Edisi 11-02-2016
Australia-China Umumkan Kasus Zika


BRISBANE – Australia dan China melaporkan kasus virus zika di negara mereka. Dua orang tertular virus tersebut saat melakukan perjalanan ke Benua Amerika.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Australia melaporkan seorang ibu hamil positif terinfeksi zika. Mereka mendesak ibu hamil lainnya untuk menghindari wilayah terdampak zika dan melindungi diri dari sengatan nyamuk. ”Seorang perempuan terjangkit zika di Queensland setelah pulang dari luar negeri,” ungkap Kemenkes seperti dilansir AFP.

Diduga ini bukan kasus pertama zika di Australia. Pekan lalu, seorang wanita yang juga dari Queensland dilaporkan menderita penyakit yang disebarkan nyamuk Aedes itu. Wanita tersebut baru pulang dari El Salvador. Kasus zika juga ditemukan untuk pertama kali di China.

Seperti dilansir Reuters yang mengutip Xinhua dari keterangan pers Komisi Perencanaan Keluarga dan Kesehatan Nasional China, seorang lelaki berusia 34 tahun asal Kota Ganxian, Provinsi Jiangxi, positif terjangkit zika. Dia baru pulang dari Venezuela dan transit di Hong Kong.

Kemenkes Hong Kong menyatakan lelaki itu bekerja di Dongguan, area pabrik di dekat Guangdong. Atas laporan itu, Kantor Kesehatan Pelabuhan Hong Kong mengambil langkah pencegahan dengan melakukan pemeriksaan di wilayah perbatasan. Selain itu, mereka memberikan pelatihan khusus untuk para petugas.

Pemerintah lokal Hong Kong khawatir zika akan menjangkiti warga setempat dan menyebar secara lebih luas. Nyamuk Aedes albopictus yang menjadi vektor zika setelah Aedes aegypti banyak berkembang biak di Hong Kong. ”Tapi sejauh ini kami tidak menemukan adanya kasus zika di Hong Kong,” ungkap Kemenkes Hong Kong.

Ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan risiko zika menyebar di Australia dan China seperti di Benua Amerika sangat kecil. Di Negeri Kanguru misalnya, jenis nyamuk yang menjadi vektor zika hanya hidup di bagian utara. Adapun di China, musim dingin otomatis mencegah penyebaran virus.

Walau demikian, Representatif WHO Bernhard Schwartlander di Beijing mengungkapkan Pemerintah China bakal mengambil langkah-langkah penting atas penyebaran zika. ”Kemenkes China sangat siap untuk merespons penyebaran penyakit ini. Padahal risiko penyebaran virus ini di China sangat rendah,” ujarnya seperti dilansir Chicago Tribune.

Sementara itu Brasil semakin gencar memerangi virus zika. Hal ini dilakukan setelah JAMA Ophthalmology mengumumkan hasil penelitian mereka bahwa janin yang terinfeksi zika terancam mengalami kebutaan saat dilahirkan. Perkembangan organ matanya, terutama optik dan retina, terganggu dan akhirnya rusak. Sejauh ini vaksin zika belum ada.

JAMA Ophthalmology melakukan penelitian terhadap 29 bayi yang terinfeksi zika di Rumah Sakit (RS) Roberto Santos, Salvador, Brasil. Dalam laporan yang dipublikasikan pada kemarin, perkembangan mata 10 bayi tidak sempurna. Sebanyak 7 bayi mengalami kerusakan di 2 matanya, sedangkan 3 bayi di 1 matanya.

Masalah paling umum yang dihadapi ke-10 bayi itu ialah lesi bintik hitam di bagian belakang mata, kerusakan jaringan yang cukup luas di retina, kerusakan lapisan pembuluh darah, dan kerusakan jaringan di bawah retina. Namun, pada level sekarang, peluang ke-10 bayi itu untuk dapat melihat masih menjadi tanda tanya besar.

Profesor oftalmologi dari Universitas Northwestern, Lee M Jampol, mengatakan adanya lesi di dalam bola mata setidaknya akan membuat mereka berpeluang mengalami gangguan penglihatan. Sejauh ini, lesi tidak dapat disembuhkan. Namun diagnosis lebih awal dapat membantu para ahli untuk mencegah terjadinya skenario terburuk.

Senada dengan Jampol, profesor oftalmologi dari Universitas Federal, Rubens Belfort, mengatakan retina ke-10 bayi itu masih bisa diatasi kendati tidak 100% dan peluangnya tipis. ”Berdasarkan pengalaman, saya dapat memperkirakan sebagian besar dari mereka akan mengalami kebutaan,” kata Belfort seperti dikutip The New York Times.

Di Amerika Serikat (AS), ibu hamil yang baru pulang dari kawasan terdampak zika direkomendasikan melakukan pemeriksaan medis. Jika positif, bayi tersebut harus menerima evaluasi oftalmologi sebulan setelah dilahirkan. Dalam studi terakhir, sekitar 80% ibu hamil yang terjangkit zika mengalami gejala demam dan bintil pada kulit.

muh shamil

Berita Lainnya...