Edisi 28-02-2016
Pemuda Harus Maksimalkan Potensi


JAKARTA– Persaingan ketat di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mengharuskan Indonesia menciptakan angkatan kerja muda kreatif yang memiliki sejumlah keunggulan bila dibandingkan dengan tenaga kerja dari negara-negara lain.

CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) mengatakan, angkatan kerja muda Indonesia bisa bersaing dengan memaksimalkan keahlian dan kepintaran yang dimilikinya. Seseorang yang bekerja keras, kreatif, dan dibarengi inovasi dengan sendirinya dapat menumbuhkan daya saing serta jadi pembeda antara dirinya dengan tenaga kerja lain.

“Jadi ini penting sekali, bangunlah itu (karier) dengan sungguh-sungguh, dengan penuh kerja keras, dengan penuh usaha, berinovasi, kreatif supaya bisa beda dengan yang lain,” ujar HT saat memberikan ceramah ilmiah di hadapan wisudawan/ wisudawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Profesi Akuntansi (PPA) Universitas Trisakti di Jakarta kemarin. Dalam merintis karier, pemuda tidak bisa lagi berpegangan pada paradigma “seperti air yang mengalir”.

Sebaliknya, pemuda perlu menetapkan visi dan langkahnya agar arah untuk mencapai kesuksesan bisa menjadi jelas. “Harus punya visi mengenai apa yang akan dibangun. Kalau sudah menetapkan visinya, bangunlah itu dengan kerja keras,” lanjut HT. Entrepreneur atau wirausaha salah satu bidang yang sangat baik untuk digeluti pemuda.

Dengan jumlah pengusaha di Indonesia yang relatif masih sedikit, banyak ruang bisnis yang bisa dijamah dan dikembangkan. Dengan terjun sebagai entrepreneur, akan banyak lapangan kerja yang tercipta sehingga akan membantu masyarakat. “Paling tidak memilih karier sebagai entrepreneur. Dan bagi perguruan tinggi mungkin juga bisa mencoba membuka kesempatan yang lebih besar lagi untuk program studi entepreneur ini,” tutur HT.

HT optimistis dengan model angkatan kerja muda seperti itu, hadirnya MEA atau pasar bebas negaranegara Asia Tenggara bukanlah sebuah ancaman, melainkan kesempatan untuk Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. “Jadi kita sangat berharap anak muda Indonesia bisa seperti itu, bisa membangun diri lebih baik lagi,” kata HT.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Profesi Akuntansi (PPA) Universitas Trisakti Bambang Sudaryono sepakat bahwa MEA bukanlah ancaman untuk Indonesia, tetapi peluang bagi generasi muda untuk tampil dan bisa memberikan kontribusinya kepada negara. Bambang mengatakan dalam menjalani persaingan di MEA, memang yang akan unggul adalah tenaga kerja yang punya daya kreasi dan inovasi.

Maka dari itu kerja keras yang selama ini ditanamkan di bangku sekolah bisa disempurnakan dengan penyertaan kualitas di dalamnya. “Apalagi para wisudawan akan jadi pekerja internasional, tentu sertifikasi lokal dan internasional mungkin jadi pilihan,” kata Bambang. Dia melanjutkan, dengan pangsa pasar yang besar, tentu Indonesia di era MEA ini akan jadi sasaran yang dituju tenaga kerja dari banyak negara.

Namun dia berharap hal sebaliknya bisa terjadi, yakni Indonesialah yang akan mengirimkan produk dan tenaga kerjanya ke negara lain. “Di zaman pasar bebas negara maju juga ingin menjual produknya ke kita. Tapi kalau kita bisa berinovasi, tentu produk kita akan jauh bersaing,” ucapnya. Universitas Triskati telah banyak menghasilkan lulusan program pendidikan profesi akuntansi.

Khusus angkatan XXV, sebanyak 61 orang yang menjalani wisuda. Terdapat dua mahasiswa yang berhasil lulus dengan IPK terbaik. Wisudawan terbaik pertama, Ajat Sudrajat, mengaku terinspirasi dengan paparan yang disampaikan HT. Dia setuju bahwa MEA memang akan menjadi tantangan tersendiri bagi angkatan kerja muda, tapi di sisi lain juga menjadi ruang yang besar untuk berkiprah di bidang profesi yang telah dipilih. “Kita tidak khawatir, apalagi kalau punya bekal ilmu yang cukup. Asal berani, kita pasti bisa bersaing,” kata Ajat.

Dian ramdhani