Edisi 19-03-2016
Ecofunopoly Ajak Masyarakat Cintai Lingkungan


Rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan menggugah Annisa Hasanah, 26, untuk menciptakan permainan edukasi berwawasan lingkungan bernama Ecofunopoly.

Permainan edukasi berbasis lingkungan yang diciptakan pada 2009 ini umumnya memiliki kesamaan dengan permainan anak-anak “monopoli”, baik dilihat dari segi tampilan maupun cara memainkannya. Perbedaannya terletak pada pesan yang ingin disampaikan, yakni mengajak masyarakat untuk mencintai lingkungan dari hal-hal yang paling kecil dan terletak pada bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan permainan ini.

Ecofunopoly dirancang khusus dengan menggunakan bahan-bahan daur ulang seperti kertas bekas yang digunakan untuk membuat pion dan kayu yang digunakan sebagai bahan dasar dadu. “Inti dari permainan ini sih sebenarnya agak mirip dengan monopoli. Bedanya permainan ini mengajak orang lebih peduli terhadap lingkungan, dan di situ ada sarana edukasinya, seperti mengajak orang untuk tidak buang sampah sembarangan.

Bahan-bahan yang digunakan dalam permainan ini juga tidak terbuat dari plastik. Kami sengaja menghindari bahan dari plastik,” tutur Annisa. Ide permainan tersebut muncul ketika Annisa masih duduk di bangku kuliah. Mendapati banyak generasi muda yang masih suka membuang sam - pah sembarangan, tidak mencintai lingkungan, dan munculnya fenomena climate change menggugah pikirannya untuk membuat social project yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda.

“Awalnya ide ini dari aku sendiri karena dulu kuliahnya sering membahas tentang lingkungan,” ucap Annisa kepada GEN SINDO . Untuk mencip - takan Ecofunopoly, dia tidak bekerja sendiri, me - lainkan dibantubeberapa temannya. “Tetap ada peran teman-teman yang membantu seperti de sain pemainan sampai proses produksi,” imbuhnya.

Satu set permainan Ecofunopoly terdiri atas satu papan permainan yang bentuknya menyeru - pai monopoli, enam buah pion daun warna-warni, seratus buah pion berwarna abu-abu yang digunakan sebagai denda apabila salah menjawab pertanyaan, serta sepuluh buah pion bibit hijau.

Seluruh pion ini terbuat dari kertas bekas. Selain itu terdapat 22 lembar kartu perilaku, 18 lembar kartu hijaukan, 18 lembar kartu panas, satu kartu pemanasan global, dan 15 lembar kartu bumi berbi - cara. Kartu-kartu ini berisi pertanyaan dan infor - masi yang dapat mengedukasi masyarakat tentang lingkungan dan bagaimana cara menjaganya. “Kartu-kartu ini sengaja dirancang khusus agar pesan-pesan tentang lingkungan dapat tersampaikan ke masyarakat.

Isinya, ya tentang pengetahuan dan pertanyaan seputar lingkungan,” sebutnya. Permainan pun berkembang pesat dan mulai dikenal banyak orang. Tak heran jika Ecofunopoly berhasil memenangi berbagai kompetisi, di antaranya Danamon Young Leaders Award 2009, ASHOKA Young Changemakers 2009, BAYER Young Environmental Envoy 2010, kandidat 3 besar Yahoo!

Indonesia kategori hijau, Young Environmental Leaders Program (YELP ) 2013, penerima beasiswa Bussiness Plan Bank Mandiri 2011 , Program Wirausaha Muda Kementerian Koperasi dan UKM RI 2015, dan Kreativitaet im Studium Award, University of Goettingen, Jerman 2014. Selain itu, permainan Ecofunopoly berhasil mendapatkan hibah dari Bank Mandiri untuk dijadikan sebagai UMKM.

“Berawal dari sekadar social project, kemudian ikut kompetisi terus mendapat hibah dari Mandiri untuk dijadikan usaha kayak UMKM. Untuk sekarang, produksinya masih di Ciawi,” sebutnya. Menurut Annisa, permainan Ecofunopoly ini tersedia dalam dua ukuran, yakni ukuran kecil dengan panjang 40 cm dan lebar 40 cm.

Adapun ukuran raksasa memiliki panjang 4 meter dan lebar 4 meter. “Kalau ukuran kecil, kami selalu ready stock, tapi kalau ukuran raksasa harus pre order karena memang ongkos produksinya lumayan mahal,” paparnya.

LAILI IRA MASLAKHAH
GEN SINDO
Institut Pertanian Bogor

Berita Lainnya...