Edisi 07-02-2016
Ikan Paus di Kali Surabaya


Lain lubuk lain ikan, lain ladang lain belalang. Kearifan lokal suatu daerah memang tidak bisa dipaksakan untuk diterapkan di daerah yang lain. Rantai tradisi yang telah lama ada tak bisa diputus begitu saja. Jika terjadi suatu pemaksaan, yang terjadi seperti melihat ikan paus berenang di Kalimas Surabaya.

Seorang kawan baru saja pulang dari Sidney, Australia. Orang tersebut bernama Dian, pengajar di salah satu lembaga kursus bahasa Inggris. Perempuan asli Batu itu pergi ke Negeri Kanguru untuk menjumpai calon mertuanya. Jumat (5/2), secara tak sengaja kami bertemu di salah satu kafe kawasan Gubeng.

Dian masih tetap saja dengan gayanya seperti masa kuliah di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga. Mengenakan kaus dibalut kemeja yang tidak dikancing, dia duduk sendirian di sudut ruang. Jari tangannya mengapit sebatang rokok keretek, di meja secangkir espreso double masih mengepul uapnya. “Heii ...ada acara apa kok tiba-tiba ngopi di kafe?” sapanya saat saya duduk di depannya.

Kami memang sama-sama lebih suka nongkrong di warung langganan kawasan Karangmenjangan. Di warung itu, Dian lebih merasa nyaman karena kebiasaannya merokok tidak menarik perhatian pengunjung warung yang lain. Selain di warung itu, Dian akhirnya lebih memilih kafe untuk nongkrong menikmati kopi dan rokok seperti yang dilakukannya Jumat siang itu.

“Aku berangkat kerja, pengen ngopi, makanya mampir dulu sebentar,” kata Dian yang kantornya berada di Jalan Kayoon. Di kesempatan itu, dia bercerita baru saja pulang dari Australia akhir Januari 2016. “Baru datang, itu langsung ditawari white or red wine, wah...aku yo langsung milih red hehehehe ,” dia cengengesan karena dapat suguhan wine gratis.

Padahal, biasanya semasa kuliah dulu, kalau ingin menikmati minuman alkohol berkelas, Dian harus urunan dulu bersama teman-teman penyuka wine. “Rasanya itu kaya nawari kopi apa teh di sini,” lanjutnya. Kami sama-sama sepakat hal itu memang wajar dilakukan di negara dengan suhu dingin.

Karena itu pula, kami akhirnya terseret pada obrolan tentang kebiasaan minum minuman beralkohol di Surabaya yang panas. “Lha yo , tidak seperti di sini, panaspanas malah pesta miras. Parah lagi yang diminum cukrik,” kata perempuan berusia 30 tahun itu. Terkadang, bahkan sering, kita memaksakan sesuatu untuk dilakukan karena hasil ketidakmampuan memilah suatu tindak masyarakat Barat.

Media memiliki peranan yang luar biasa dalam mentransformasikan kultur itu ke lintas daerah. Masyarakat sering tidak bisa memilah baik dan buruk (tidak dalam konteks benar dan salah karena masing-masing pribadi pasti memiliki kedewasaan pengetahuan yang menjadi idealismenya).

“Makanya saat di sana itu ya beda rasanya minum wine dibanding di sini. Aku tiba-tiba merasa konyol saat ingat minum wine dalam cuaca Surabaya yang sumuk ,” Dian menertawakan dirinya sendiri. Begitu juga saat pergi ke pantai bersama tunangannya, Dian merasa sebagai orang aneh. “Itu sama seperti saat di pantai. Aku itu pakai baju tebal karena memang cuacanya sangat dingin.

Begitu tiba di pantai, lha kok orang-orang itu semuanya memakai bikini,” lanjutnya. Tak terasa, Dian sudah harus melanjutkan aktivitasnya, begitu juga saya. Sekitar dua jam ngobrol , kami pun sama-sama meninggalkan kafe. Meninggalkan kebiasaan nongkrong yang biasa dilakukan masyarakat Surabaya, tak peduli kelas ekonomi atas maupun menengah ke bawah. Sering kali memang kita ini ingin meniru.

Kita sering tak peduli yang ingin ditiru itu baik atau buruk. Kita sering tidak sadar jika kondisi yang sudah ada adalah terbaik. Identitas kota dan masyarakat memang tidak mungkin steril dari pengaruh luar. Namun, jika kesadaran kolektif itu terjaga dengan kualitas wawasan yang baik, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Misal saja pro-kontra peredaran minuman beralkohol di toko atau minimarket. Kesadaran itu memang seharusnya dibangkitkan, bukan dipaksakan. Tetapi, menciptakan dunia ideal tidak semudah membalik telapak tangan.

Kesadaran Masyarakat

Teori kesadaran menurut Carl Gustav Jung terdiri dari tiga sistem yang saling berhubungan, yaitu kesadaran atau biasa disebut ego, ketidaksadaran pribadi (personal unconsciousness ) dan ketidaksadaran kolektif (collective unconscious ). Ego merupakan jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran, dan perasaan sadar.

Ego seseorang adalah gugusan tingkah laku yang umumnya dimiliki dan ditampilkan secara sadar oleh orang-orang dalam suatu masyarakat. Ego merupakan bagian manusia yang membuat ia sadar pada dirinya. Sedangkan, personal unconsciousi merupakan wilayah yang berdekatan dengan ego.

Terdiri dari pengalamanpengalaman yang pernah disadari tetapi dilupakan dan diabaikan dengan cara repression atau suppression . Pengalaman-pengalaman yang kesannya lemah juga disimpan ke personal unconscious. Penekanan kenangan pahit ke dalam personal unconscious dapat dilakukan diri sendiri secara mekanik, bisa juga karena desakan dari pihak luar yang kuat dan lebih berkuasa.

Lalu, collective unconscious merupakan gudang bekas ingatan yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang yang tidak hanya meliputi sejarah ras manusia sebagai sebuah spesies tersendiri, tetapi juga leluhur pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya.

Collective unconscious terdiri dari beberapa archetype , yang merupakan ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kultur tidak lahir dalam hitung waktu yang singkat. Semua butuh proses dan kearifan. Bukan sekadar benar dan salah, karena keduanya pun ada dengan penjelasan panjang dan tidak semena-mena. Setiap kita berhak menilai tapi tidak berhak menghakimi.

Zaki zubaidi

Berita Lainnya...