Edisi 28-02-2016
Narasi Sosok Ibu di Kanvas Astari


Seniman Sri Astari Rasjid menggelar pameran retrospektif bertema, Yang Terhormat Ibu. Pameran tersebut berisi karya-karyanya yang dipamerkan dan diciptakan pada 1998 hingga yang terbaru.

Sepanjang 26 tahun perjalanan kariernya, sosok feminis kerap tersirat dari karya-karya lukisnya. Pameran yang dikurasi oleh Adi Wicaksono dan berlangsung dari 27 Februari sampai 5 Maret, di Yogyakarta tersebut tak hanya menghadirkan karya- karya Astari berupa lukisan, melainkan juga menampilkan karya tari bedaya, pentas puisi Jawa, hingga pergelaran wayang kulit oleh Ki Seno Nugroho.

Pameran yang dihadirkan sebagai bentuk penghormatan kepada sosok ibu ini berbicara tak hanya tentang peran seorang ibu belaka. Lebih dari itu, sosok ibu lebih tersirat sebagai sebuah kekuatan. ”Sosok ibu bukanlah hanya tentang peran ibu, tapi lebih dari itu adalah tentang kekuatan yang tersirat tentang ibu,” katanya. Menurutnya, sosok ibu adalah sosok yang menghidupi semesta, apapun sektornya.

Baik rumah tangga, politik, ekonomi, alam, dan lainnya. Sosok ibu adalah sesuatu yang mengayomi dan memberikan sebuah penghidupan. Layaknya rahim yang memberikan kenyamanan kepada sebuah janin, sosok ibu kurang lebih dimaknai seperti itu. ”Ibu adalah kebudayaan, ibu kemanusiaan, dan ibu bumi,” katanya. Ibu sebagai insan pemilik rahim yang menjadi tempat berlangsungnya penciptaan manusia.

Ibu bumi sebagai lambang kesuburan dan penjaga keberlangsungan kehidupan. Selain mengenai sosok ibu secara general, Astari juga menyebut bahwa pameran retrospektif tentang sosok ibu juga sekaligus menjadi penghargaan terhadap ibunya. Sosok ibunya dinilai sebagai sosok sentral yang menjadikan dirinya seperti pada titik pencapaian sekarang.

Astari dikenal sebagai wanita keturunan Jawa yang mendapatkanpelajarantentangtempat asal leluhur juga budaya dan tradisi yang berlangsung. Hal tersebut menjadi unik karena, Astari lahir di Jakarta dan tumbuh dewasa di beragam negara, mengikuti orangtua yang menjalani tugas sebagai diplomat. Maka tak heran, sentuhan budaya tradisional dan perkembangan budaya global cukup mempengaruhi karya dan proses berpikir seorang Astari.

Selama berkarier, Astari merupakan seniman yang banyak mengembangkan bentukbentuk simbolik yang berkaitan denganunsurdasaryangdimiliki oleh setiap individu. Yaitu daya maskulin dan feminin. Bahwa dalam diri manusia selalu terdapat dua daya tersebut yang saling bersinergi untuk mencipt akan sebuah keseimbangan.

Daya maskulin dan feminin me-miliki potensi yang dapat tumbuh dan berkembang dengan sosiohistoris yang berbeda-beda. Dua daya tadi tak berarti merujuk pada jenis kelamin (gender) dalam diri seorang manusia, melainkan tentang potensi tentang kekuatan logis (maskulin) dan kekuatan hati (feminin).

Kecenderungan satu dari dua daya tadi dalam diri manusia banyak dipengaruhi dengan karakteristik budaya tempat manusia hidup. Secara khusus, Astari banyak mengambil karya-karyanya dari unsur asalnya, Jawa. Astari menilai, Jawa sebagai rahim atau tempatnya berasal merupakan tempat bermula segala proses kultur yang dialaminya, dan penjelajahan hidupnya di kancah global merupakan sebuah makna yang kembali berpulang ke tempat asal bermula.

Imas damayanti