Edisi 11-02-2016
Jepang Terapkan Sanksi Baru Korut


TOKYO– Jepang menerapkan sanksi baru terhadap Korea Utara (Korut) setelah peluncuran roket jarak jauh. Sanksi itu antara lain pelarangan semua pengiriman dari Korut.

Jepang juga melarang warga Korut datang ke Negeri Sakura. Pengumuman sanksi baru ini setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengecam keras peluncuran roket Pyongyang dan sepakat mempercepat pemberlakuan sanksi baru. ”Kami memutuskan mengambil langkah sanksi tegas,” kata Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe kemarin, dikutip kantor berita AFP .

Menurut Abe, langkah baru ini menambah sanksi-sanksi Jepang sebelumnya terhadap program rudal dan nuklir Korut. ”Semua kapal Korut, termasuk yang bertujuan kemanusiaan, harus dilarang datang ke pelabuhan-pelabuhan Jepang. Kapal-kapal negara ketiga yang mengunjungi Korut juga dilarang masuk,” ungkap pernyataan Pemerintah Jepang.

Tokyo juga memperketat syarat pelaporan keuangan untuk orang yang membawa uang tunai ke Korut. Adapun, Korea Selatan (Korsel) akan menghentikan semua operasional di kawasan industri bersama di Korut, Kaesong, untuk menghukum aksi peluncuran rudal dan tes nuklir Pyongyang. Ini merupakan pertama kali Korsel menghentikan operasional di Kaesong sejak dibuka pada 2004, sebagai simbol rekonsiliasi lintas perbatasan.

”Kami telah memutuskan menghentikan semua operasional di Kompleks Industri Kaesong, sehingga investasi kami di kompleks itu tidak akan digunakan Korut untuk mendanai pengembangan rudal dan nuklir,” ungkap Menteri Unifikasi Korsel Hong Yong-Pyo yang bertanggung jawab dalam masalah lintas perbatasan.

Sementara, pejabat AS menyatakan, satelit yang diluncurkan Korut telah mencapai orbit yang stabil tapi diduga tidak memancarkan data kembali ke Bumi. Dia juga menjelaskan, peluncuran itu sejauh ini gagal meyakinkan para pakar bahwa Pyongyang memiliki teknologi roket yang canggih. ”Satelit itu berada di orbit stabil sekarang. Mereka dapat bergeser dengan kontrol,” papar pejabat AS, dikutip kantor berita AFP .

Satelit itu tidak seperti milik Korut sebelumnya yang diluncurkan pada 2012 yang tak bisa stabil. ”Meski demikian, satelit baru ini diperkirakan tak dapat memancarkan data,” ungkap pejabat AS lainnya. Peluncuran roket itu membuat marah negara-negara tetangga Korut dan AS.

Menurut Jepang, Korsel, dan AS, aksi itu merupakan tes rudal. Presiden AS Barack Obama telah berbicara dengan para pemimpin Korsel dan Jepang melalui telepon pada Senin (8/2) malam. Obama kembali memberikan jaminan atas dukungan Washington pada negaranegara aliansinya. ”Obama menyerukan respons keras atas peluncuran roket itu,” papar pernyataan Gedung Putih.

Obama juga akan membicarakan provokasi Korut saat dia menjadi tuan rumah para pemimpin Asosiasi Bangsabangsa Asia Tenggara (ASEAN) di California pada awal pekan depan. AS dan China sedang membahas isi resolusi sanksi baru PBB terhadap Korut yang akan diadopsi bulan ini.

Sementara, Rusia memperingatkan langkah AS mengerahkan sistem pertahanan rudal ke Korsel yang dapat memicu perlombaan senjata di kawasan itu. Para pejabat Korsel dan AS telah memulai perundingan resmi untuk pengerahan sistem Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) sebagai respons tes nuklir dan rudal Korut baru-baru ini.

”Kehadiran elemen sistem pertahanan rudal global AS di kawasan, yang ditandai dengan situasi keamanan sangat sulit, dapat memicu perlombaan senjata di Asia Timur Laut dan memperumit resolusi masalah nuklir di Semenanjung Korea,” ungkap pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia.

syarifudin





Berita Lainnya...