Edisi 07-02-2016
Taurat XIV


Rahasia ketauhidan termaktub pada lempengan keenam dalam kitab suci Taurat. Pada tema ini, umat Nabi Musa ditunjukkan berbagai jalan keilahian yang tersambung dengan Allah SWT.

Tentu saja yang dimaksud “jalan” di sini tidak terutama terhubung dengan rute dan denah secara geografis. Tetapi, lebih tertuju pada bagaimana orang-orang beriman gigih memproses diri untuk menemukan hadirat-Nya pada segala sesuatu. Hakikat dari rahasia ketauhidan bersemayam di balik segala keanekaragaman makhluk-makhluk-Nya.

Diciptakanlah semua makhluk dengan berbagai macam warna dan rupa yang tidak terhitung kemampuan statistik manusia. Hanya Allah SWT yang sanggup menggenggam semuanya. Betapa tidak, bukankah seluruh partikel semesta menghablur dari-Nya dan sedang bergegas menuju kepada-Nya?

Pada segala keanekaragaman makhluk pastilah terdapat stempel keagungan-Nya yang sangat misterius, yang hanya bisa dideteksi oleh ketajaman mata batin (bashirah ) orang-orang makrifat. Itulah sebabnya, dengan penuh kepastian dan gemuruh cinta, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) berdendang dengan baris puisinya, “Antara segala sesuatu dengan Sang Kekasih ada tali penghubung. Tapi tali itu, oh paman, sungguh sangat tersembunyi .”

Sudah dapat dipastikan bahwa rahasia ketauhidan terletak pada tali yang tersembunyi itu. Siapa yang telah menyaksikan dan merasakan adanya tali transendental tersebut pada apa atau siapa saja, termasuk dirinya sendiri, setidaknya dia akan dianugerahi tiga potensi spiritual. Pertama , kesadaran ruhani yang utuh tentang asal-usul dan akhir kesudahan bagi segala sesuatu.

Dengan adanya kesadaran ini, orang berarti mengalami makrifat terhadap Allah al-Awwal sekaligus Allah al-Akhir . Allah sebagai sumber sekaligus Allah sebagai muara. Dua nama yang disandang hadirat-Nya itu seolah berseberangan yang tidak mungkin untuk dikonvergensikan. Padahal, sama sekali tidak.

Bukankah Allah SWT yang mengenakan dua nama itu tunggal adanya? Awalnya Allah sepenuhnya tidak bersemayam di masa silam. Sebagaimana akhirnya Allah mutlak tidak bertakhta di masa depan. Kemahabesaran- Nya melampaui dan menekuk seluruh waktu. Allah SWT menyandang nama al-Awwal karena merupakan awal mula dari munculnya segala sesuatu.

Lalu, disebut al-Akhir karena kepada- Nyalah seluruh yang ada akan kembali. Awalnya Allah adalah akhir-Nya, sebagaimana akhirnya Allah adalah awal- Nya jua. Baik disebut awal maupun disebut akhir, itu sepenuhnya karena berkaitan dengan makhluk-makhluk- Nya semata. Ketika seorang sufi telah sempurna menyelami kedua nama itu, dia pun akan dianugerahi kesanggupan untuk menggenggam waktu.

Saat itulah awal dan akhir menjadi satu dan padu, di mana masa silam dan masa depan, meski sampai membentang hingga miliaran tahun, ditekuk menjadi sepenuhnya bertumpu pada titik kekinian. Kedua , kesadaran ruhani yang penuh tentang satu-satunya tujuan hidup.

Orang yang sampai pada maqam spiritual ini tidak saja akan menyaksikan hidupnya sendiri yang senantiasa mengalir kepada Allah SWT, tetapi juga dengan penuh kesadaran dia akan merasakan seluruh yang ada sesungguhnya sedang bergegas menuju kepada hadirat-Nya pula.

Siapa pun yang tujuan hidupnya hanyalah Allah SWT semata, dia akan menjadikan hidup dan matinya, gerak dan diamnya, tidur dan jaganya, keputusan dan tindakannya, semuanya bernilai hadirat- Nya. Alasannya pasti bahwa hanya ketika mendapatkan rekomendasi dari Allah, suatu perbuatan dapat dikatakan mempunyai nilai kemuliaan.

Rekomendasi transendental itu bukan hanya kita harapkan dengan cara berpangku tangan, tapi semestinya dengan gigih kita songsong melalui berbagai macam amalan yang tentu saja harus korelatif dengan ajaran-ajaran Allah SWT yang implementasinya sebagian besar sudah diteladankan Rasulullah SAW.

Ketiga , kesadaran ruhani yang maksimal dalam bergaul dengan relasi-relasi horizontal dengan penuh belas kasih dan penghormatan. Dalam konteks ini, nilai-nilai keilahian itu tidak saja dikandung ibadahibadah mahdhah yang secara spesifik langsung difokuskan kepada hadirat-Nya.

Akan tetapi, juga mengacu pada setiap tindakan dalam konteks sosial yang didasarkan kepada perintah-perintah-Nya dan meluncur dari ketulusan hati yang penuh pengharapan terhadap rahmat dan cinta-Nya. Dengan demikian, baik relasi vertikal maupun relasi horizontal sama-sama bernuansa transendental.

Untuk orang-orang yang sampai pada kedudukan ruhani inilah, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa seluruh hamparan bumi ini sebenarnya adalah masjid. Artinya, di manapun mereka berada di dunia ini, yang senantiasa berlangsung pada diri mereka adalah terjadinya peristiwa sujud secara hakiki, yakni mereka senantiasa bersimpuh dan tenggelam di lautan kemahaan-Nya. Wallahu a’lamu bish-shawab .

KUSWAIDI SYAFIIE
Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi,
Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Berita Lainnya...