Edisi 11-02-2016
Super Tucano Jatuh TNI Harus Audit Total


JAKARTA – Insiden jatuhnya pesawat Embraer EMB 314 Super Tucano milik TNI Angkatan Udara (AU) di Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim), kemarin, menimbulkan pertanyaan besar. Pasalnya, pesawat tempur taktis itu relatif baru, mulai beroperasi 2012.

Sebelumnya TNI AU juga kehilangan pesawat Golden Eagle T 50 yang jatuh di Yogyakarta pada Desember tahun lalu. Dalam dua insiden tersebut, empat personel TNI menjadi korban. Karena itulah sejumlah anggota Komisi I DPR menuntut adanya investigasi untuk mengetahui mengapa pesawat baru milik TNI bisa jatuh.

Tuntutan ini di antaranya disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin dan Meutya Hafid. “Pesawat sangat baru, makanya harus dilakukan investigasi detail. Selesai dilaksanakan investigasi, kita akan undang dan diskusikan ada apa sebenarnya. Sebanyak USD143 juta, Indonesia bayar 8 unit pesawatkan cukup mahal juga,” ujar TB Hasanuddin di Gedung DPR Jakarta kemarin.

Adapun Meutya Hafid meminta adanya audit pesawat Super Tucano untuk mengetahui apakah ada kelemahan teknis di pesawat tipe ini. Dia sependapat audit dilakukan secara menyeluruh dan terbuka. “Kita akan mendukung dan menunggu hasil penyelidikan TNI AU. Tidak akan mendahului penyelidikan, tapi tolong agar (dilakukan) audit yang menyeluruh dan terbuka,” ungkapnya.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu juga mendorong adanya investigasi penyebab kecelakaan. Menurut dia, audit diperlukan untuk mengetahui apakah insiden tersebut disebabkan faktor mesin, orang atau cuaca. Dia berharap investigasi bisa diselesaikan dalam tempo dua atau tiga bulan ke depan. “Investigasi tidak bisa buru-buru, kita meminta tim investigasi menyelesaikan tugasnya. Pesawat jenis itu kan tidak terlalu rumit,” katanya.

Mantan KSAD itu mengakui pesawat Super Tucano yang jatuh di Malang, kemarin, merupakan pesawat jenis baru dan belum lama dioperasikan TNI AU. Ketika ditanya apakah pemerintah akan menghentikan operasi pesawat jenis itu, Menhan mengatakan tergantung hasil investigasinya. “Kita lihat dulu penyebabnya, kalau karena mesin ya digrounded. Kalau orang, ya orangnya diperbaiki,” katanya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan pesawat tempur itu mengalami kecelakaan saat tes terbang sekitar pukul 10.30 WIB. Dalam tes terbang tersebut terdapat seorang mekanik yang turut terbang untuk mengetahui kondisi mesin. Hanya dia belum memastikan apakah jatuhnya pesawat buatan Brasil tersebut akibat faktor teknis. “Saat ini sedang diselidiki keterangan lain, saya tidak bisa menyampaikan,” katanya.

Sementara itu Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriyatna mengungkapkan insiden Super Tucano terjadi saat baru saja dilakukan perawatan rutin tiap mencapai 300 jam penerbangan. Menurut dia, tiap selesai perawatan selalu ada cek performa dan hal itu yang dilakukan Mayor Ivy saat terbang kemarin.

“Selasa kemarin (9/2) sudah dicek dan Rabu ini tes flight. Semua kemampuan pesawat termasuk akrobatik juga dites di udara,” jelasnya. Mengapa pesawat jatuh, KSAU belum memastikan. Dia menandaskan, saat ini timidentifikasi masih berusaha mengangkat badan pesawat yang masih terkubur di dalam tanah dan mencari video recorder untuk mengevaluasi penyebab pasti jatuhnya pesawat itu.

KSAU lantas menuturkan, Mayor Ivy sempat calling atau memberikan laporan ke landasan pusat Lanud Abd Saleh. Calling itu dilakukan saat mencapai ketinggian 25.000 kaki dan 15.000 kaki. Namun saat mencapai ketinggian 8.000 kaki, tidak ada calling atau hilang kontak dan dikabarkan pesawat jatuh. “Saat dive angle 30 derajat untuk mencapai kecepatan 320 knot, harusnya pilot akan calling ke landasan, namun sudah hilang kontak. Video recorder juga sedang kami upayakan segera ditemukan dan diidentifikasi apa masalahnya hingga menyebabkan jatuh,” tuturnya.

Untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan, KSAU membentuk tim khusus yang beranggotakan 9 orang. Tim dipimpin langsung Kepala Dinas Keselamatan Penerbangan dan Kerja (Kadislambangja) TNI AU, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Chairil Anwar. “Tim terus bekerja dan belum bisa dipastikan sampai kapan waktunya,” tegas Agus.

