Edisi 19-03-2016
Konsep Ecowatch Bantu Selamatkan Bumi


Di Tengah zaman yang serbacepat ini, jam tangan seolah menjadi aksesori yang tak bisa dilepaskan. Selain sebagai penunjuk waktu, jam tangan pun dapat menjadi ciri khas kaum urban.

Kreasi jam tangan pun kini sudah semakin beragam. Salah satu jam tangan tak biasa dan patut menjadi andalan adalah jam tangan dengan material kayu dengan merek Matoa. Nama Matoa diambil dari pohon matoa yang hanya tumbuh di tanah Papua, Indonesia. Disebut eco watch lantaran produk jam ini dikenal ramah lingkungan. Matoa memproduksi jam dengan bahan limbah kayu.

Kayu yang digunakan merupakan jenis kayu eboni dari Makassar dan jenis maple , kayu yang dikenal berwarna eksotis, serta memiliki pori-pori kecil khas Kanada. Selain itu, limbah kayu yang digunakan pun tak sembarangan. “Kami mencari limbah hasil potongan furnitur, tapi tidak semua limbah dapat digunakan. Jadi, ada beberapa kayu yang kami beli, tapi harus yang besertifikat.

Artinya bukan bahan hasil potongan ilegal,” ujar Algianda Melzendhy, Operasional General Manager Matoa Indonesia. Setiap tahunnya, Matoa telah menggunakan 1,5 meter kubik untuk produksi 1.000 unit. Bukanlah jumlah yang main-main. Produk yang berasal dari Bandung ini memilih kayu sebagai bahan baku karena bahan ini yang paling sedikit menghasilkan polusi, baik udara, air, dan limbah, serta sebagian besar dapat dimanfaatkan kembali.

Selain itu, kayu merupakan material yang unik jika dibuat jam tangan. Kelebihan produk jam tangan Matoa selain pemilihan material yang berkualitas, jam tangan ini pun murni merupakan buatan tangan. Mesin jam yang bagus menggunakan merek Minnolta dari Jepang. Selain itu, Matoa menyediakan garansi untuk setiap produknya.

“Kami akan ganti dengan yang baru jika jamnya patah. Asalkan masa garansinya masih berlaku,” tutur Lucky Dana Aria, pencipta brand Matoa. Matoa tidak hanya menawarkan produk yang unik dan berkualitas, juga membawa nama Indonesia. Tipe produk Matoa misalnya, nama-nama yang diusung merupakan nama-nama pulau di Indonesia, yaitu Flores, Sumba, Gili, Rote, Mayo, dan Jalak.

Konten lokal memang sengaja dibuat kental agar menjadi poin utama penjualan dengan target pasar internasional. Eksistensi produk yang dibanderol mulai Rp890.000 ini pun telah diakui dunia sebagai ciri keunikan budaya Indonesia. Lucky mengaku bahwa pesanan dari luar negeri terbilang tinggi, terutama Jepang.

Tingginya nilai jual Matoa, membuat Kementerian Pariwisata Indonesia mendukung penuh dengan menjadi bagian dari branding pariwisata Indonesia. Bahkan pemerintah melalui Kementerian Pariwisata Indonesia memilih produk Matoa sebagai salah satu merchandise resmi yang akan digunakan sebagai alat promosi Indonesia serta suvenir acara kenegaraan.

Agar kondisi lingkungan seimbang, Matoa memiliki kampanye setiap terjual 1.000 jam tangan, maka 1.000 bibit pohon baru mulai tertanam. Hal ini dilakukannya lantaran masih banyak orang-orang yang mendapatkan kayu dengan cara salah, yaitu dengan penebangan habis-habisan.

Selain itu, dalam penyelamatan bumi, Matoa kerap kali mengadakan event lingkungan. Adapun yang terakhir, yakni ajang revitalisasi hutan kota Babakan Siliwangi pada 25 Oktober 2015 lalu.

LINDA JULIAWANTI
Mahasiswi Politeknik Negeri Media Kreatif

Berita Lainnya...