Edisi 28-02-2016
Polri Perlu Benahi Sistem Rekrutmen Anggota


JAKARTA – Sistem rekrutmen di kepolisian kembali dipertanyakan menyusul kejadian oknumanggotaPolridiKalimantan Barat yang membunuh dua anaknya dengan cara memutilasi.

Kejadian ini menambah panjang deretan kasus oknum polisi di lapisan bawah yang melakukan perbuatan sadis. Sebelumnya juga banyak kasus oknum polisi terlibat pembunuhan, termasuk melakukan bunuh diri. Muncul dugaan sistem rekrutmen calon polisi, terutama dalam hal tes kejiwaan, lemah. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dan pembenahan sistem perekrutan anggota Polri agar kejadian serupa tidak terulang.

Hal itu disampaikan secara terpisah oleh anggota Komisi III DPR Desmond J Mahesa dan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kemarin. “Memang kita tidak bisa menggeneralisasi kasus ini. Tapi ini bisa dilihat sebagai teori ‘gunung es’, menunjukkan bahwa ada persoalan serius di lapisan bawah kepolisian, yakni persoalan kejiwaan,” kata Neta di Jakarta kemarin.

Menurut Neta, ada berbagai kasus sadisme yang dilakukan polisi lapisan bawah mulai dari kasus salah tangkap, menyiksa tersangka, membunuh sesama polisi, membunuh pacar, membunuh istri, menembak atasan, polisi bunuh diri, hingga terakhir memutilasi anak sendiri. Tingginya tingkat kesadisan yang dilakukan para oknum polisi dari tahun ke tahun itu menunjukkan betapa lemahnya proses rekrutmen di Polri.

Psikotes dalam rekrutmen seolah tidak mampu menyaring figurfigur yang bermasalah. “Pembenahan sistem rekrutmen harus jadi prioritas. Isu bayar-membayar untuk masuk ke kepolisian harus benarbenar diatasi agar orang-orang bermasalah tidak lolos menjadi polisi,” sebutnya.

Desmond J Mahesa mengatakan, tugas seorang polisi sangat berat sehingga seharusnya hanya orang-orang yang mampu menahan tekanan yang bisa masuk ke instansi tersebut. Terkait kasus oknum polisi yang membunuh anak di Kalimantan Barat Desmond mendesak kepolisian meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat karena telah melakukan kelalaian dalam hal menjaring anggota.

“Kepolisian harus minta maaf walaupun tidak sepenuhnya merupakan kesalahan mereka karena yang melakukan tes psikologi adalah tim dari kalangan profesional,” ujar politikus Partai Gerindra itu. Desmond menyarankan agar polisi lebih memperketat sistem rekrutmennya dengan menunjuk partner yang kredibel untuk melakukan tes.

“Ke depan polisi harus punya standar psikolog yang akan menjadi partner-nya, jangan yang abalabal,” ungkapnya. Sementara itu, guru besar FakultasPsikologi UniversitasIndonesia (UI) Sarlito Wirawan Sarwono menjelaskan, bisa saja oknumpolisiyangmembunuhanak kandungnya itu belum mengalami gangguan kejiwaan saat dia mengikuti tes masuk Polri.

“Bisa saja sakitnya mulai saat dia sudah jadi polisi,” katanya kemarin. Namun, agar hal seperti itu tidak terjadi lagi, diperlukan tes kejiwaan secara berkala. Hanya yang menjadi pertanyaan, kata Sarlito, siapa yang akan melakukan tes itu karena psikolog di tubuh Polri jumlahnya hanya puluhan, sedangkan anggota kepolisian itu ratusan ribu.

“Belum lagi anggota polisi yang tersebar hingga pelosok dan pulau terluar,” ungkapnya. Brigadir Pol Petrus Bakus membunuh dua anak kandungnya pada Jumat (26/2). Sang istri juga nyaris menjadi korban sebelum berhasil melarikan diri. Bakus tega membunuh anaknya diduga karena mengidap gangguan kejiwaan. Bahkan dia diduga telah mengidap gejala skizofrenia sejak masih berumur 4 tahun.

Hasyim ashari/ Okezone