Edisi 28-02-2016
Bersiap Menjadi Saksi Sejarah


Gerhana Matahari Total (GMT) merupakan peristiwa langka yang selalu ditunggu-tunggu. Tahun ini GMT di Indonesia diprediksi akan terjadi di 11 kota pada 9 Maret 2016. Bersiaplah menjadi saksi sejarah fenomena alam yang di Indonesia terakhir terjadi pada 24 Oktober 1995 lalu.

Jika Anda ingin menyaksikan fenomena GMT datanglah ke salah satu dalam 11 kota di Indonesia yang dilalui jalur GMT. Kota-kota tersebut yakni bermula dari Palembang (Sumatera Selatan), kemudian ke Bangka, Belitung, Sampit (Kalimantan Tengah), Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Balikpapan (Kalimantan Timur), Palu, Poso, Luwuk (Sulawesi Tengah), Ternate dan Halmahera (Maluku Utara).

Selain itu, sejumlah daerah lain di Indonesia juga bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian, antara lain Kota Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Kupang, Manado, dan Ambon. “Kejadian ini sangat jarang terjadi karena GMT akan kembali berlangsung di tempat yang sama dengan membutuhkan waktu selama 350 tahun,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya kepada wartawan saat memberikan keterangan pers tekait kejadian GMT.

Andi mengatakan, di antara kota-kota tersebut, Kota Palu merupakan kota yang paling terdampak dari GMT. Kejadian gerhana ini akan terjadi pada pagi hari. “Setiap wilayah mengalami kejadian pada waktu yang berbeda-beda,” kata Andi. Secara umum, lanjut Andi, gerhana dapat diprediksi waktu dan tempat kejadiannya.

Untuk memprediksi keberulangannya secara global, gerhana dikelompokkan ke dalam suatu kelompok yang disebut Siklus Saros tertentu. Gerhanagerhana pada Siklus Saros tertentu akan berulang hampir setiap 18 tahun 11 hari. Sebagai contoh, GMT 9 Maret 2016 adalah anggota ke-52 dari 73 anggota pada Siklus Saros ke 130. Gerhana sebelumnya yang berasosiasi dengan GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT yang terjadi pada 26 Ferbruari 1998.

Adapun, gerhana sesudahnya yang berasosiasi dengan GMT 9 Maret 2016 tersebut adalah GMT yang terjadi pada 20 Maret 2034. Meskipun peristiwa GMT di suatu lokasi dapat diprediksi dengan baik, peristiwa tersebut tidak berulang di lokasi sama dengan siklus tertentu.

GMT sebelumnya yang dapat diamati di Indonesia adalah GMT pada 11 Juni 1983 yang jalur totalitasnya melewati Jawa, Sulawesi, dan Papua juga GMT pada 18 Maret 1988 yang jalur totalitasnya melewati Sumatera dan Kalimantan. Adapun, GMT yang akan kembali dapat diamati di Indonesia adalah GMT pada 20 April 2023 yang jalur totalitasnya melewati Papua dan GMT pada 20 April 2042 yang jalur totalitasnya melewati Sumatera dan Kalimantan.

Menurut Andi, BMKG akan memanfaatkan peristiwa alam itu untuk melakukan pengamatan untuk mendapatkan informasi gangguan medan magnet bumi dan gravitasi efek dari GMT serta rekaman peristiwa GMT. Sedangkan, sasaran dari pengamatan GMT adalah untuk mengamati dan merekam saat-saat terjadinya GMT, serta mengetahui perubahan terhadap variasi medan magnet bumi.

“Kami memanfaatkan untuk mengetahui perubahan anomali gravitasi serta efeknya yang diukur dari tempat-tempat tertentu di permukaan bumi,” jelas Andi. Kepala Lembaga Penerbangan dan Djamaluddin memaparkan, gerhana merupakan sebuah peristiwa astronomi, di mana ada suatu objek yang menghalangi objek lainnya.

Berdasarkan teori Albert Einsteins, cahaya dibelokan oleh suatu masa yang besar. Pada saat itu gerhana pernah menjadi pembuktian dari teori fenomenal. “GMT kali ini akan terjadi di wilayahwilayah tertentu yang kebetulan sebagian besar terjadi di daratan di wilayah Indonesia, seperti sebagian wilayah Sumatera, Bangka, Kalimantan, serta Sulawesi, yang nantinya akan berakhir di Hawai,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Taman Ismail Marzuki, seperti dikutip dari lapan.go.id.

Dia menambahkan, wilayah lintasan terjadinya gerhana digambarkan dalam wilayah elips dengan jalur sempit sekitar 100-150 kilometer. GMT hanya dapat diamati dari daerah yang dilintasi bayangan umbra bulan. Peristiwa GMT di sebagian besar wilayah di Indonesia dapat diamati dengan persentase terjadinya gerhana mencapai 60-90%.

GMT ini diperkirakan terjadi pada pagi hari, dimulai dari pada pukul 06.00 WIB. Lain halnya dengan dosen ITB, Premana W Permadi. GMT ini dia istilahkan sebagai peristiwa tertutupnya seluruh piringan matahari, sedangkan yang nampak justru korona atau mahkotanya, di mana mahkota tersebut biasanya tersembunyi.

Dampaknya, terjadi defleksi atau pembelokan lintasan cahaya. Lalu apakah ada anomali gravitasi ketika GMT? Hal ini yang menurutnya masih memerlukan penelitian dan kajian lebih mendalam. Sejauh ini masih terjadi silang pendapat terkait hal tersebut. Namun, GMT tentunya akan sangat berdampak bagi negara atau wilayah yang sangat bergantung sumber energinya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya, salah satunya Amerika Serikat.

Fenomena ini ternyata berdampak terhadap kehidupan hewan. Perubahan perilaku hewan akan sangat terlihat, antara lain burung berhenti berkicau, kehidupan menjadi sunyi, kelelawar keluar dari sarangnya, nyamuk juga semakin banyak mencari santapan, serta jangkrik yang mengeluarkan suara nyaringnya. Hal ini disebabkan hewan-hewan tersebut mengalami kebingungan.

Hermansah