Edisi 28-02-2016
Mengefisienkan Kursus Bahasa Asing


Tomy Yunus mampu menangkap peluang bisnis dari keterbatasan finansial maupun waktu masyarakat yang ingin belajar bahasa asing bersama seorang native teacher.

Alih-alih mengajarkan bahasa asing secara konvensional di Tanah Air, ia memilih menciptakan tempat kursus bahasa online yang lebih efisien. Tentu saja, dengan tenaga pengajar yang juga native teacher.Memiliki kemampuan berbahasa asing seperti bahasa Inggris merupakan salah satu elemen penting dan paling mendasar dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Untuk mempelajarinya secara singkat dan efektif, kita biasanya memerlukan biaya yang tidak murah, apalagi bila sampai belajar di negara asalnya. Hal tersebut yang mendasari Tomy untuk mendirikan tempat kursus bahasa secara online dengan nama Squline. Situs ini memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin mendalami bahasa asing seperti Mandarin dan Inggris dengan panduan seorang native teacher.

Proses belajarnya pun dilakukan secara one on one alias satu mentor satu murid dengan biaya terjangkau. Bagaimana Tomy mendapatkan ide membuat Squline serta apa saja kendala yang dihadapinya? Berikut kutipan wawancara KORAN SINDO dengan pria lulusan Universitas Bina Nusantara tahun 2009 ini.

Bagaimana Anda bisa memiliki ide untuk mendirikan Squline?

Semua berawal dari pengalaman pribadi saya, pada tahun 2009 saat saya bersama rekan saya, Yohan Limerta, pergi ke Beijing untuk belajar bahasa Mandarin. Saat itu kami tidak mengerti sama sekali bahasa Mandarin, meskipun kami berasal dari keturunan Chinese. Jadi, kami belajar benarbenar dari dasar.

Saat berangkat, kami bertemu teman-teman lain, di antara mereka ada yang pernah mengambil kursus bahasa Mandarin sebelumnya. Ada yang sudah kursus selama lima tahun, bahkan lebih. Akan tetapi, meskipun telah belajar bertahun- tahun, mereka belum mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga akhirnya memutuskan belajar langsung dengan native speaker di Beijing.

Dari pengalaman mereka, saya melihat, meskipun telah mempelajari bahasa tersebut bertahun-tahun, tapi jika mentor tidak mendorong untuk terus mempraktikannya, akan sulit untuk menguasai. Setelah enam bulan kursus di Beijing, saat kelulusan saya mendapatkan hasil yang sama, bahkan tidak jauh berbeda dengan mereka yang pernah memiliki pengalaman kursus bahasa tersebut.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya itu, saya berkesimpulan bahwa untuk mempelajari bahasa secara singkat, sebaiknya diajarkan oleh native teacher, karena dengan mereka kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui bahasa yang mereka ajarkan. Mentor atau guru tersebut tidak paham bahasa kita atau saya, orang Indonesia.

Jadi, sebisa mungkin saya berusaha memahaminya dan lebih efektif untuk para murid. Pada Januari- Februari 2013, saat itu saya masih melanjutkan S-2 di Tiongkok, sedangkan Yohan sudah kembali ke Indonesia. Ketika itu kami menghubungi teman-teman yang ada di Indonesia, yang ingin belajar bahasa Mandarin langsung dengan native teacher namun memiliki keterbatasan waktu dan biaya.

Kemudian, saya menghubungkan mereka menggunakan aplikasi Skype (video vall). Awalnya saya hanya memperkenalkan teman di Indonesia dengan teman saya yang ada di Tiongkok, hingga akhirnya kita mendapatkan 30 peserta yang bersedia melakukan pembelajaran jarak jauh. Ternyata, banyak warga Indonesia yang tertarik dengan sistem tersebut. Melihat animo yang bagus itu, kami pun memutuskan untuk mendirikan Squline pada Juli 2013.

