Edisi 28-02-2016
Inspirasi Batu Akik dalam Legitnya Burayot


Makanan tradisional khas Garut yang satu ini tidak kalah populer dengan dodol ataupun kerupuk kulit. Dia adalah burayot. Berbahan dasar tepung beras dan gula merah, kue berbentuk unik ini kini hadir dalam beberapa varian rasa seperti pandan, beras hitam, mentol, dan stroberi.

Siapa sangka inovasi rasa burayot tersebut terinspirasi dari warna-warni batu akik asal Garut yang sudah; dikenal beberapa bulan belakangan. Maka tercetuslah nama burayot pancawarna. ”Ketika demam batu akik melanda, termasuk batu asal Garut yang dikenal dengan pancawarnanya, saya kepikiran untuk membuat burayotdenganwarna-warnaitu.

Karena burayot susah dimodifikasi, saya hanya memainkan warna dan rasa saja,” ujar pembuat burayot, Irma Widyawati, kepada KORAN SINDO . Burayot milik Irma diberi merek Bulilis, kependekan dari Burayot Amis Geulis. Menurutnya, burayot pancawarna hijau dibuat dari pewarna rasa pandan, burayot pancawarna merah muda dari rasa stroberi, dan burayot pancawarna biru didapat dari tambahan rasa mentol.

”Ketika dikunyah bukan hanya terasa kerenyes, manis, dan legit, tapi juga terasa aroma mint dan hangat di mulut,” ujarnya. Burayot pancawarna hitam pekat terbuat dari beras merah. Namun untuk rasa kue yang satu ini terbilang cukup mahal karena bahan dasar yang sulit dicari. ”Untuk menghasilkan warna hitamnya, sebelum diolah beras merah juga digiling terlebih dahulu sampai halus,” ungkap Irma.

Menurutnya, burayot rasa orisinal maupun rasa baru diolah dengan cara yang sama. ”Sebelumnya bahan utama, yaitu beras, mesti direndam semalaman. Pagi harinyabaru ditiriskan dan digiling sehingga menjadi tepung beras,” kata wanita yang sudah menjalani usaha kue sejak tujuh tahun lalu. Untuk membuat burayot, digunakan 1 kg beras berbanding 600 gram gula merah. Tahap pertama, cairkan gula merah dengan sedikit air.

Memasak gula merah ini menjadi faktor penentu. Jika hasilnya terlalu cair atau masih keras, burayot dipastikan akan gagal. Jadi gula merah yang dicairkan mesti merambat seperti karamel. ”Di sinilah kuncinya,” imbuh Irma. Setelah gula dicairkan dan dingin, kemudian dicampurkan bersama tepung beras dan kacang tanah goreng yang sudah ditumbuk halus hingga merata. Tambahkan juga setengah sendok teh garam untuk menambah rasa gurih.

Setelah semuanya tercampur, adonan burayot rasa orisinal ini siap digoreng. Dalam proses pembuatan, kebanyakan orang menyangka adonan burayot dibentuk bulat kemudian diisi. Padahal, setelah adonan digoreng hingga matang, ujung kulit kue ditusuk menggunakan sumpit kayu dan ditiriskan dengan cara digantung sehingga akan terlihat ngaburayot atau bergelantungan.

Dari hasil bentuk inilah kue yang dikenal masyarakat Leles, Kadungora, dan Wanaraja itu dinamakan burayot. ”Gunanya digantung agar mendapatkan tekstur burayotnya, maka adonan menumpuk di bagian bawah. Proses awalnya memang dibulatkan terlebih dahulu, kemudian dipipihkan sebelum digoreng.

Jika adonan sukses, burayot akan langsung mengembang begitu masuk ke dalam minyak goreng,” papar Irma. Penikmat burayot kini bukan orang Sunda saja. Kue tradisional ini sering dihidangkan saat acara pernikahan, khitanan, dan pengajian. ”Tapi, ada juga orang luar daerah yang nyari karena penasaran. Makanya, saya tidak hanya jualan di rumah atau ketika bazar, tapi juga memanfaatkan jaringan online ,” katanya.

Membuka rumah produksi di Kampung Cilageni, ibu dua anak ini membanderol harga burayot Rp27.000 per paket. Agar terlihat menarik, digunakan kemasan besek atau kotak dari anyaman bambu yang diwarnai merah dan kuning. ”Burayot ini saya buat jika ada pesanan saja karena hanya tahan hingga dua hari. Jika lebih dari itu, teksturnya akan kering dan mengeras. Setelah dibuat, alangkah baiknya kalau langsung dimakan,” ujar dia.

Fani ferdiansyah