Edisi 19-03-2016
DKI Perketat Uji Kir Angkutan


JAKARTA – Pemprov DKI memperketat pelaksanaan uji kir bagi angkutan umum. Pengawasan ini untuk mengantisipasi angkutan tua tetap beroperasi di jalanan Ibu Kota karena mengancam keselamatan masyarakat dan menimbulkan ketidaknyamanan.

Uji kir termasuk penggantian sparepart kendaraan sesuai agen tunggal pemegang merek (ATPM), artinya onderdil yang diganti harus sesuai merek kendaraan. Aturan itu akan membuat pemilik kendaraan beralih membeli kendaraan baru. ”Kalau pergantian sparepart, biayanya bisa mencapai 40-50% dari harga kendaraan.

Kalau begitu, orang akan lebih baik beli kendaraan baru,” ungkap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota kemarin. Menurut dia, kualitas kir tetap menentukan angkutan untuk beroperasi di jalan. Selain berupaya mengganti seluruh kendaraan yang telah uzur, Pemprov DKI juga menginginkan sopir angkutan untuk bergabung dengan kendaraan milik pemprov.

Pemprov DKI akan memberikan honor dua kali UMP. Sopir yang bergabung dengan PT Transportasi Jakarta yang merupakan badan usaha milik daerah (BUMD) DKI juga akan mendapatkan jaminan BPJS Ketenagakerjaan dan tanggungan kecelakaan mencapai 48 kali gaji. ”Bisa enggak perusahaan angkot kasih sopir segitu?” kata mantan bupati Belitung Timur itu.

Kepala Seksi Bidang Angkutan Jalan dan Perkeretaapian Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta Fajar Nugrahaini mengatakan, terhadap angkutan tak layak jalan, pihaknya akan terus melakukan penindakan tegas karena membahayakan nyawa orang lain. ”Penertiban terus dilakukan.

Apabila armadanya bermasalah seperti pedal rem diganjel, ban botak, tidak berkaca, ya dikandangkan,” tandasnya. Kondisi angkutan umum di Jakarta seperti Kopaja dan Metromini memang sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan di Terminal Grogol dan Kalideres, Jakarta Barat, selain alas bus yang berkarat, beberapa ban juga terlihat gundul.

Tempat duduk penumpang juga tidak layak. Banyak besi-besi yang berkarat. Lisa, 33, penumpang angkutan umum, menuturkan, kondisi angkutan di Jakarta saat ini jauh dari rasa nyaman. Metromini maupun Kopaja yang banyak berseliweran di jalanan tak lagi dalam kondisi baik, terlebih sejumlah sopir kerap mengemudi secara ugalugalan. Kondisi bus Transjakarta yang seharusnya lebih baik juga tidak jauh berbeda.

Selain banyak berkarat dan telah reyot, kenyamanan penumpang pun masih menjadi masalah lantaran kapasitas yang ada seringkali melebihi daya tampung. ”Kalau misalnya Transjakarta, kita harus desak-desakan. Kalau begitu, mending Kopaja dan Metromini. Kita bisa duduk dan enggak capek,” kata karyawan yang bekerja di kawasan Slipi, Jakarta Barat, ini.

Yamin, 49, pemilik Metromini B82 jurusan Terminal Grogol - Kapuk, membantah kondisi Metromini sangat membahayakan. Setelah ada kebijakan Dishubtrans, pihaknya telah melakukan perbaikan terhadap tiga armada, mulai dari menggunakan ban tidak gundul hingga melengkapi sparepart yang kurang. ”Kita upayakan agar kendaraan ini lebih layak dan aman buat penumpang,” ucapnya.

Selain Metromini, Kopaja, dan Transjakarta, kondisi tak nyaman lantaran berdesak-desakan juga masih terlihat pada kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. Yusman, 28, pengguna kereta yang tinggal di Bogor dan kerap bolak-balik ke tempat kerjanya di Sudirman, mengakui kapasitas Commuter Line saat ini cukup mengkhawatirkan, terutama untuk relasi Bogor - Jatinegara yang biasa digunakannya.

Stasiun yang ada juga tak jauh beda dengan kondisi di dalam kereta, sangat padat dan bau. ”Terutama saat pagi dan sore hari, kondisinya sangat tidak manusiawi,” keluhnya. Senior Corporate Communication PT KCJ Eva Chairunissa mengungkapkan, setiap tahun penumpang kereta mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Total hingga Maret 2016 saja sedikitnya 850.000 penumpang menggunakan KRL di 784 perjalanan. Hal ini yang membuat kondisi kereta penuh sesak. Meski demikian, pihaknya tidak akan menambah jumlah perjalanan kereta. Hal ini karena akan membuat perjalanan kereta jarak jauh menjadi terganggu bila KCJ memaksakan melakukan penambahan.

”Antisipasi kami sejak beberapa bulan lalu melakukan penambahan gerbong kereta dari 8 ke 12 setiap satu perjalanan untuk lintas Bogor dan Bekasi,” tuturnya. Tak jarang akibat kondisi demikian, gangguan kecil kerap terjadi pada setiap perjalanan kereta.

Bila itu yang terjadi, KCJ akhirnya melimpahkan kejadian tersebut kepada Daerah Operasional (Daop) 1 PT KAI yang menangani semua perjalanan kereta di Jabodetabek hingga Merak dan Sukabumi.

yan yusuf

Berita Lainnya...