Edisi 11-02-2016
Indonesia Dikepung Bencana


JAKARTA– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa 166 kabupaten/kota di Tanah Air terdampak banjir dan longsor selama 1 Januari hingga 8 Februari ini. Banjir, longsor dan puting beliung berpotensi banyak terjadi pada Februari.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, selain kerusakan-kerusakan bangunan, korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor mencapai 43 orang, luka berat enam orang, dan luka sedang lima orang. ”Korban terdampak banjir dan tanah longsor sebanyak 75.549 jiwa. Kerugian akibat banjir dan tanah longsor sebanyak 418 unit rumah rusak berat, 76 unit rumah rusak sedang, dan 488 unit rumah rusak ringan,” ucap Sutopo di Kantor BNPB kemarin.

Jumlah tersebut memang menurun dibanding tahun sebelumnya. Menurut dia, ada pengaruh El Nino menyebabkan intensitas hujan berkurang dan sebarannya tidak merata selama Januari 2016. Hujan pada Januari yang lebih kecil menyebabkan banjir dan longsor pada Januari 2016 turut menurun dibandingkan Januari 2015. Penurunan kejadian banjir sebesar 43% dan longsor 75%.

Namun, mundurnya musim hujan menyebabkan puncak musim hujan akan terjadi pada Februari 2016. Alhasil, banjir, longsor, dan puting beliung berpotensi banyak terjadi pada bulan ini. Faktanya begitu. Dalam tiga hari terakhir ini, intensitas hujan memang meningkat. Akibatnya, banjir dan longsor terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Beberapa kawasan bahkan sudah menerapkan status darurat banjir. Bupati Rokan Hulu, Riau misalnya menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama 15 hari ke depan karena banjir sudah meluas hingga di tujuh kecamatan dengan jumlah korban terdampak mencapai 11.438 jiwa.

”Dalam penanganan bencana banjir ini sudah ditetapkan status Tanggap Darurat Bencana Banjir oleh Bupati Rokan Hulu, Riau, melalui Surat Keputusan Nomor Kpts.362/ BPBD/79/2016 pada 9 Februari 2016 selama 15 hari terhitung mulai 7 hingga 21 Februari 2016,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau Edwar Sanger di Pekanbaru kemarin.

Dia menjelaskan, sampai saat ini kerusakan infrastruktur yang sangat vital seperti jalan dan jembatan telah menyebabkan terputusnya jalur transportasi. Kerusakan terjadi di Kecamatan Rokan IV Koto di mana dua unit jembatan yakni Jembatan Sei Mentawai dan Jembatan Sei Tuah Koto Ingin sepanjang 13 meter.

Kemudian, kerusakan di Kecamatan Kunto Darussalam terdapat tiga unit jembatan beton permanen sepanjang 20 meter yang merupakan jalan penghubung antarkecamatan juga ambruk dikikis air akibat banjir besar ini. ”Tiga jembatan tersebut adalah Jembatan Sei Pisang Kolek, Jembatan Sei Omang, dan Jembatan Sei Boncah Ketapang,” sebutnya.

Menurut dia, BPBD Rokan Hulu sudah berkoordinasi intens dengan BNPB dan BPBD Provinsi Riau guna membangun iklim penanganan yang lebih baik lagi. Selain itu, penanggulangan di lapangan juga terus dilakukan dengan bekerja sama melalui instansi pemerintah daerah setempat seperti TNIPolri, PMI, dan para relawan. Hingga kini banjir terus menggenangi sejumlah daerah di Riau yakni Kabupaten Rokan Hulu, Kampar, dan Kuantan Singingi.

Banjir di Kabupaten Kampar bahkan telah menggenangi sedikitnya 5.000 rumah warga di daerah aliran Sungai Kampar. Warga yang terkena dampak banjir juga banyak yang mengungsi dipenampungan sementara di Lapangan Merdeka Kota Bangkinang, Kampar. Sementara banjir di Kuantan Singingi meluas hingga ke 11 kecamatan dengan jumlah korban terdampak mencapai 10.652 kepala keluarga.

Selain Rokan Hulu, Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah, juga sudah menetapkan status siaga bencana menyusul curah hujan yang semakin ekstrem. Tiga posko darurat kebencanaan bahkan telah disiapkan guna penanganan bencana banjir dan angin kencang yang mungkin terjadi. Tiga posko itu terdapat di Kota Barat, Pendaringan Jebres, dan Gading di Kecamatan Pasar Kliwon.

Ketua Pelaksana Harian BPBD Solo Gatot Sutanto mengatakan, curah hujan ekstrem diprediksi berlangsung hingga akhir Februari. Status siaga bencana antara lain dengan pertimbangan kondisi muka air Sungai Bengawan Solo di pos pantau Jurug yang sempat mencapai 8 meter atau di level kritis. Ketika ketinggian naik sedikit saja, sungai terpanjang di Pulau Jawa itu sudah memasuki level merah atau awas banjir.

”Termasuk, kemungkinan banjir yang berasal dari anak sungai yang bermuara di Bengawan Solo,” kata Gatot kemarin siang. Selain posko darurat, juga telah disiapkan logistik, personel, pemetaan dapur umum, hingga tempat-tempat pengungsian.

Koordinasi penanganan bencana juga melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), Perum Jasa Tirta, sukarelawan, tokoh masyarakat, serta satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) terkait. ”Posko darurat juga sebagai tempat pengaturan logistik dan personel sukarelawan,” terangnya.

Tercatat ada ribuan personel relawan yang siap diterjunkan dalam penanganan bencana. Mereka berasal dari 17 organisasi sukarelawan di Kota Bengawan. Potensi para relawan tengah dipetakan berdasarkan kluster keahlian seperti dapur umum, medis, danpengungsian.

ary wahyu wibowo/ant

Berita Lainnya...