Edisi 07-02-2016
Andil Belanda dalam Pengaturan TPU


Tempat pemakaman umum (TPU) di Kota Medan memiliki keunikan tersendiri. Selain berdasarkan agama dan etnis, banyak kuburan memiliki bangunan khas. Tentu keberadaan TPU ini tidak muncul begitu saja. Munculnya TPU-TPU di Kota Medan ternyata tidak lepas dari andil pemerintah kolonial Belanda

Tempat peristirahatan terakhir, begitu ungkapan lain bagi kuburan atau tempat pemakaman. Perkuburan menjadi fasilitas umum yang sangat perlu pengaturan di sebuah wilayah berkembang. Kota Medan misalnya, sejak dulu TPU ternyata sudah diatur oleh Belanda karena disesuaikan dengan agama dan suku/etnis jenazah. Menurut sejarawan di Medan, Erond Damanik, pemakaman atau perkuburan telah diatur berdasarkan agama. Hal tersebut tertulis dalam besluitpenetapan Medan sebagai Gemeente (Kota Praja) pada 1 April 1909.

Pemerintah kolonial Belanda sejak 1887 sudah menetapkan beberapa lahan sebagai areal pemakaman di Kota Medan. Pemakaman orang Eropa misalnya berada di Jalan Sisingamangaraja, tepatnya di areal yang saat ini menjadi Taman Makam Pahlawan. Pemakaman ini biasanya diperuntukkan bagi orang Eropa yang meninggal tibatiba di Medan. Karena jika masih sakit, sebisa mungkin diberangkatkan ke Eropa dengan kapal laut. Hal ini berlangsung hingga tahun 1928. “Jadi, dulunya itu bukan makam pahlawan, tapi hanya pemakaman bagi orang Eropa.

Pada 1958, pemakaman itu ditetapkan sebagai taman makam pahlawan oleh Pemerintah Kota Medan. Saat itu Wali Kota Medan Madja Purba,” ujar peneliti di Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis), Universitas Negeri Medan (Unimed) itu. Dari data sejarah yang ada, kata dia, gapura menuju pemakaman tersebut dulu merupakan asli buatan Belanda.

Tetapi saat ini gapura itu telah diganti dengan ornamen menggambarkan keindonesiaan. “Tapi coraknya masih tetap sama, berupa bangunan meruncing. Bentuk itu menandakan akhir hidup,” ungkapnya. Sewaktu pengalihan itu, maka pemakaman orang Eropa berada di dekat tembok dari Jalan HM Joni, tapi sudah diratakan sejak tahun 1960. Karena itu, jika ada pahlawan yang meninggal dimakamkan dari lahan sisi kiri pemakam bersebelahan dengan Jalan Halat. Lama kelamaan karena semakin banyak yang dimakamkan di sana, pemakaman itu mengarah ke sisi kanan ke Jalan HM Joni, di tempat jenazah orang-orang Eropa dimakamkan.

“Areal pemakaman itu dari sisi Jalan Halat yang menjadi pemakaman pahlawan beragama Muslim. Sedangkan kuburan yang pahlawan beragama Kristen ada di tengah perkuburan mengarah ke Jalan HM Joni,” ungkapnya. Fakta sejarah juga menunjukkan letak perkuburan warga di Kota Medan sesuai dengan demografi penduduk yang menetap di kawasan itu. Misalnya, konsentrasi masyarakat Melayu berada di Kota Maksum dan etnis Arab di kawasan Sambu. Sementara etnis Mandailing dan Angkola berada di Kampung Baru dan Bandar Selamat, Medan Tembung.


Etnis Toba ada di Medan Timur, etnis Tionghoa berbasis di Kesawan, etnis India di Kampung Madras, dan etnis Jawa ada di kawasan perkebunan. “Dulu di kawasan Petisah, ada perkuburan China. Tapi kemudian seiring pembangunan kota dipindahkan oleh pemerintah kota ke kawasan Sunggal,” katanya. Sementara untuk perkuburan etnis Karo berada di kawasan Padangbulan, tepatnya di Jalan Letjen Djjamin Ginting, yang sudah kedatangan masyarakat Karo sejak 1870. Perkuburan itu bisa terlihat dari jalan utama menuju arah Karo. Kuburan etnis Karo ini unik karena berdampingan antara perkuburan Kristen dengan perkuburan Muslim.

“Perkuburan muslim tersebut memang tergolong baru, yakni sekitar tahun 1960-an. Sementara perkuburan kristen etnis Karo itu sudah ada sejak 1935. Mungkin seiring dengan banyaknya warga Karo memeluk Islam. Seperti kita tahu, kekerabatan Karo cukup kuat meskipun berbeda agama,” ujarnya. Dari penelusuran KORAN SINDO MEDAN, untuk perkuburan etnis Toba yang pertama kali di Kota Medan berada di kawasan Jalan Pancing tak jauh dari Jalan Pasar Tiga, Medan Timur.

Posisinya agak sedikit ke dalam. Sementara perkuburan kuno yang diyakini menjadi perkuburan masyarakat etnis India berada di Kampung Madras. Sejak meluasnya masyarakat di Medan mulai 1870, mayoritas penduduk Medan adalah orang Karo, Melayu, dan Eropa. Sejak tahun 1872 berdatangan kaum migran, seperti Tionghoa, India, dan Jawa.

Menurut Camat Medan Petisah, Rahmat Harahap, perkuburan itu tidak ada lagi. “Saya pernah dengar, perkuburan itu sudah dipindahkan karena pembangunan Kota Medan sejak 1870. Hingga kini tak ada lagi pertanda makam di sana. Saya pun tak tahu di mana letaknya,” katanya. Di Jalan Sei Deli juga terdapat kompleks perkuburan tua, yakni sebelum era perkebunan meluas ke Medan pada 1870. Pemakaman itu kini ada di kompleks Masjid Sei Deli. Di sana masih ada satu makam kuno yang memiliki nisan tapi tidak memiliki tulisan. Kota Medan juga memiliki perkuburan warga Jepang di kawasan Delitua.

Hampir semua tentara Jepang yang tewas di Medan sejak 1942 hingga 1946 dimakamkan di Delitua. Jika kita ke kawasan Deli Tua, perkuburan Jepang tersebut masih bisa disaksikan tak jauh dari Kecamatan Talun Kenas, tapi memang kondisinya kurang terawat. ● irwan siregar/ fakhrur rozi

Berita Lainnya...