Edisi 28-02-2016
Pahami ISO, Kurangi Noise


Salah satu keuntungan dari penerapan teknologi digital dalam kamera adalah kita bisa mengganti ISO selama pemotretan berlangsung. Hal tersebut mustahil dilakukan jika masih menggunakan kamera analog.

Penggemar fotografi yang telah memotret sejak era analog tentu tidak asing dengan ISO sebagai ukuran yang menentukan sensitivitas film. Terkadang juga disebut sebagai ukuran kecepatan film.

Perkembangan teknologi makin memudahkan proses memotret secara keseluruhan sehingga film pun tidak lagi digunakan. Gantinya adalah image sensor yang ditanam dalam kamera. Namun ISO tetap digunakan untuk menentukan tingkat kesensitifan image sensor . Semakin tinggi angka ISO, semakin sensitif pula image sensor menangkap cahaya.

Demikian pula sebaliknya sehingga tak aneh jika banyak yang berkata bahwa memotret di luar ruangan disarankan untuk menggunakan ISO rendah dan menggunakan yang tinggi jika memotret dalam ruangan. Tentu saja kita bisa menyetel kamera digital pada fungsi full automatic dan membiarkan kamera tersebut melakukan fungsi pengukuran cahaya serta penentuan ISO untuk kita.

Hasilnya mungkin masih tetap bagus karena teknologi kamera semakin berkembang. Namun, untuk membuat foto-foto yang secara estetika menarik dan berbeda, tentu pemahaman terhadap ISO dan pencahayaan akan membantu. Memahami ISO tidaklah sulit, contohnya bisa dideskripsikan seperti ini: bayangkan kita sedang hunting foto di pagi hari menjelang matahari terbit.

Lokasi yang tepat sudah kita dapatkan, tetapi saat membidik objek tersebut dengan kamera, kecepatan rana (shutter speed) menunjukkan 1/8 seconds. Kita memotret tanpa tripod dan hanya mengandalkan topangan tangan (handheld ) sehingga risiko shake sangat tinggi. Naikkan ISO yang digunakan, dari ISO 100 ke 200. Lihatlah ke layar kamera, speed juga bergerak naik menjadi 1/15 seconds.

Kecepatan rana tersebut masih berisiko shake , naikkan lagi dari 200 ke 400, shutter speed menjadi 1/30, ISO naik lagi menjadi 800 dan speed pun berubah menjadi 1/60 seconds. Pada kecepatan 1/60 seconds ini kita bisa mengabadikan pemandangan tersebut tanpa khawatir hasil foto shake karena memotret tanpa tripod. Jadi saat ISO dinaikkan, waktu yang dibutuhkan kamera untuk menangkap cahaya semakin berkurang sehingga shutter speed pun menjadi semakin cepat.

Namun ada konsekuensi yang harus ditanggung dengan menaikkan ISO tersebut. Semakin tinggi ISO semakin tinggi pula tingkat noise yang ada pada foto. Mengapa demikian? Prinsipnya kurang lebih sama jika dianalogikan dengan suara musik yang kita dengarkan lewat stereo set di rumah dan telinga kita diibaratkan sebagai image sensor kamera.

Jika volume suara tepat, yang terdengar adalah harmoni musik yang indah. Saat kita kencangkan volume stereo set tersebut, bukan hanya suara musik yang kita dengar, berbagai desis dan dentuman yang timbul dari speaker juga akan terdengar dan memekakkan telinga. Image sensor bekerja dengan cara yang relatif sama dengan telinga saat mendengarkan musik.

Jika didorong menggunakan ISO tinggi untuk menangkap cahaya yang lemah, noise yang ditimbulkan pada foto akan semakin terlihat. Contohnya bisa dilihat pada pembesaran penuh dari kedua foto nelayan di atas. Foto 2 menggunakan ISO 1600 dan foto 1 menggunakan ISO 400. Jika dilihat pada ukuran kecil, mungkin tidak akan terlalu jelas perbedaannya.

Namun, bila dilihat dalam pembesaran penuh, akan terlihat bahwa foto kiri memiliki noise yang jauh lebih banyak. Untuk menghindari noise pada hasil foto, usahakan memakai ISO serendah mungkin saat memotret.

Arie yudhistira