Edisi 11-02-2016
Persaingan Calon Ketum Golkar Memanas


JAKARTA– Situasi internal Partai Golkar mulai memanas lagi menjelang pelaksanaan musyawarah nasional (munas) yang rencananya digelar sebelum Juni 2016. Perang urat syaraf antarpendukung atau tim sukses calon ketua umum pun mulai terjadi.

Persaingan ini mulai tampak jelas antara pendukung Ade Komarudin dan Setya Novanto. Meski belum ada di antara kedua kader ini yang menyatakan dengan tegas untuk maju sebagai calon ketua umum (ketum), namun pendukung keduanya mulai saling menunjukkan kelemahan lawan.

Kubu Ade Komarudin yang diwakili Bambang Soesatyo menyoroti posisi Setya Novanto yang saat ini sedang menjalani pemeriksaan berkaitan dengan kasus hukum di Kejaksaan Agung (Kejagung). Bambang mengatakan, Novanto harus bisa membuktikan dia tidak bersalah sehingga mampu memenuhi pensyaratan calon ketua umum sebagaimana diatur di AD/ART Golkar.

Novanto menjalani pemeriksaan di Kejagung berkaitan kasus dugaan pemufakatan jahat terkait permintaan saham saat renegosiasi kontrak PT Freeport Indonesia. Pada pemeriksaan pertama Novanto tidak mengakui sebagai pemilik suara pada bukti rekaman yang ditunjukkan Kejagung. Di lain pihak, kubu Novanto menyoroti Ade Komarudin yang disebut pernah membuat pernyataan di atas kertas bermaterai bahwa dia tidak akan maju sebagai calon ketua umum Golkar apabila dia terpilih sebagai ketua DPR.

Fakta ini diungkapkan anggota Fraksi Partai Golkar Ridwan Bae di Gedung DPR Senayan kemarin. Ridwan mengatakan pernyataan tersebut dibuat Ade di depan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB). ”Ada perjanjian yang ditandatangani oleh Akom (Ade Komarudin) bahwa kalau dia jadi ketua DPR tidak akan maju. Tertulis di materai. Tentu kan kalau sudah buat pernyataan tidak boleh maju,” ujar pendukung Novanto ini di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Ridwan mengatakan semua kader memang berhak maju sebagai calon. Larangan merangkap jabatan juga tidak diatur dalam AD/ART Golkar. Namun dia menilai Ade Komarudin seharusnya fokus melaksanakan tugasnya sebagai ketua DPR tanpa harus diganggu tugas kepartaian.

Mengenai kasus hukum Novanto yang dipersoalkan Bambang Soesatyo, Ridwan mengatakan sejauh ini belum ada yang menyatakan bahwa Novanto bersalah. Sebelum ada putusan hukum apa pun, kata dia, asas praduga tak bersalah harus dijunjung. Namun, bagi Bambang Soesatyo, persoalan seorang calon ketua umum tidak memiliki kasus hukum penting karena AD/ART Golkar dengan tegas mengatur syarat itu.

Salah satu syarat bagi calon adalah memiliki prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT). Dia berharap Novanto nanti mampu mengatasi masalah yang dihadapinya di Kejagung. ”Kalau Novanto bisa membuktikan tidak bersalah, maka bisa memenuhi ketentuan PDLT. Tapi saya yakin dia bisa mengatasi ini,” ujar Wakil Bendahara Umum Golkar ini di Gedung DPR Jakarta, kemarin.

Persaingan kader Golkar untuk maju bersaing di munas ini muncul sejak rapat pimpinan nasional (rapimnas) memutuskan akan menggelar munas. Saat itu, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie menegaskan tidak akan maju lagi di munas. Komitmen ARB ini diikuti Agung Laksono selaku ketua umum Golkar Munas Ancol.

Sejauh ini nama calon ketua umum yang muncul antara lain Ade Komarudin (Ketua DPR, Ketua Umum Soksi), Setya Novanto (Ketua Fraksi Golkar, Bendahara Umum Golkar Munas Riau), Idrus Marham (Sekjen DPP Golkar Munas Riau), Mahyudin (Wakil Ketua MPR), Agus Gumiwang (anggota Fraksi Golkar DPR), Priyo Budi Santoso (Waketum Golkar Munas Riau).

Nama lain, yakni Agun Gunandjar Sudarsa (anggota Fraksi Golkar DPR), Fadel Muhammad (anggota Fraksi Golkar DPR), Airlangga Hartarto (Ketua DPP Golkar Munas Riau), dan Aziz Syamsuddin (Ketua Fraksi Golkar DPR).

Dari sekian nama calon, Bambang menilai hanya sebagian kecil yang serius maju. Itu dibuktikan dengan melakukan pendekatan ke DPD-DPD selaku pemilik suara. ”Informasinya baru tiga tim yang melakukan lobi politik. Novanto, Aziz Syamsuddin, dan Akom. Walau Akom belum eksplisit mendeklarasikan diri, kami timnya yakin dia melakukan itu setelah jadwal munas sudah pasti,” katanya.

Mengenai pernyataan bahwa Ade Komarudin seharusnya tidak boleh maju karena bakal merangkap jabatan, Bambang balik menyindir. ”Kalau ada yang mengatakan seperti itu, dia tidak ingin ketua umum Golkar mendatang orang yang kuat dan punya posisi,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPP Golkar Firman Subagyo mengatakan, semua kader Golkar punya peluang sama untuk jadi ketua umum sepanjang memenuhi syarat PDLT. ”Kader di DPR ini kan banyak yang berprestasi. Hanya persoalannya apakah calon ketua umum Golkar bisa bekerja sama dengan pemerintah atau tidak, kuncinya itu,” ujarnya kemarin.

Firman mengatakan, tidak boleh ada pemasungan demokrasi dengan menjegal calon tertentu. ”Tidak usah takutlah. Jangan menyerah sebelum proses dilampaui. Tidak boleh ada pemasungan demokrasi,” ujarnya.

mula akmal




Berita Lainnya...