Edisi 28-02-2016
Kapal-Kapal Monumental


Seniman Fendry Ekel menggelar pameran tunggalnya di Indonesia bertajuk 1987. Ia menjelaskan secara metaforis perkembangan pemikirannya dengan lukisan kapal-kapal dan juga karya-karya lainnya.

Karya-karya Fendry banyak menampilkan lukisan berupa kapalkapal layar yang megah dan sangat artistik. Bagi mereka yang akrab dengan perjalanan lukis Fendry Ekel, maka perkenalan dengan lukisan bertema kelautan bukanlah sebuah kejutan. Potret, teks, still life, arsitektur merupakan bagian dari karya-karyanya.

Bagi Fendry, karya-karya tersebut tidak ada batasan selagi menarik dan penting baik secara intelektual dan konseptual. Fendry pun menjabarkan bagaimana sesungguhnya sebuah karya lukis tentang kapal yang ia lukiskan sebenarnya adalah sebuah karya lukis pemikiran. Contoh itu ia sebutkan dengan membahas tentang makna nasionalisme yang ia pikirkan.

Bagaimana ketika dirinya bermigrasi ke Eropa bersama keluarga dan harus meninggalkan Indonesia. Pada masa itu ia mencoba menafsirkan sebuah nasionalisme menurut cara pandangnya sebagai imigran. Saat Indonesia memiliki kebanggaan yang tinggi sebagai peraih Piala Uber dalam ajang olahraga bulu tangkis atau kebanggaan Sail Dewaruci yang dilakukan Angkatan Laut Indonesia kala itu, Fendry yang tinggal di Eropa kemudian seolah tertampar oleh perspektif lain tentang nasionalisme.

Bagaimana kebanggaannya akan Sail Dewaruci yang ternyata kapalnya dibuat di Jerman, atau bulu tangkis yang ternyata di Eropa hanya dijadikan olahraga anak-anak Pramuka, seolah memberi ruang lain dari nasionalisme. ”Pengalaman itulah yang kemudian seolah memberi ruang lain bagi saya dalam memahami nasionalisme,” katanya.

Nasionalisme yang ia anut pada awalnya ia sebut sebagai nasionalisme semu, namun saat ia lebih jauh berkarya, ia dapat menemukan arti nasionalisme tersendiri yang lebih realistis. Pada saat itulah Fendry kemudian melakukan riset tentang apa itu identitas. Karya-karya lukis Fendry yang dipamerkan kebanyakan berlatar warna hitam.

Menurut Fendry, hitam dan gelap adalah dua hal yang berbeda. Meski karya lukisnya terlihat suram karena warna yang digunakan, menurutnya kesuraman yang dilihat secara kasatmata itu merupakan sisi lain dari sebuah keceriaan. ”Yang harus dibedakan adalah tentang gelap dan hitam. Hitam tidak selalu gelap, dan hitam bukanlah tentang kesuraman, tapi bisa juga adalah sebuah keceriaan,” katanya.

Sedangkan karya yang menyajikan angka-angka, Fendry menjelaskan karya-karya seperti itu merupakan perwakilan dari realitas, namun di satu sisi realitas tersebut terlihat abstrak. Ia pun menyebut bagaimana karyanya bukanlah tentang pencarian sebuah bentuk, melainkan lebih dari pengolahan bentuk itu sendiri. Pameran yang berlangsung dari 12-21 Februari, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta itu dikurasi oleh Suwarno Wisetrotomo.

Kurator Suwarno menilai, pameran yang disiapkan sejak dua tahun silam tersebut memiliki momentum yang cukup tepat pada waktu pelaksanaannya. Hal itu terjadi karena secara kebetulan, pameran Fendry Ekel bersebelahan dengan pameran seorang seniman senior Srihadi Soedarsono. Menurutnya, hal tersebut menjadi menarik, karena terdapat dua aura yang berbeda dari kedua seniman dalam satu waktu dan tempat dengan karya masing-masing yang samasama memiliki nilai artistik dan estetis yang tinggi.

”Kedua seniman memasukan nilai artistik dan estetis yang tinggi,” katanya. Karya Fendry Ekel juga memiliki metafor yang sangat sederhana namun dapat memancing apa pun. ”Karya Fendry seolah menawarkan perspektif yang beragam bagi siapa saja yang melihatnya,” katanya. Ia menilai, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dalam melihat karyakarya Fendry.

Para pengunjung akan terpancing untuk menerjemahkan karya tersebut dengan perspektif apa pun. Angka- angka tahun yang dilukiskan oleh Fendry, menurut Suwarno memiliki narasi yang kuat pada tiap-tiap orang. Angka-angka tahun yang digambarkan Fendry dalam karya lukisnya bukanlah bentuk narsisme diri seorang Fendry, namun menunjukkan bagaimana angka-angka tersebut memiliki makna yang lain bagi siapa saja yang melihatnya.

”Angka-angka yang dilukiskan Fendry memiliki makna tersendiri, tergantung siapa yang menafsirkan,” katanya. Banyak sekali aspek yang dibicarakan mengenai lukisan kelautan sebagai tema penting. Walaupun aspek-aspek tertentu seperti identitas nasional, kekuasaan, hubungan antar-manusia dan alam, keyakinan, keterasingan dan perpindahan, sulit dilepaskan dari aliran lukis yang dianut oleh Fendry.

Keyakinan tersebut seolah meyakini benak pikiran Fendry dalam proses memilih dan menganalisa sumber-sumber lukisannya. Suwarno mengambil contoh bagaimana lukisan berjudul 1987 tampaknya semata-mata hanyalah mengenai hal-hal tersebut.

Padahal, dalam lukisan tersebut ada sesuatu yang berbeda dibanding ikonografi khas asalnya dari jenis tema kelautan yang memegang kunci pemahaman ba-gaimana aura dan makna dapat terbentuk di lukisan 1987 . Dalam melihat karya-karya Fendry Ekel, pengunjung pameran seolah diajak bagaimana memelihara memori tentang apa-apa yang terjadi di dunia, dalam diri, hingga rasa yang berkecamuk di dalam kepala.

Damayanti