Edisi 19-03-2016
Jakarta Butuh Pemimpin yang Bekerja Konkret


JAKARTA – Kursi panas DKI 1 (gubernur) menjadi perebutan banyak orang. Selain petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), figur atau tokoh bermunculan seperti mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra, mantan Menpora Adhyaksa Dault, musisi Ahmad Dhani, pengusaha muda Sandiaga Uno, dan yang lain.

Kriteria pemimpin Jakarta pun mulai didengungkan misalnya calon gubernur haruslah orang yang mampu bekerja secara konkret dan tidak mengumbar kontroversi dalam menjalankan roda pemerintahan. Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, Jakarta sebagai ibu kota pasti menjadi barometer kepemimpinan pemerintahan daerah di Indonesia.

Para gubernur lainnya sudah jelas akan memperhatikanapayangdilakukan gubernur DKI Jakarta. Tak hanya itu, negara lain juga memperhatikan kebijakan apa yang akan diambil gubernur. ”Jadi, Jakarta ini menjadi titik perhatian dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Dia percaya warga Jakarta pasti akan memilih pemimpin yang tepat. Apalagi Jakarta memiliki aset di mana warganya mempunyai strata pendidikan yang tinggi. Karena itulah, untuk maju dalam Pilkada DKI 2017, calon gubernur tidak mengumbar janji. ”Jadi, jangan mengumbar janji bisa menyelesaikan persoalan macet dan banjir karena tidak ada satu pun gubernur yang mampu,” kata Siti.

Saat ini masyarakat mengharapkan munculnya calon pemimpin yang lugas dan konkret dalam bekerja serta eksekutor sekaligus tidak banyak bicara. Gubernur mendatang harus tahu kapan berhenti kampanye dan saatnya bekerja. Menurut dia, sosok tersebut adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Siti mengaku telah mengenal Djarot sejak politikus PDI Perjuangan itu menjadi wali Kota Blitar.

”Djarot itu eksekutor. Dia memahami betul dan dia tidak pernah berwacana. Dia tahu kapan berinovasi dan kapan harus tunduk pada partai,” ungkapnya. Djarot menegaskan, saat ini PDIP masih melakukan komitmennya untuk mengawal perkembangan dirinya dan Ahok sampai akhir periode. Karena itulah, dia masih menganggap Ahok sebagai gubernur.

Sahabat Djarot

Djarot juga memastikan relawan yang menyatakan sebagai Sahabat Djarot tidak akan mengumpulkan KTP layaknya Teman Ahok. Dia mempersilakan para relawan untuk melakukan improvisasi dalam mencari dukungan. ”Sampai sekarang saya belum komunikasi dan masih saya cari anak muda itu,” ujarnya.

Menurut dia, Sahabat Djarot layaknya Sahabat Lulung (Abraham Lunggana). Djarot akan menerima relawan ini bila ingin melakukan komunikasi. Alasan silaturahmi menjadi dasar dirinya untuk berkomunikasi dengan relawan semacam ini. ”Kita bangun silaturahmi yang baik. Tidak apa-apa.

Warga Jakarta semua teman saya, kawan saya, saudara saya setanah dan setanah air,” ucapnya. Sebelumnya ada juga komunitas yang menamakan Sahabat Sandiaga Uno. Dalam aksinya di acara Car Free Day beberapa waktu lalu, para relawan ini mengajak warga untuk lebih banyak tersenyum dan tidak bersikap kasar terhadap sesama.

Ahok mengaku tidak mempermasalahkan dengan kemunculan para relawan maupun Sahabat Djarot. ”Enggak apa-apa kemarin ada Sahabat Ahok juga,” ucapnya.

vitrianda siregar/ yan yusuf

Berita Lainnya...