Edisi 11-02-2016
Buku Harus Cantumkan Identitas Penulis


JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mewajibkan penerbit mencantumkan identitas penulis di setiap buku yang dijual. Langkah ini untuk mencegah penulisan buku secara sembarangan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, kebijakan ini ada dalam peraturan mendikbud (permendikbud) yang akan mengatur ekosistem perbukuan. Peraturan menteri ini terbit dalam satu atau dua pekan mendatang. Menurut dia, selama ini buku tidak pernah menulis identitas penulis dan hanya ada tim penyusunnya.

Akibat itu, jika ada kesalahan isi buku, penulisnya selalu lolos dari tanggung jawab dan Kemendikbud yang selalu disalahkan. “Identitas penulis buku itu penting agar ada interaksi antara penulis dan pembaca,” katanya di kantornya di Jakarta kemarin. Penggagas Indonesia Mengajar ini menjelaskan, permendikbud itu juga akan berisi sanksi kepada sekolah yang tidak memakai buku beridentitas.

Namun, apa bentuk sanksinya belum dapat dipastikan karena peraturannya masih digodok. Seharusnya ada ruang interaksi antara pembaca dan penulis agar ada masukan kreatif bagi penulis. Kondisi perbukuan saat ini sedang stagnan dari kreativitas. Pembaca pun semestinya mengetahui kompetensi penulis dan menanyakan secara langsung kualitas materi buku tersebut.

Peraturan baru soal perbukuan ini akan diterapkan pada tahun ajaran baru nanti. Permendikbud ini juga akan membangun ekosistem perbukuan yang sehat. Semua pelaku pendidikan mulai dari siswa, orang tua, komite, sekolah, pengusaha, masyarakat, dan pemerintah bisa bersama-sama meningkatkan kualitas buku. “Bagi buku yang telanjur cetak, identitas ditambahkan di lampiran. Bagi buku yang belum dicetak, identitas penulis disisipkan di lembaran buku,” paparnya.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini menuturkan, peraturan perbukuan ini dibutuhkan karena dia meyakini bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan secara umum tidak dimulai dari peningkatan kualitas manusianya. Pemberdayaan ekosistem pendidikan harus dilakukan ke seluruh pelaku pendidikan, bukan pemberdayaan ekosistem pelaku pendidikannya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Gemar Membaca Firdaus Umar sangat mendukung kebijakan mendikbud untuk mencantumkan identitas penulis di dalam buku yang diterbitkan. Kebijakan itu akan membantu penerbit dalam meningkatkan gairah bagi munculnya para penulis-penulis baru di Indonesia. “Selain itu, secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas perbukuan kita,” tegas anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) ini.

Di tempat terpisah, anggota Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan, permendikbud itu akan diperkuat dengan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perbukuan. Materi dalam undang-undang ini akan mengatur tentang penjagaan konten dan peraturan bagi penerbitan dan percetakan.

Mekanisme perbukuan harus diatur dalam peraturan tertinggi seperti undang-undang karena buku termasuk delapan sistem pendidikan yang harus dijaga pemerintah.

neneng zubaidah

Berita Lainnya...