Edisi 19-03-2016
Polri Ungkap Jaringan Terbesar Perdagangan Orang


JAKARTA - Bareskrim Polri berhasil mengungkap jaringan perdagangan orang terbesar di Indonesia. Dari jaringan ini, aparat berhasil menangkap pelaku bernama Wihanti alias Hani alias Sherli.

Selama beroperasi ada lebih dari 600 korban yang tertipu jaringan Sherli tersebut. ”Korban dijual ke Turki yakni di Istanbul. Sherli merupakan trafficker terbesar yang ada di Indonesia,” ungkap Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri Kombes Pol Umar Surya Fana di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Umar menjelaskan, modus yang dilakukan Sherli adalah menjanjikan para korban sebagai calon tenaga kerja Indonesia (TKI) dan pekerjaan ke Mesir, Arab, dan Dubai. ”Jadi, diterbangkan dari Indonesia ke Kuala Lumpur menuju Istanbul. Dari Istanbul dibawa ke Dubai dan Mesir. Karena tidak menggunakan jalur res-mi, ditolak dan dikembalikan ke Istanbul.

Di Istanbul sudah ditangkap (korban) oleh kepolisian Istanbul semuanya ada 12 orang,” ungkap Umar. Para korban ini dijanjikan pekerjaan kepada pengungsi Suriah yang berekonomi menengah ke atas. Namun, yang menampung adalah para pengungsi Suriah yang berekonomi menengah ke bawah.

”Jadi pekerjaan tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Kita juga dapati korban ada bekas luka, sekarang di KJRI Istanbul,” paparnya. Bareskrim Polri, lanjutnya, sudah bekerja sama dengan kepolisian Turki dan dua korban sudah dikembalikan ke Indonesia. Sebelum Sherli, jaringan terbesar ini dipegang oleh tersangka bernama Bungawati yang sedang menjalani proses sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Jaringan Bungawati sudah menelan korban sebanyak 13.000 orang lebih. Selain berhasil mengungkap jaringan Sherli, Bareskrim juga menangkap seorang tersangka bernama Sunata atas dugaan perdagangan orang ke Korea Selatan, Belanda, Turki, dan beberapa negara maju lain.

Tersangka melakukan aksinya dengan menjanjikan para korban untuk bekerja di sebuah perusahaan, namun kenyataannya mereka dipekerjakan sebagai petani. ”Mereka dijanjikan kerja di perusahaan, tapi saat di sana malah bekerja sebagai pemanen sayur libak dan jadi penambak,” ungkap Umar.

Sunata telah merekrut 26 korban asal Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan iming-iming diberikan gaji 80 hingga 110 won dalam sehari. Namun, kenyataannya 110 won tersebut masih harus dipotong 30 won. ”Untuk ganti ongkos keberangkatan mereka (korban) dari Indonesia ke Korea yang mencapai Rp60 juta hingga Rp115 juta,” paparnya.

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, jaringan perdagangan orang yang berhasil diungkap Polri merupakan pemain lama. Migrant Care bahkan telah mencium jaringan ini sejak 2007 ketika melakukan advokasi pekerja migran yang diperdagangkan ke Irak.

Ketika itu, ungkap Anis, Migrant Care mendeteksi jumlah korban jaringan internasional ini sebanyak 75 orang. Tidak menutup kemungkinan korban yang lain masih banyak karena mereka bekerja dalam ancaman dan terpaksa bertahan karena tidak menemukan jalan keluar. Meski demikian, Anis mengapresiasi keberhasilan kepolisian mengungkap jaringan ini.

Namun, Polri harus tetap menindaklanjuti dengan mengungkap sel-sel jaringan yang masih bebas bergerak. Jaringan Sherli ini tidak hanya terdiri atas satu sel, melainkan masih menyebar di daerah lain dan tetap memproses pengiriman pekerja ilegal ke negara konflik lain.

Keuntungan yang didapat dari modus pengiriman TKI ke negara konflik sangat menggiurkan. ”Kami perkirakan satu orang yang direkrut jaringan perdagangan ini mencapai Rp100 juta per kepala,” ungkapnya.

hasyim ashari/ neneng zubaidah

Berita Lainnya...