Edisi 07-02-2016
Berbagi Harapan di Tahun Kera Api


YOGYAKARTA – Puluhan war ga etnis Tionghoa menggelar doa bersama di Kelenteng Tjen Lin Kiong atau Kelenteng Poncowinatan kemarin. Ke gi - at an sembahyang bersama me - ru pakan agenda rutin yang di - gelar Kelenteng Poncowinatan se tiap dua hari menjelang Im - lek.

Prosesi sembahyang ber sa - ma di Kelenteng Poncowinatan di mulai pukul 11.15 WIB. War - ga etnis Tionghoa menjalankan pro se si sembahyang dengan khidmat dipimpin Wenshi atau pen de ta muda Adjie Chandra. Se te lah prosesi sembahyang, dilanjutkan dengan potong tum peng dan makan bersama. Adjie yang rutin memimpin sembahyang bersama di Ke len - teng Poncowinatan menga ta - kan, sembahyang bersama yang dilakukan kali ini memiliki dua makna, yakni sebagai ucap syukur pada Tuhan karena sampai sekarang masih menjalani tahun kambing dengan baik.

Selain itu, sembahyang ber - sa ma sebagai harapan agar se - lu ruh warga kelenteng dan warga Yogyakarta umumnya bisa me lewati kehidupan yang lebih baik di tahun kera api. “Se ka - rang masih tahun kambing, ta - pi setelah Senin (8/1) sudah ma suk tahun baru, yakni kera api,” kata dia.

Namun, kata Adjie, tahun baru bukan hanya hidup saja yang baru, melainkan hati dan semangat juga harus baru. “Tahun baru bukan pakaiannya yang baru, rumah ataupun la innya, tetapi semangatnya yang harus baru,” katanya. Disinggung soal tahun kera api, Adjie yang bernama Tiong - hoa Go Djien Tjoan ini menga - takan, tahun ini memiliki arti khu sus.

Sebab, kera merupakan hewan paling pandai di antara 12 hewan dalam kalender Chi - na. Sedangkan, api melambang - kan kobaran semangat yang meng gebu. Dengan begitu, kata dia, pada 2016 diharapkan akan mun cul pemimpin-pemimpin yang cerdik dengan semangat meng gebu untuk membawa In - do nesia menjadi lebih baik. “Di Tionghoa, kera api disimbolkan lewat kera sakti, sedangkan da - lam pewayangan ada Hanoman pu tih melambangkan kesucian.

Di beberapa daerah, Sun Go Kong disandingkan dengan Ha - noman,” ucapnya. Dia menambahkan, umat yang mengikuti prosesi sem bah - yang hampir tidak berubah ratarata berusia lanjut. Ia me nyebut ini terjadi tak lepas dari ma - cetnya regenerasi semasa Or de Baru. “Dulu semuanya ti dak bo - leh, jadi regenerasinya man dek. Sa at diperbolehkan, semua su - dah telanjur,” tambahnya.

Gutama Fantoni, mewakili Pembina Kelenteng Ponco wi - na tan Anwar Santoso, menga - ta kan, ada unsur atau kelompok yang mendukung keberadaan ke lenteng, yakni Anwar San to - so, Makin atau Majelis Agama Kong hucu Indonesia, Tao, Chan dra Gunawan, dan Jogja Chi nese Art and Culture Centre (JCACC).

Sodik

Berita Lainnya...