Edisi 07-02-2016
Ibu Sakit Ginjal, Eko Jajakan Camilan Usai Sekolah


Eko Adi Prasetyo, siswa kelas 2 SD AB Pedurungan Tengah 02 Semarang harus menjadi menggantikan ibunya menjual jajanan yang sakit. Kemarin saat sinar mentari mulai menyengat, Eko terlihat berada di pagar depan kamar kos tempat dia, ibu dan seorang adiknya tinggal.

Saat KORAN SINDO berkunjung, Eko baru pulang sekolah. Dia segera masuk ke salah satu kamar, di Pedurungan Tengah, Kota Semarang, atau samping Perumahan Ganesha. Tak lama kemudian, keluar ibunya. “Silakan masuk Mas,” kata perempuan yang mengenalkan diri bernama Dewi.

Dewi bercerita, anaknya berjualan makroni, rengginang, selondok, dan camilan lainnya sejak dua bulan terakhir. Setiap berjualan biasanya mendapat Rp25.000, terkadang lebih, ketika ada pemberian dari orang. Seminggu bisa tiga kali jualan, terkadang hanya sekali, usai pulang dari sekolah. “Disesuaikan kapan saya bisa menggoreng atau tidak, karena kaki saya tidak bisa digerakkan dan punggung sakit.

Kata dokter batu ginjal, tapi belum pernah dilaser, hanya dirawat di RSUD Ketileng lewat jalur umum, setelah dibiayai orang,” katanya. Eko pun tak bisa menahan keinginannya untuk membantu orang tuanya karena khawatir tidak bisa makan. “Kalau saya yang jualan bagaimana?,” tanya Eko, ditirukan ibunya.

“Saya hanya diam,” ujar Dewi. Beberapa hari kemudian, Eko mendapat restu dari ibunya. Dengan menaiki sepeda kecil dan kardus di depan setang, bocah itu mulai menjajakan dagangannya. Keuntungannya berjualan bisa membeli beras jatah 5 kg. Kondisi ekonomi keluarga Eko memburuk sejak usia 1,5 tahun.

Mereka sudah ditinggal mati sang kepala keluarga karena kecelakaan. Meski tempat kos bertarif Rp300.000/bulan, kadang mereka tidak bisa membayar hingga tiga bulan. Selain untuk tidur, ruangan 2,5 m x 3 m itu juga dijadikan warung, yang menjual sampo sachet , bumbu masak, bumbu dapur, lotion antinyamuk, dan barang lainnya.

Perjalanan hidup bocah malang itu diketahui tak sengaja oleh warga Semarang, Ika Yulianti, usai pulang dari kantor. Ika kemudian meminta anak tersebut mengantarkan ke rumahnya. Setelah mengetahui kondisi keluarga anak itu, kemudian dia menulis catatan di dinding akun facebook-nya.

Postingan itu kemudian dishare kembali oleh Ris Hertanto, pegawai PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, dan Koordinator Panser Batman, suporter fanatik PSIS. Kisahnya kemudian mengundang kebaikan hati seorang dermawan. Lewat koran ini, dia ingin menyalurkan bantuan dari dirinya dan teman-temannya pada keluarga kecil itu.

“Saya di Balikpapan, tidak usah menelepon, mumpung masih punya duit. Saya ikhlas deh,” kata pemberi donasi itu. Menerima bantuan tersebut, Dewi, sangat terharu. Kedua matanya pun terlihat berkaca-kaca. “Semoga yang membantu kami diberi kelancaran rezeki dan dijaga kesehatannya. Saya tidak bisa ngomong apa-apa, terima kasih banyak,” ucapnya.

ARIF PURNIAWAN
Kota Semarang

Berita Lainnya...