Edisi 28-02-2016
Hunian Asri Berisi Banyak Koleksi


Hunian berkonsep klasik minimalis milik anggota Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Achsanul Qosasi sungguh terlihat asri. Bangunan dua lantai yang didominasi corak kayu tersebut dikelilingi halaman yang dindingnya ditutupi oleh tanaman hijau.

Menurut Achsanul, rumahnya yang ada di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan, ini dibangun secara bertahap. Dari awalnya yang hanya memiliki luas lahan 700 meter persegi, hingga kemudian melebar menjadi 1.500 meter persegi, seperti yang ada saat ini. ”Sebelumnya, pada tahun 1993, saya membeli tanah di sini.

Kemudian baru pada 1996 kami bangun rumah. Pada saat itu luasnya hanya 700 meter persegi,” kata Achsanul, membuka perbincangan dengan KORAN SINDO kemarin. Pada 2004 Achsanul kembali membeli tanah seluas 300 meter persegi, lalu selang lima tahun kemudian membeli lagi sebidang tanah seluas 500 meter persegi, hingga total luas tanah yang dimilikinya kini mencapai 1.500 meter persegi.

”Akan tetapi, membangun rumahnya secara bertahap. Terakhir pada tahun 2009, sebelum saya menjadi anggota DPR,” kata pria kelahiran Sumenep, 10 Januari 1966, ini. Pria yang juga pemilik Madura United FC itu menjelaskan, konsep desain bangunan rumah ini merupakan pilihan sang istri, Retno Suryandari atau akrab disapa Nonny, yang dinikahinya sejak 15 Juli 1994. Meski demikian, ia merasa sangat cocok dan puas dengan hasilnya.

Menurut Retno, ia mempelajari sendiri konsep desain hunian yang dipilihnya itu. ”Saya lihat-lihat saja di majalah dan media lain. Menurut saya pas. Akhirnya, saya pilih desain seperti ini, dengan memadukan interior klasik dan warna-warna yang lebih netral serta kalem,” kata ibunda Annisa Zhafarina Qashri ini. Interior rumah banyak mengaplikasikan warna kayu, dipadukan dengan furnitur berwarna cokelat dan krem.

”Di sini kami mencoba menerapkan warna kayu agar terlihat lebih dekat dengan alam,” tandas Nonny. Achsanul menambahkan, dengan mengaplikasikan warna kayu, rumahnya memang terasa lebih dekat dengan alam. Bagi pria yang pernah menjabat Wakil Ketua Komisi XI DPR RI itu, rumah adalah tempat untuk pulang, sehingga rumah harus memberikan kesan yang nyaman, tenteram, sekaligus membuat betah penghuninya.

”Rumah itu tempat kita pulang, sehingga rumah harus bersih dan asyik agar penghuninya merasa betah serta selalu rindu untuk pulang. Karena rumah adalah tempat saya pulang, maka saya harus menemukan surga di rumah saya,” ungkapnya. Rumah yang nyaman bagi Achsanul adalah yang bersih, homey, serta memiliki sirkulasi udara yang baik.

Selain itu, rumah juga harus dipenuhi tanaman hijau, sehingga pada saat di rumah, ia bisa menghabiskan waktu dengan merawat tanaman tersebut. Juga berolahraga, bahkan membongkar koleksi VW miliknya. ”Saya menanam di sini sejak tahun 1997. Tanaman yang merambat di dinding ini, dulu saya yang menanamnya.

Pelan-pelan saya pasangkan. Tidak mudah memang, karena harus telaten sampai bisa merambat di dinding halaman seperti sekarang. Bahkan untuk perawatannya saya juga yang melakukan, meskipun dibantu oleh asisten rumah tangga. Biasanya, hari Sabtu atau Minggu saya berkebun,” katanya. Selain tanaman merambat, terdapat pula pohon pinang, cemara, dan beberapa tanaman lain yang sengaja dirawat dan dipelihara oleh si empunya rumah. Sementara, pada dinding rumah tidak banyak hiasan yang menempel.

Di salah satu bidang dinding hanya tampak satu foto keluarga dengan pigura yang besar sebagai hiasan. ”Karena, kami tidak suka rumah yang terlalu ramai dengan aksesori. Kami lebih suka yang simpel,” dalih Achsanul. Menurut Achsanul, teras belakang rumah yang menghadap ke halaman belakang merupakan area favoritnya.

Di tempat itulah ia lebih suka menghabiskan waktu pada saat berada di kediaman. Sampai-sampai ketika Achsanul ke luar kota, teras belakang menjadi spot yang selalu dirindukannya. ”Biasanya saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Kalau sedang kumpul bersama keluarga, saya berdiskusi di sini bersama istri dan putri kami.

Karena bagi saya, tatap muka dengan anak dan istri itu sangat penting. Berdiskusi tentang banyak hal ataupun bermain gitar, pokoknya di sini tempat favorit saya,” bebernya. Di lantai satu rumah ini terdapat pula ruang kerja Achsanul, yang di dalamnya menampung banyak koleksi buku ekonomi dan filsafat.

Ada juga koleksi replika mobil VW yang didapatkannya dari berbagai negara. ”Saya menyenangi VW Kodok ini sejak kuliah. Koleksi saya sudah ada 218 replika yang jenisnya beraneka ragam. Sengaja saya mencarinya saat berkunjung ke berbagai negara. Kadang saya bongkar pasang lagi mobilmobil ini, seperti orang yang tidak ada kerjaan,” ungkapnya, sambil tertawa.

Selain koleksi replika mobil VW Kodok, Achsanul juga memiliki mobil VW jenis 1303 tahun 1974 yang selalu dirawatnya. ”Karena mobil ini jarang dipakai, jadi saya harus rutin merawatnya. Kadang-kadang saya bongkar juga,” jelas mantan direktur salah satu bank swasta nasional ini. Sementara, di ruang keluarga terdapat berbagai macam aksesori dari mancanegara.

Selain itu, terdapat ruang tamu, teras depan, foyer yang dindingnya dilapisi kayu bercorak, serta ruang makan yang lantainya dilapisi parket, serta kamar pribadi. Sedangkan di lantai dua ada ruang entertainment untuk menonton film, bahkan karaokean bersama. Ada juga koleksi buku milik anak dan istri Achsanul, serta ruang olahraga yang menampung berbagai macam alat fitnes, plus dua kamar tidur.

Robi ardianto