Akibat kejadian tersebut, kemarin langsung KSAU melarang pesawat Super Tucano lain untuk tes flight demi keselamatan hingga semua masalah ditemukan. “Semua penerbangan kami stop dulu sesuai prosedur, sampai masalah pesawat jatuh itu terungkap sehingga tidak akan terjadi lagi,” katanya.

Untuk diketahui, pesawat Super Tucano digunakan TNI AU untuk fungsi serang gerilya menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang sudah dipensiunkan. Total pesawat yang dibeli TNI AU sebanyak 16 unit atau 1 skuadron. EMB-314 Super Tucano merupakan pengembangan dari EMB-312 Tucano yang telah terjual 650 unit untuk 15 negara dengan Brasil sebagai pemakai utama memiliki 130 unit.

Menukik ke Permukiman Padat Penduduk

Pesawat Super Tucano yang bermarkas di Skuadron Udara 21, Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Abdulrachman Saleh Malang jatuh dan menimpa permukiman padat penduduk di Jalan Laksda Adi Sucipto XII, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, sekitar pukul10.07.

Pesawat jatuh menukik menimpa rumah Mujianto. Nahas, di dalam rumah tersebut terdapat istri Mujianto, Erna Wahyuningtyas, 47, dan anak kos, Nurcholis, 27, warga Kabupaten Blitar. Keduanya tewas seketika akibat tertimpa reruntuhan bangunan yang roboh akibat hantaman badan pesawat. Kerasnya benturan dan tingginya kecepatan pesawat saat menghunjam membuat badan pesawat sampai tidak terlihat di permukaan tanah.

Saat kecelakaan ini, pesawat diterbangkan Mayor Penerbang( Pnb) IvySafatilah, 36, dan juru mesin udara (JMU) Sersan Mayor (Serma) Syaiful Arief Rakhman, 36. Keduanya turut tewas dalam kecelakaan maut ini. KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna mengungkapkan, penerbang pesawat tempur taktis ini ditemukan di area persawahan yang ada di Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

“Penerbang ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia, berjarak 8 km dari titik jatuhnya pesawat. Adapun payung parasutnya ditemukan berjarak 2 km dari titik penemuan penerbang,” ungkapnya. Mayor Pnb Ivy Safatilah merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 2000. Total dia sudah memiliki 3000 jam terbang. Di antaranya menerbangkan Super Tucano sebanyak 700 jam terbang.

Adapun jenazah Serma Syaiful Arief Rakhman ditemukan masih berada di dalam kokpit pesawat yang tertanam di dalam rumah. Sampai berita ini diturunkan, proses evakuasi jenazah masih dilakukan karena memiliki kesulitan sangat tinggi akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan badan pesawat yang tertanam di dalam tanah.

Sebelum pesawat terjatuh, sejumlah warga mengaku melihat pesawat terbang tidak terkendali dan suaranya menderu sangat keras di udara. “Suaranya sangat keras dan terbang begitu rendah. Saya sampai takut melihatnya,” ujar Slamet Arifin, 51, warga Jalan Laksda Adi Sucipto.

Saat itu Slamet sedang berada dilantai dua rumahnya untuk membetulkan atap rumah yang bocor. Tiba-tiba saja pesawat tersebut melintas diatasnya dan langsung menghunjam di belakang rumahnya yang berjarak tidak sampai 10 meter. Suara dentuman keras pun terdengar ketika pesawat jatuh dan menghunjam kerumah milik Mujianto. Rumah lantai dua milik tetangganya tersebut langsung luluh lantak, rata dengan tanah.

Siti, 40, warga yang tinggal di belakang rumah korban, mengaku kaget karena hanya mendengar suara mesin yang menderu keras di udara, disusul dengan suara dentuman keras. “Saat itu saya ada di dalam rumah, mengikuti posyandu. Semuanya kaget. Takut karena dipikir ada kiamat,” ungkapnya.

Sesaat setelah insiden terjadi, aparat dari TNI AU dan kepolisian langsung menutup lokasi. Aroma avtur yang tertumpah sangat menyengat di tempat kejadian perkara (TKP). Mereka juga langsung melakukan evakuasi dengan dibantu PMI, Basarnas, dan BPBD. KSAU yang tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 16.00 WIB langsung mendatangi TKP dan menyatakan turut berbelasungkawa atas kejadian ini. “Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan, dan kesabaran,” ujarnya seusai mengikuti salat jenazah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan KSAU di TKP, badan pesawat masuk ke rumah korban dan langsung menembus tanah hingga hanya terlihat ekornya saja. Menurut dia, pesawat yang memiliki propeler atau balingbaling ini jatuh tepat di moncong pesawat tersebut. “Pesawat Super Tucano TT 3108 tersebut menerobos bangunan rumah warga, bahkanmenembustanah hingga hanya ekornya yang tampak di permukaan. Posisi ini sedikit banyak menyulitkan proses evakuasi,” kata KSAU.

Menurut dia, untuk dapat mengangkat badan pesawat, timevakuasi harus merobohkan rumah di depan lokasi jatuhnya pesawat yang masih utuh.

yuswantoro/ mula akmal/ant




Berita Lainnya...