Edisi 07-02-2016
Pencari Rumput Tewas Tertimpa Tebing Tujuh Meter


TRENGGALEK – Insiden longsor tebing batu setinggi tujuh meter di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, menewaskan seorang pencari rumput. Runtuhan bongkahan cadas mengakibatkan nyawa Wakijan, 70 warga Dusun Krecek RT 35/10, Desa Watuagung melayang seketika.

“Korban meninggal dunia karena tertimpa batu yang ambrol,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Trenggalek Joko Rusianto kemarin. Musibah terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Tidak ada hujan dan angin, namun salah satu tebing di antara gugusan batu yang menjulang tinggi itu mendadak ambrol.

Menurut Joko, runtuhan batu yang bercampur material tanah tidak sampai mengubur tubuh korban. Korban tewas akibat bongkahan batu menimpa kepala. Proses evakuasi hingga ke rumah duka kata Joko rampung sekitar pukul 12.00 WIB. “Korban langsung dimakamkan. Pemkab melalui BPBD juga memberi santunan,” terangnya.

Wakijan diketahui berkebiasaan mengumpulkan rumput pakan ternak yang meliar di kaki perbukitan. Banyak warga yang tidak menyangka bakal terjadi longsor mengingat hujan tidak mengguyur. Longsor diduga akibat kondisi tanah di sekitar lokasi yang sudah labil. Guyuran hujan lebat diselingi panas yang menyengat diduga menjadi salah satu faktor penyebab.

Joko menegaskan bahwa lokasi bencana berjarak cukup jauh dari jalan raya dan permukiman warga. Karenanya tidak ada material yang berserakan apalagi hingga menutup jalan raya. “Musibah ini tidak sampai mengganggu akses jalan menuju Watulimo,” jelasnya. Joko mengatakan bahwa titik rawan longsor dan banjir bandang di wilayah Kecamatan Watulimo teridentifikasi merata.

Selain di Watulimo, longsor juga mengintai wilayah Kecamatan Tugu yang berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo. Bahkan hari ini, kata Joko BPBD dan dinas PU baru saja kelar membersihkan material longsor yang sempat menutup akses jalan provinsi jurusan Trenggalek-Ponorogo. “Meski di sejumlah titik rawan bencana sudah terpasang alat deteksi dini bencana alam, kita bersosialisasi ke masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di musim penghujan ini,” pungkasnya.

Faktul Hadi salah seorang aktivis Kabupaten Trenggalek mengatakan bahwa bencana alam yang berlangsung rutin di musim penghujan menjadi PR bagi pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih. Menurut dia pemerintahan baru di Trenggalek hendaknya mampu memberi terobosan atas penanganan bencana. “Sebab musibah alam ini telah menjadi langganan bagi warga Trenggalek. Karenanya perlu ada solusi untuk mengatasi hal ini,” ujarnya.

Solichan arif

Berita Lainnya...