Edisi 19-03-2016
Masyarakat Tak Perlu Resah, Equinox Fenomena Alam Normal


JAKARTA – Masyarakat tidak perlu berlebihan mengkhawatirkan isu gelombang panas Equinox pada Minggu (20/3) nanti. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Equinox sebagai fenomena alam normal.

Kabar datangnya Equinox sendiri meresahkan sejumlah negara tetangga. Seperti Malaysia dan Singapura, mereka telah memberikan peringatan kepada warganya. Bahkan, sejumlah warga di negara tersebut jatuh sakit akibat suhu panas. ”Equinox adalah peristiwa yang berkaitan dengan gerak semu matahari di mana dalam setahun matahari berada persis di Khatulistiwa.

Sekali waktu memang udara terasa panas, tetapi biasanya suhu panas tidak berbarengan dengan lintasan matahari, adajeda waktunya,” ujarKepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Hary Tirto Djatmiko di Jakarta kemarin. Dia menambahkan, udara panas sendiri tidak sematamata karena intensitas matahari, tetapi bisa juga karena banyaknya awan.

”Seperti halnya efek rumah kaca,” jelasnya. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S Swarinoto menambahkan, fenomena Equinox terjadi secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yakni 21 Maret dan 23 September. Saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi hampir relatif sama, termasuk wilayah yang berada di subtropis bagian utara dan selatan.

”Keberadaan fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis, di mana kita tahu rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia 32-36 derajat Celsius,” kata Yunus. Dia menerangkan, Equinox sendiri bukan fenomena seperti halnya heat wave yang terjadi di AfrikadanTimurTengahyangdapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama.

Namun, dia tetap mengingatkan bahwa kondisi cuaca di beberapa wilayah Indonesiasecara umumcenderungkering. Beberapa tempat seperti Sumatera bagianutaramulaimemasuki musim kemarau. ”Maka ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga dan lingkungan,” pungkasnya.

Dari negeri jiran, Malaysia dan Singapura mengingatkan bahwa meningkatnya temperatur bumi bisa menyebabkan korban berjatuhan karena kelelahan akibat panas dan serangan stroke akibat panas. Mereka pun mengimbau warganya untuk mengurangi aktivitas di luar rumah terkait fenomena Equinox pada Minggu (20/3) mendatang.

Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat 14 kasus terkait sakit karena panas sejak 1 Maret lalu hingga kemarin. Itu merupakan dampak fenomena gelombang panas. Gelombang panas mengakibatkan temperatur mengalami peningkat hingga 38,5 derajat Celsius di Penang, Kedah, dan Perlis. Curah hujan juga mengalami penurunan di Sabah dan Sarawak.

Menteri Kesehatan Malaysia S Subramaniam mengungkapkan, kasus terkait temperatur itu terdiri atas 11 kasus karena kelelahan akibat panas dan tiga serangan stroke akibat panas. ”Itu termasuk satu korban tewas, yakni calon petugas polisi akibat stroke pada Rabu (16/3) lalu saat mengikuti latihan fisik,” kata Subramaniam, dikutip New Straits Times.

Subramaniam mengungkapkan, dua kasus serangan stroke dilaporkan terjadi kemarin di Banting, Malaysia. Dia pun menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik. ”Masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah,” sarannya. Akibat korban yang berjatuhan, pemerintah Malaysia sedang mempertimbangkan pembentukan gugus tugas untuk menangani peningkatan temperatur.

Mereka juga siap menutup sekolah dan perkantoran jika gelombang panas mengalami peningkatan. ”Kita akan membentuk gugus tugas sebagai antisipasi,” kata Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Wan Junaidi Tuanku Jaafar. Dia menjelaskan, fenomena Equinox tidak akan berdampak terhadap gelombang panas.

Menurut dia, peningkatan temperatur itu diakibatkan fenomena El Nino.Diperkirakan, El Nino akan mengakibatkan temperatur bisa mencapai 40 derajat Celsius. ”Itu akan tetap bertahan hingga Mei atau Juni mendatang,” katanya dikutip The Malay Mail Online . Sementara itu, Badan Meteorologi Singapura (MSS) mengeluarkan peringatan tentang bahaya peningkatan temperatur pertengahan Maret ini.

Mereka memprediksi temperatur akan semakin kering dan panas dibandingkan bulan sebelumnya. ”Selama periode ini, temperatur maksimal mencapai 33 hingga 34 derajat Celsius dan bisa mencapai 36 derajat Celsius selama beberapa hari,” demikian peringatan MSS. MSS menyatakan cuaca panas itu disebabkan El Nino.

Selain itu, fenomena Equinox juga berkontribusi terhadap peningkatan temperatur tahun ini. Equinox tahun ini terjadi dua kali pada 20 Maret dan 22 September. Selama Equinox terjadi, matahari berada di puncaknya saat berada di Khatulistiwa. Itu mengakibatkan sinar matahari terpancar ke permukaan bumi cukup intensif sehingga meningkatkan temperatur.

Kementerian Kesehatan Singapura meminta warga agar menjaga kesehatan selama cuaca panas. Masyarakat Singapura juga diminta untuk mengenakan baju yang terang dan langsung minum agar terhindari dehidrasi. Kemarin Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional (NOAA) melaporkan temperatur di seluruh bumi mengalami peningkatan tajam Februari lalu. Februari menjadi periode terpanas sepanjang sejarah dunia.

Temperatur rata-rata secara global di darat dan laut untuk Februari 2016, merupakan tertinggi dalam catatan rekor NOAA sejak 1880. ”Rata-rata temperatur bulan lalu di bumi mencapai 13,38 derajat Celsius,” kata ilmuwan NOAA Jessica Blunden, dikutip AFP . Temperatur rata-rata itu merupakan metode gabungan suhu di darat, laut, dan atmosfer bumi.

Temperatur yang semakin panas ternyata memicu tren pemanasan yang membuat permasalahan di bumi. Para ilmuwan AS mengungkapkan, itu adalah dampak langsung perubahan iklim dan pembakar bahan bakar fosil yang memicu gas rumah kaca di atmosfer. Catatan temperatur juga menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah dan melampaui tahun sebelumnya.

Bulan lalu kondisi es di Artik juga mengalami kondisi yang tidak biasa. Luas laut es mengalami penyusutan 1,16 km persegi bulan lalu atau 7,54% dibawa rata-rata 1981-2010. ”Laut es di Artik mencapai titik terendah,” kata Jessica. Bukan hanya NOAA yang mengklaim bahwa Februari merupakan bulan terpanas.

NASA–lembaga antariksa AS, juga menggunakan teknik statistik yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang sama. Tim dari Universitas Alabama Huntsville yang menggunakan satelit juga menyatakan Februari menjadi bulan terpanas.

andika hendra/ dian ramdhani

Berita Lainnya...