Edisi 07-02-2016
Konsumsi Pangan Hewani Masyarakat Rendah


SURABAYA – Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia mengatakan konsumsi pangan hewani masyarakat di Indonesia masih dinilai di bawah rata-rata konsumsi pangan hewani masyarakat ASEAN.

“Kebiasaan mengonsumsi beragam makanan bergizi masih rendah, khususnya konsumsi buah, sayur, dan pangan hewani seperti ikan, telur, daging, dan susu,” kata Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Hardinsyah dalam seminar gizi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya kemarin. Menurut dia, Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai persoalan gizi yang mengakibatkan badan kecil atau kurus, pendek, gemuk hingga obesitas, serta anemia pada usia balita maupun usia sekolah dan remaja.

“Data ini diperkuat oleh laporan Survei Diet Total 2015 yang menunjukkan bahwa ratarata konsumsi sayur dan buah penduduk Indonesia hanya mencapai 57,1 gram dan 33,5 gram per orang per hari,” paparnya. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, terlihat bahwa 93,5% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun berperilaku konsumsi sayur dan buah yang kurang.

Hanya 6,5% penduduk yang sudah cukup mengonsumsi sayur dan buah. “Jawa Timur sendiri mencatat prevalensi penduduk berusia kurang lebih 10 tahun yang berperilaku kurang konsumsi sayur dan buah mencapai 95,4%, naik dari prevalensi 2007 sebesar 90,7% dan lebih tinggi dari prevalensi nasional,” tuturnya.

Karena itu, pihaknya berupaya memberikan edukasi untuk turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang juga menyosialisasikan pesan-pesan gizi kepada masyarakat luas. Di sisi lain, Corporate Affairs Head Sarihusada Arif Mujahidin pun berupaya mendukung penyebarluasan pengetahuan mengenai gizi kepada masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional 2016 tersebut terdiri dari berbagai aktivitas karena masyarakat memiliki peran penting bagi peningkatan kesadaran akan gizi seimbang. “Rangkaian kegiatan peringatan Hari Gizi Nasional 2016 oleh Pergizi Pangan Indonesia dan Sarihusada, terdiri dari kegiatan edukasi gizi yang mencakup edukasi gizi melalui konsultasi gizi dan permainan gizi, workshop memasak makanan sehat, serta aneka hiburan,” tandasnya.

Kasubag Penyusunan Program Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim Edy Purwanto Tertiyus menuturkan ketahanan pangan masyarakat bisa tercapai jika ada aspek ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan dan stabilitas pangan mampu terpenuhi.

Pemerintah Jatim pun terus berupaya untuk menggenjot program-program ketersediaan pangan pertanian, perkebunan dan perikanan selama ini menjadi sumber utama pemenuhan nutrisi penting bagi masyarakat. “Kami juga ingin menekan dan memberantas kasus gizi buruk di Jatim khususnya yang masihadadikotabesar. Parahnyakadang orang dengan tingkat ekonomi yang lebih baik pun tetapi kesadaran untuk pemenuhan nutrisi juga rendah,” ungkapnya.

Mamik wijayanti

Berita Lainnya...