Edisi 28-02-2016
Tetap Waspada Melihat GMT


Gerhana Matahari Total (GMT) merupakan suatu fenomena geofisika yang terjadi saat orbit bulan terhadap bumi berada dalam satu garis lurus dengan orbit bumi terhadap matahari, sehingga bayangan bulan akan menutupi matahari.

Fenomena ini umumnya berlangsung selama 2-3 menit. Gerhana matahari dapat terjadi secara total maupun parsial. Untuk mendapatkan momentum itu, sejumlah wisatawan maupun ilmuwan telah mengincar beberapa lokasi sebagai tempat pengamatan. Baik itu di daratan ataupun laut. Laut masih dijadikan sebagai tempat favorit untuk aktivitas itu.

Menurut Manajer Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan PT Pelni Akhmad Sujadi, pemerintah telah menyewa kapal milik Pelni untuk menfasilitasi masyarakat melakukan pengamatan Gerhana Matahari Total (GMT). “Melihat fenomena itu akan jauh lebih baik dari lautan,” kata dia. Menurut Akhmad, wisatawan maupun peneliti bisa mengamati GMT lebih bebas jika melihat dari laut.

Jika merasa lokasinya kurang tepat, bisa bergeser ke lokasi lain. Tanpa khawatir diganggu oleh kebisingan ataupun keterbatasan lokasi pengamatan. Tetapi untuk melihat GMT, masyarakat diharapkan berhati-hati. Ada baiknya menghindari menatap matahari secara langsung saat gerhana matahari. Hal itu adalah satu-satunya cara terbaik untuk mencegah terjadinya solar eclipse retinopathy.

Menurut dokter dari Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Iwan Sovani, apabila ingin melihat gerhana. Disarankan menggunakan kacamata khusus untuk gerhana yang dilengkapi dengan filter sinar ultraviolet (UV) dan inframerah (IR) tertentu yang mengandung lapisan tipis aluminium, chromium, atau perak. Filter khusus ini juga dapat dipasang pada teleskop atau teropong.

Masyarakat juga dapat menggunakan kaca mata tukang las dengan tingkat kegelapan nomor 14. Meskipun cukup aman, kaca mata dengan filter matahari ini juga sebaiknya tidak digunakan lebih dari dua menit berturut-turut, dan jangan melepasnya saat masih menghadap matahari. “Cara yang paling aman melihat gerhana matahari adalah menggunakan proyeksi indirect di layar putih, dinding atau selembar kertas putih.

Cara lainnya adalah menggunakan kamera lubang jarum (pinhole ),” papar dia. Kaca mata hitam komersial yang banyak dijual di pasaran tidak memiliki filter sinar ultraviolet dan infrared yang sesuai. Begitu pula dengan teropong dan binocular biasa. Bagi yang ingin memotret gerhana matahari, pastikan kamera juga dipasang filter matahari sehingga melindungi sensor kamera dan mata.

Filter matahari ini dapat dibeli di tokotoko fotografi, toko perangkat keras, atau dibeli secara online. Menurut Arief Kartasasmita dari Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, saat gerhana matahari terjadi, sebagian besar sinar matahari akan tertutup bulan. Sehingga langit terlihat gelap dan menatap langsung ke arah matahari tidak akan terasa silau.

Padahal dalam keadaan ini, ukuran pupil mata menjadi lebih lebar sehingga semakin banyak sinar Matahari yang masuk ke dalam mata. Hal itu mengakibatkan semakin besar pula kerusakan di retina. Menatap sinar matahari kurang dari satu menit saja sudah dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan. “Apabila pernah melakukan percobaan membuat titik api dari sinar matahari menggunakan kaca pembesar, seperti itulah efek sinar matahari dapat membakar retina,” papar dia.

Kondisi ini dapat timbul tanpa nyeri dan tidak langsung terasa. Keluhan penglihatan dapat timbul satu hari hingga satu bulan setelah melihat gerhana matahari. Gejala yang dapat terjadi di antaranya adalah penglihatan buram, terdapat skotoma (bayangan hitam yang menutupi pandangan), metamorfopsia (melihat garis lurus menjadi bengkok, melihat benda menjadi lebih besar/ kecil), gangguan penglihatan warna, silau dan sakit kepala.

Umumnya keluhan terjadi pada kedua mata. Pada sebagian besar kasus, tajam penglihatan dapat kembali normal dalam beberapa bulan, tetapi beberapa pasien mengalami kerusakan permanen tajam penglihatan dan skotoma yang menetap. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis solar eclipse retinopathy diantaranyaadalahfunduskopi, optical coherence tomography (OCT), fluorescein fundus angiography (FFA), pemeriksaan lapang pandang, dan elektroretinografi.

Hermansah