Apa itu Squline dan seperti apa metodenya?

Squline merupakan kursus atau belajar bahasa dengan platform online, yang memiliki konsep berbeda dengan lembaga kursus lain pada umumnya. Kami mengombinasikan mentoring secara langsung one on one dengan konten multimedia learning seperti video conference, screen sharing, typing, dan drawing character sehingga pembelajaran lebih efektif.

Hingga saat ini Squline memiliki dua pilihan bahasa, yaitu Inggris dan Mandarin. Nama Squline berasal dari kata school yang berarti sekolah, dan line yang artinya online. Zaman saya dulu, tahun 1990-an, kita menyebut sekolah dengan kata skul. Jadi, itu sudah familiar, menurut saya. Squline memiliki enam level, dari beginner sampai advance. Kami juga memiliki silabus tersendiri.

Tapi, karena peserta sebagian besar berasal dari kalangan profesional, maka kami pun menyediakan materi by custom seperti profesional dari dunia banking, tourism, dan hospitality yang ingin belajar bahasa sesuai dengan bidang mereka. Squline memberikan berbagai macam kelas, baik Inggris maupun Mandarin, mulai dari percakapan, business English, TOEFL/IELTS preparation, business Mandarin , conversation Mandarin, dan HSK preparation.

Seperti apa tantangan yang Anda hadapi saat pertama kali mendirikan Squline?

Kami banyak mendapat hambatan, apalagi saat ingin memulai dan memperkenalkan Squline pada 2013. Saat itu belum ada lembaga yang fokus pada online learning untuk mengajarkan bahasa, sehingga kami menjadi kursus bahasa online pertama. Kami harus uji coba sendiri, baik sistem pemasaran, manajemen, maupun metode pembelajaran yang cocok untuk peserta didik.

Selain itu, koneksi jaringan di Indonesia saat itu masih belum stabil, belum ada Indie Home. Padahal, Squline tergantung pada koneksi internet serta pemahaman masyarakat yang saat itu belum banyak yang paham ataupun mengenal video call seperti menggunakan Skype ataupun platform video conference lain. Ditambah lagi, pada 2013 momentum ASEAN Economic Community atau MEA masih jauh dan masyarakat belum terlalu menyadari serta memahami pentingnya kemampuan berbahasa.

Bagaimana perkembangan Squline saat ini?

Perkembangannya sampai saat ini sudah sangat bagus, berbekal berbagai pengalaman kami sehingga kami bisa melakukan system development yang lebih baik. Selain itu, dengan semakin mudahnya mengakses internet serta kecepatannya yang lebih baik, maka semakin banyak yang mengenal dan mengikuti kursus dengan kami. Selain dari pemasaran yang kami lakukan, tentu. Apalagi 2014 sampai 2015 kesadaran masyarakat terhadap MEA semakin meningkat. Hingga saat ini kami memiliki lebih dari 10.000 pengguna untuk versi free trial, sedangkan yang berbayar lebih dari 500 pengguna.

Berasal dari mana peserta kursus Anda?

Para peserta yang kami miliki sebagian besar berasal dari kalangan profesional. Sebanyak 90% peserta berasal dari Indonesia, sementara 10%-nya dari luar Indonesia seperti Thailand, Filipina, China, Jepang, dan Korea. Sedangkan untuk mentornya, kami bekerja sama dengan lima perguruan tinggi yang berada di Filipina serta Tiongkok.

Apa harapan Anda dan inovasi seperti apa yang akan Anda lakukan?

Sampai saat ini Squline masih fokus pada kursus bahasa secara online. Tapi, kami ingin mengembangkannya lagi dengan membuka kursus bahasa Indonesia dan Jepang. Selain itu, kami juga ingin mengembangkan sekolah atau kursus yang tidak hanya fokus pada bahasa, karena sistem kami sangat memungkinkan untuk bisa belajar secara online.

Robi ardianto