Edisi 07-02-2016
Kerja Keras Buahkan Hasil


Bekerja keraslah untuk menjadi baik, dan bekerjalah lebih keras agar menjadi yang terbaik. Katakata bijak inilah yang muncul pada diri Dias Angga Putra. Dias merupakan pemain sepak bola Tanah Air yang kini membela tim Persib Bandung.

Namanya kian moncer seiring perkembangan kualitasnya dalam memainkan si kulit bundar. Namun hasil itu bagi Dias tidak didapatkan dengan mudah. Justru perlu perjuangan khusus untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Pemain kelahiran 6 Mei 1989 ini awalnya tidak berniat menjadi pesepak bola. Sepak bola baginya hanyalah hobi.

Buktinya saja, saat dimasukkan Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kota Bandung yakni Setia pada 2003-2004 silam, Dias sudah berusia 15 tahun. Lebih jauh ketimbang rekanrekan setimnya di SSB setia. “Awalnya minder. Karena saat bapak nyuruhikut di SSB, saya bisa dibilang paling tua. Karena selama ini hanya berlatih sendirian saja,” kenang Dias. Lambat laun, rasa minder yang menerpa Dias akhirnya runtuh juga. Alhasil, kesempatan Dias untuk menjadi pemain profesional kian terbuka.

Diawali saat berhasil lolos seleksi dan masuk tim Persib Bandung U-15. “Kalau minder terus pasti gak akan maju. Alhamdulillah dari 100 pemain yang seleksi akhirnya kepanggil juga di Persib U-15,” katanya. Pemain asli asal Kota Bandung ini pun tak menyangka bisa memperkuat Persib U-15 yang selama ini kerap diidolakannya dan menjadi mimpi indahnya sejak usia belia.

“Dulu di Sabuga kalau gak salah di usia 13 atau 14 ada Piala Wiranto antar-SSB. Saat itu saya belum masuk SSB. Di turnamen itu saya melihat pemain kayak Jajang Mulyana (kini pemain Mitra Kukar) dan pemain bintang lainnya. Dulu memang sudah kepikiran ingin seperti mereka,” kenangnya. Hanya saja, perjalanannya di Persib Bandung tidak semulus yang diperkirakan.

Dias memutuskan untuk hijrah dan magang di Pelita Jaya yang saat itu bermarkas di Sawangan, Depok. “Di Pelita Jaya hanya enam bulan. Setiap hari hanya melihat Lapangan. Ini awal mula Dias jauh dari orang tua dan kota kelahiran,” katanya. Pada musim 2007, Dias berkesempatan mentas di Divisi dua bersama PSKS Cilegon. Tahun berikutnya hijrah ke Palembang untuk berlaga di Divisi Satu.

“Kalau kangen orang tua sih pasti ada, tapi yahsaya tekadnya di sepak bola saja. Yang paling kehilangan itu ibu, karena beliau kan inginnya saya menyelesaikan pendidikan kuliah di Bandung,” tuturnya. Akhirnya rasa rindu itu pun tak tertahankan, Dias memutuskan untuk kembali ke Kota Kembang dan mulai sibuk dengan dunia pendidikan di PAAP Universitas Padjadjaran.

Lantaran kesibukannya bermain sepak bola, Dias tak sempat melanjutkan pendidikan. “Kuliah hanya sampai semester tiga, enggak selesai. Setelah itu Dias pengenkembali main sepak bola jadi ngeberaniinikut seleksi Persib U-21 yang pada tahun pertama masih dipegang oleh Indra Thohir,” ucapnya. Tekad kuatnya berhasil meloloskan dan memperkuat Persib U-21.

Bahkan Dias berhasil membawa tim Maung Ngoraitu juara Indonesia Supe League (ISL) U-21 pada musim 2009-2010. Keberhasilannya membawa berkah, Dias dipromosikan untuk menjadi skuat Persib Bandung. Namun bersama tim berjulukan Maung Bandung itu hanya bertahan satu musim, lalu memutuskan hijrah ke Persisam Putra Samarinda. “Karena di Persib saingan banyak, jadi saya harus ngambil sikap.

Saya pengen manggung dan pengen ngembanginlagi. Akhirnya pamitan ngomong lagi baik baik, dan bilang insyaallah Dias pergi juga untuk kembali,” ungkapnya. Dua musim memperkuat Persisam, Dias tak menampik penampilannya kian meningkat, seiring kerap dipercaya turun dalam laga. Begitu pula di musim berikutnya saat memperkuat Persipasi Bandung Raya yang kini berganti nama menjadi Madura United FC, Dias seolah tak pernah tergantikan menghuni daftar line-up Kendati begitu, Dias tak memungkiri, keinginan kembali ke Maung Bandung selalu ada.

Apalagi Persib adalah tim yang membesarkannya sejak awal. “Dua tahun merantau suka kangen sama bobotoh, tapinya profesional saja. Tapi enggak bisa bohong yahati kecil pengen kembali, salah satunya yah saya harus tujukan kalau ingin terpanggil lagi,” tegasnya. Sebelum kembali memperkuat Persib pada tahun 2015, Dias paham betul akan sulit mendapatkan posisi inti seperti di tim-tim sebelumnya.

Mengingat cukup banyak pemain Persib di posisi Bek sayap. Sebut saja Supardi Nasir dan Tony Sucipto bahkan ada pula Jajang Sukmara. “Ada tim besar juga yang mau selain Persib, sudah telepon sudah nego tapi di luar Kota Bandung. Tapi setelah berdoa meminta tim yang dekat dengan keluarga Alhamdulilah ada jawaban. Dias mendapat telepon dari Persib,” kenangnya.

Ternyata keputusannya memilih kembali ke Maung Bandung tidak salah. Di bawah asuhan pelatih Djadjang Nurdjaman, Dias bisa mendapatkan pelajaran berharga. Kini Dias bisa diturunkan di dua posisi, yakni bek kanan dan kiri, seusai pelatih mempercayakan Dias mengisi posisi bek kanan.

Tepatnya, kala Supardi Nasir absen dalam laga di ISL 2015 alias QNB League 2015 yang dihentikan ditengah jalan. “Ya walaupun di ISL sama AFC enggak, tapi di Piala Presiden saya bisa bawa juara. Yang paling bahagia itu waktu konvoi juara, akhirnya saya bisa merasakan juga. Kan sebelumnya waktu ISL 2014 saya cuma melihat saja waktu Persib juara,” pungkasnya.

MUHAMMAD GINANJAR
Kota Bandung

Berita Lainnya...