Edisi 07-02-2016
Arsitek yang Melahirkan Banyak Karya Tulis


Nama Bhakti Alamsyah sering menghiasi media massa sebagai pengamat transportasi maupun pengamat tata kota di Medan. Hal ini seiring dengan konsentrasi pendidikan lelaki kelahiran Bandung, 29 Oktober 1964, ini yang menyelesaikan studi mulai dari sarjana hingga Doktor di bidang arsitektur. Baginya, menjadi seorang arsitek bukan hal mudah. Arsitek sejati harus mampu menghadirkan kepuasan publik dalam setiap karya yang dihasilkan. Doktor dari University Sains Malaysia ini tertarik terhadap arsitektur sejak berusia kecil.

Sang ayah, almarhum Akhir Saleh Sutan Alamsyah yang merupakan polisi, sangat menyukai seni seperti melukis. Darah seni mengalir dalam tubuh anak ketiga dari lima bersaudara ini membuatnya konsen menjadi seorang arsitek hingga saat ini.

“Kita harus mampu menerjemahkan dalam desain apa kemauan publik. Kalau kita tidak bisa melakukan hal itu berarti kita gagal menjadi arsitek,” ujar Pembantu Rektor (PR) Bidang Akademik Universitas Pembangunan Pancabudi yang juga Ketua Bidang Pembangunan dan Pemerintahan Dewan Riset Kota Medan ini. Lebih lanjut suami Trisni Hindayani ini mengungkapkan, seorang arsitek bisa saja memiliki ego ingin membuat desain bangunan sesuai keinginannya.

Namun, kalau bangunan itu tidak bisa membuat publik merasa nyaman di dalamnya, inilah disebut dengan kegagalan bagi arsitek. Apalagi menurut Ketua Bidang Infrastruktur dan Prasarana Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia Daerah Sumut ini, sangat tidak etis kalau ada arsitek menjiplak desain bangunan dari arsitek lainnya. Sebab seorang arsitek harus menghargai hak cipta.

“Saya akan menolak jika ada orang yang meminta membuat desain bangunan seperti desain yang pernah dibuat arsitek lainnya atau mengambil alih proyek pembangunan arsitek lainnya,” kata Sekretaris Umum Ikatan Arsitek Indonesia yang menyukai memancing dan bersepeda ini. Bhakti mengaku banyak memberikan masukan terhadap perancangan taman Resort Simalem, juga perancangan taman Bandara Kualanamu.

Saat ini sebagai wakil ketua di Lembaga Konsorsium Melayu Bersatu, Bhakti sedang mendesain rancangan bangunan The Raj Malay Tower setinggi 21 meter yang akan dibangun di kawasan Jalan Brigjen Katamso dan diharapkan menjadi ikon baru bagi Kota Medan nanti. Bangunan high risk buildingini ditarget selesai 2020 dan dapat menjadi pusat budaya, pusat bisnis, apartemen, dan kantor. Tidak hanya itu, Wakil Ketua 2 Bidang Pengembangan Kurikulum Forum Program Studi Arsitektur Lansekap Indonesia Pusat ini juga memiliki banyak asam garam di bidang arsitektur, baik menjadi seorang dosen, peneliti, hingga konsultan.

Bhakti juga telah melahirkan beberapa karya tulisan berupa buku seperti Matinya Para Dewa, “Kajian Arsitektur Karo”, Arsitektur Mesir 5.000- 30 SM, penulisan buku bersama Prof Julaihi Wahid, yakni Arsitektur dan Sosial Budaya Sumut, Perkembangan dan Pelestarian Arsitektur Kolonial di Medan Sumut, Teori Arsitektur, suatu Kajian Perbedaan Pemahaman Teori Barat dan Timur juga Tipologi Arsitektur Rumah Adat Nias Selatan dan Rumah Adat Nias utara.

Di sisi lain, alumni Institut Teknologi Medan dan Institut Teknologi Sepuluh November ini juga pernah menjadi pembicara Seminar Pembangunan Indonesia di Kuala Lumpur, Simposium Jelajah Arsitektur Nusantara 2002 di Malang, Seminar Nasional Urban Design Square & Bazaar di Semarang, International Seminar On Green Architecture & Environment: Toward Green Compact Cities di Makassar, dan International Conference on Built Environment and Developing Cities HBP Universiti Sains Malaysia di Pulau Penang. “Pengalaman yang pernah saya peroleh selama inilah menjadi bahan untuk sharing kepada mahasiswa. Apa kendala yang saya hadapi, kita sharingagar mereka bisa lebih baik ke depan,” ujar Bhakti yang saat ini tengah mengajukan diri sebagai guru besar di Universitas Pancabudi. ●

LIA ANGGIA NASUTION - Medan

Berita Lainnya...