Edisi 19-03-2016
Sebagian Besar Beras Ketan Mengandung Pemutih


SURABAYA - Ketan cukup familier di kalangan warga. Ada yang disajikan dalam bentuk ketan dengan parutan kelapa serta bubuk kedelai berikut kreasi lainnya, dan ada pula ketan yang diolah sebagai kue, lemper, wajik, dan lainnya.

Tanpa disadari warga, ketan yang menjadi bahan dasar kudapan itu mengandung zat pemutih (klorin) yang jika masuk tubuh bisa membahayakan kesehatan. Klorin lamalama akan terakumulasi. Kanker dan gagal ginjal merupakan penyakit yang salah satunya muncul akibat masuknya klorin ke dalam tubuh.

Risiko warga mengonsumsi ketan klorin cukup tinggi. Mayoritas beras ketan yang beredar di pasaran mengandung zat berbahaya itu. Survei sekaligus penelitian Dinas Ketahanan Pangan Pemkot Surabaya menunjukkan ada zat tersebut hampir di semua contoh beras ketan yang diuji.

Beras ketan diambil dari pedagang di sejumlah pasar tradisional hingga pasar modern, swalayan, supermarket, dan sejenisnya. Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan Pemkot Surabaya Oni Kestiana mengatakan, dibanding beras biasa, beras ketan lebih banyak mengandung zat klorin.

Dia mengasumsikan dari 10 sampling yang diambil, sembilan di antaranya mengandung klorin. Dinas Ketahanan Pangan selalu melakukan penelitian di balai penelitian bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan berikut Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

”Dari sisi keamanan pangan, klorin tidak untuk ditambahkan dalam bahan pangan. Klorin biasanya untuk kain dan tekstil. Yang pasti, klorin tidak masuk bahan tambahan pangan,” sebut Oni saat ditemui di kantornya kemarin. Dinas Ketahanan Pangan menyikapi keberadaan beras berklorin ini dengan menyurati PD Pasar Surya dan Disperindag.

Dua pihak berwenang itu diharapkan bisa mengimbau pedagang serta toko modern untuk tidak menjual beras ketan berklorin. ”Cuma untuk pedagang di pasar biasanya tidak bisa berbuat apa-apa setelah mengetahui beras ketannya berklorin. Jawabannya karena kulakan. Hasil penelitian ini juga kami sampaikan ke BPOM,” imbuhnya. Beras ketan yang selama ini beredar di pasaran Tanah Air berasal dari impor.

Ini karena produksi dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Subang, Jawa Barat, serta Lumajang, Jawa Timur adalah daerah penghasil beras ketan lokal. Bersamaan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekarang ini, beras ketan akan lebih mudah masuk, volumenya bahkan semakin besar.

Pemerintah berupaya menjaga ketersediaan beras ketan dalam negeri. Impor menjadi cara pemerintah. Fadjar Kurnia Hartati, dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, menyebut banyak bahan pangan maupun makanan di pasaran yang mengandung zat berbahaya. Soal beras ketan berklorin, Fadjar Kurnia mengakui konsumen kesulitan membedakan antara beras ketan tidak berklorin dan yang berklorin.

Soeprayitno

Berita Lainnya...