kami berharap hubungan akan semakin baik ke depan,” ucapnya.

Pengurus PITI Medan lainnya, Syamsudin (Liao Chong Chang) mengatakan, kegiatan silaturahmi dan pengajian dalam menyambut tahun baru Imlek merupakan sebuah bentuk rasa cinta terhadap kebudayaan.

“Imlek merupakan salah satu dari berbagai tradisi yang masih dijalankan oleh warga Tionghoa hingga saat ini. Oleh karenanya sebagai muslim, menyambut Imlek sudah selayaknya dijalankan dengan pengajian untuk mempertebal rasa iman dan taqwa kepada Allah SWT,” ungkap pria yang biasa dipanggil A Chong ini.

Syukri amal
Medan


Berita Lainnya...