Edisi 07-02-2016
Model Kerap Berubah, Warna Merah Tetap Dominan


PADAsetiap perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa pasti bersuka ria. Dari sisi gaya, biasanya ditandai dengan baju tradisional cheongsam untuk wanita dan changshan untuk pria.

Cheongsam berasal dari bahasa Kanton dari Provinsi Guangdong yang memiliki arti gaun panjang. Seperti yang diketahui, pakaian tradisional itu identik dengan potongan baju leher tinggi, penambahan aksen kancing dan pada warna dominan merah. Pakaian-pakaian itu semakin indah dengan motifmotif, seperti koin emas, naga, bunga sakura, dewa rezeki, tiga dewa dan shio pada tahun berjalan.

Desainer Medan Oki Wong mengatakan, cheongsam dan changshan adalah pakaian tradisional yang memang biasa dipakai pada setiap perayaan Imlek. Dan bicara pakaian, khusus cheongsam modelnya pun berubah-ubah tapi tetap dengan identik warna merah dan penambahan aksen kancing. Namun yang lainnya seperti pada bagian lengan, sudah banyak dimodifikasi dengan membuatnya bentuk balon atau bagian bawahnya dibuat model paperplum.

”Sejak 1990-an, model-model cheongsam ini sudah berubah-ubah mengikuti tren. Dan semakin marak setelah era reformasi di mana ketika itu Imlek sudah masuk menjadi hari libur nasional. Peralihan dari cheongsam tradisional ke kombinasi atau modifikasi terus bertambah,” katanya kepada KORAN SINDO MEDAN belum lama ini. Tidak hanya model, motif pakaian juga berubah. Pada umumnya motifmotif seperti naga, koin emas, dan lainnya menghiasi seluruh pakaian cheongsam dan changshan dari atas sampai bawah.

Tapi sekarang tidak lagi, terutama pada pakaian dewasa. Saat ini motif-motif seperti itu hanya ada pada pakaian anak-anak. Sementara pada pakaian dewasa, kalaupun ada motif sesuai pakem, pasti sudah dimodifikasi. ”Seperti naga atau lainnya pasti hanya sebagai aksen saja, tidak mengisi seluruh pakaian untuk pria atau wanita. Biasanya sekarang motif-motif itu hanya ada pakaian untuk anakanak,” papar Oki Wong.

Meski terjadi peralihan model dan motif pakaian, hanya satu yang tidak diubah yaitu warna tetap merah. Merah menjadi warna identik pada pakaian cheongsam dan changshan. Apa pun model dan motifnya, warna merah tetap dominan. ”Terserah mau pakai model atasan bawahan atau dresspanjang tapi tetap warnanya merah. Kemudian baru dipadupadankan dengan warna soft. ”Warna softitu pun biasanya mencerminkan nuansa ceria. Tidak boleh pakai warna putih atau hitam pada perayaan Imlek,” ucap Oki Wong. Ketika ditanyakan bagaimana pemakaian cheongsam dan changshan pada perayaan Imlek di kota Medan, pria kelahiran Batubara ini melihat tidak terlalu menjadi keharusan. Warga Medan pada umumnya memakai pakaian modern saja. Hanya warna yang masih mengikuti pakem.

”Di Medan, orang-orangnya tidak gemar pakai cheongsam atau changshan. Pakaiannya berbagai model tapi warnanya tetap merah,” ungkapnya. Tren pemakaian cheongsam dan changshan justru masih tetap dipertahankan orang Tionghoa yang ada di kotakota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.

”Mungkin juga karena warga di kota-kota besar itu lebih cepat mengikuti perubahan tren fashion. Beda dengan di sini sedikit terlambat, jadi lebih memilih memakai pakaian modern daripada pakaian tradisional,” pungkasnya.

Jelia amelida

Berita Lainnya...