Edisi 07-02-2016
Desa Endemik DBD diPekalongan Bertambah


KAJEN - Jumlah desa endemik demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pekalongan bertambah. Dari semula hanya 29 desa pada 2014 bertambah menjadi 42 desa pada tahun lalu.

“Sehingga ada peningkatan sebanyak 13 desa endemik DBD di tahun 2015,” kata Kasi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Sudaryanto kemarin. Pertambahan jumlah desa endemik DBD ini juga berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah penderita penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes aegypti ini.

Selama Januari 2016, jumlah penderita DBD tercatat sebanyak 31 kasus. “Sedangkan dibandingkan 2015 pada bulan yang sama, kasus DBD hanya 19 kasus,” ujarnya. Serangan nyamuk Aedes aegypti paling banyak ditemukan di Kecamatan Kajen, dengan jumlah penderita DBD sebanyak 10 orang.

Sementara peringkat kedua, Kecamatan Sragi dengan enam orang penderita, dan Kecamatan Kedungwuni lima orang penderita demam berdarah. “Peningkatan penderita DBD itu hampir dua kali lipat, jika dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya,” ucapnya. Dinas Kesehatan meminta masyarakat segera membawa pasien ke pelayanan kesehatan terdekat, jika mengalami gejala DBD agar cepat tertangani.

“Kalau tidak segera ditangani, pasien bisa meninggal. Sebab, kasus meninggalnya pasien DBD, cenderung karena keluarga pasien belum mengetahui tanda- tandanya,” kata Sudaryanto. Januari 2015 terdapat empat kasus DBD menyebabkan pasien meninggal dunia. Beruntung hingga bulan kedua tahun ini tidak ada kasus serupa.

Salah seorang warga Desa Pakis Putih, Kecamatan Kedungwuni, Pekalongan, Feni, 25, terlihat sedang berada di ruang Flamboyan RSUD Kajen menjaga anaknya, Revanta Septian, 2,5, yang terkena DBD. “Sudah sekitar 5 hari, anak saya masuk rumah sakit. Ini sudah mendingan.

Sekarang hanya tinggal lemasnya saja,” katanya. Kasi Pelayanan Medis RSUD Kajen Dwi Harto mengatakan, pada Desember 2015 hanya enam orang penderita. “Sedangkan Januari 2016, sudah sampai 44 orang. Hingga Jumat kemarin, jumlah pasien yang masih dirawat ada 14 orang pasien, yakni 8 pasien anak dan 6 orang pasien dewasa,” papar Casuun.

Prahayuda febrianto

Berita Lainnya...