Edisi 19-02-2016
Tugu Legetang Jadi Saksi Bisu Tewasnya 351 Warga


Dusun Legetang yang hilang dalam semalam 61 tahun silam kini tinggal kenangan. Cerita kawasan itu pun hanya bisa terlihat lewat prasasti yang tertanam kokoh di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Ya, tugu itulah yang menjadi saksi bisu keberadaan Du - sun Legetang sejak terkubur longsoran tanah pada 16 atau 17 April 1955. Dalam tugu ter - sebut ada prasasti yang menye - but kan 332 nama penduduk Du sun Legetang dan 19 orang tamu dari desa lain tewas karena longsornya Gunung Penga - mun-amun yang sebetulnya ber jarak cukup jauh dari dusun tersebut. Untuk menyusuri bekas Dusun Legetang itu hanya bisa melewati jalan berbatu.

Dulu akses jalan tersebut cuma satu-satunya menuju dusun. Namun, kini jalan tersebut sering dilalui kendaraan milik petani dan mobil pengangkut pupuk serta hasil pertanian, terutama kentang. Bahkan, kondisi jalan tersebut bila turun hujan berubah menjadi licin dan membahayakan. Jika mengendarai sepeda motor tentu harus berhatihati karena jalannya menanjak.

Kurang lebih 20 menit kemudian akan menemukan bangunan beton setinggi 10 meter yang berdiri kokoh. Bangunan beton itu berdiri di tengah-tengah lahan pertanian dan berada di sebelah kiri jalan. “Itu prasasti yang menjadi bukti bahwa Desa Legetang pernah ada,” ujar Tri Susanto, 27, warga asal Pekasiran yang kini tinggal di Kaliputih, Sum - berejo, Batur.

Dulu pascakejadian longsor Gunung Penga - mun-amun yang menghilang - kan Dusun Legetang, selain membangun tugu beton, pe - merintah juga memasang pra - sasti terbuat dari bahan besi. Prasasti itu kemudian di tempelkan di dinding beton tersebut bertuliskan huruf kapital dengan ejaan lama.

Di situ tertulis: TUGU PERI - NGAT AN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUNAMUN PADA TG. 16/17-4- 1955. “Namun, lempengan tulisan tersebut sudah hilang.

Kemungkinan diambil orangorang yang tidak bertanggung jawab,” kata Tri. H Mad Toyib, 72, warga Ke - pakisan, Desa Kepakisan me - nambahkan, tugu beton tersebut dulunya dibangun Pemkab Banjarnegara sebagai simbol pernah terjadinya longsor di Du sun di Legetang. “Saya su - dah enggak ingat yang bangun Pak Bupati, siapa?” ujar Toyib. Sekalipun dalam prasasti tertulis tewasnya 332 orang dan 19 orang tamu, namun Toyib yakin ada sekitar 355 warga Dusun Legetang dan 13 tamu yang tewas dalam kejadian itu.

Dari 13 tamu yang ikut tewas, kebanyakan berprofesi sebagai pedagang, yakni pedagang pindang, rese, tongkol, serta pedagang atap rumah berbahan dedaunan. “Mereka itu berjualan kemudian menginap. Mereka juga juga turut menjadi korban,” kata Toyib, yang juga petani kentang itu. Menurut Toyib, dari peristiwa tersebut hanya dua orang yang selamat dari kematin, yakni Mbok Rana dan Parmi (keduanya merupakan istri Kepala Dusun Legetang, Rana).

Ketika itu, Kadus Legetang atau dikenal dengan sebutan Bau memiliki 4 istri. Namun demikian, kedua orang itu kini telah wafat, bahkan Parmi baru meninggal beberapa tahun lalu. “Dari seluruh warga yang ada, hanya 2 orang yang selamat. Sedangkan yang lainnya terkubur dalam tanah dan hanya 20 jasad yang berhasil ditemukan,” ujar Toyib.

Jasad yang ditemukan pascalongsoran itu kemudian dimakam kan di de - kat tugu beton. Namun seiring - nya waktu, prasasti yang jadi monumen bersejarah dusun yang tertempel di tugu tersebut, telah raib lima tahun lalu. “Kami kurang paham mengenai kehidupan warga Dusun Legetang di masa lalu. Apalagi, kami tidak memiliki data valid mengenai kejadian tersebut,” kata Kepala Desa Pekasiran Muhammad Fadlulloh.

Hal serupa juga di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjar - negara. Bahkan, saat KORAN SINDO bermaksud menanya - kan kejadian 61 tahun silam tersebut, pengawai di Kecamatan Batur kebanyakan tidak mengetahui. Selain itu, di kecamatan juga tidak memiliki data tentang kejadian Dusun Legetang. Meski demikian, kebanyakan mereka hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut. “Saya dengar cerita dari orang-orang saja,” ujar seorang pengawai kecamatan. l(bersambung)

EKO SUSANTO
Banjarnegara

Berita Lainnya...