Edisi 24-03-2016
Membiasakan Anak Konsumsi Makanan Sehat


MEMBIASAKAN anak untuk mengonsumsi makanan kaya gizi menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua. Sebab, makanan sehat selalu diidentikkan dengan rasa yang tidak enak. Sementara anak butuh asupan nutrisi yang seimbang. Orang tua pun harus memiliki kiat tersendiri.

Mengapa makanan sehat pada umumnya tidak menarik perhatian si buah hati, sementara makanan kurang atau tidak sehat justru digandrunginya? Itulah fakta yang biasa dialami oleh para orang tua yang memiliki kesulitan untuk membujuk anak dalam memilih makanan sehat. Anda mungkin salah satunya. Sementara anak tengah dalam masa tumbuh kembang, di mana mereka membutuhkan energi untuk belajar dan bermain.

Masalahnya, agar anak mau mengonsumsi makanan kaya gizi, tak sedikit orang tua yang terkadang memaksa anak mereka tanpa memikirkan dampak mental yang dapat terjadi pada si buah hati. Akibatnya, anak menjadi takut kepada orang tua dan memiliki persepsi negatif pada makanan sehat karena dipaksa. Dalam menyikapi hal ini, psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, butuh cara khusus untuk membuat anak suka makan dan menyenangi waktu makan.

Caranya, antara lain orang tua menyiapkan makanan sehat dan memberi contoh dengan menikmati makanan tersebut. “Misalnya, kalau Anda tidak ingin anak jajan sembarangan, ya Anda jangan lakukan itu,” kata Vera dalam acara talkshow Memperkenalkan Dunia Cita Rasa kepada Anak bersama Roma Sari Gandum di Jakarta, beberapa waktu lalu. Ajak pula anak untuk terlibat dalam memilih makanan yang dia sukai sebagai menu keesokan hari.

Pendekatan khusus ini memang perlu dilakukan oleh orang tua, termasuk dalam memberikan pengertian pentingnya mengonsumsi makanan sehat serta dampak yang terjadi bila kita kekurangan gizi seimbang. Sementara itu, ahli gizi Leona Victoria menuturkan, ada satu hal yang perlu diperhatikan orang tua saat menyuapi anak sehingga anak tidak trauma ketika dia makan sesuatu yang tidak disukainya.

“Apa pun makanannya, jangan sampai ada komentar negatif atau aura tidak bagus dari orang tua yang bisa menyugesti anak bahwa makanan itu enggak enak,” ungkapnya. Leona menambahkan, apabila anak menolak untuk makan, orang tua tidak seharusnya marah, membentak, bahkan hingga mengeluarkan katakata yang tidak pantas kepada anak. Sebaliknya, berusahalah agar anak akhirnya bisa menyukai makanan sehat. Misalnya saja bagi anak-anak di bawah lima tahun, Anda bisa mengkreasikan menu makan agar anak tidak merasa jenuh.

“Kalau anak masih balita, orang tua harus jadi kreatif, dibikin sushi atau bento box . Jadi, enggak membosankan, menarik, dan yang penting jangan memaksa. Dengan begitu, anak enjoy dan ibunya juga enggak khawatir lagi,” kata Leona. Selain itu, pada saat memasak, orang tua sebenarnya dapat mencampurkan sayuran atau bahan makanan lain ke dalam satu jenis makanan. Misalnya memasukkan bahan lain menjadi perkedel atau bakwan.

Bisa juga dengan mencampur sayuran atau buah pada makanan yang dia sukai, seperti agar-agar atau puding. Perlu diketahui, makanan bergizi tidak hanya buah dan sayuran. Namun, makanan lain yang juga memiliki manfaat serta cita rasa yang enak bagi anak-anak, seperti ikan dan kacangkacangan yang mengandung protein tanpa lemak serta produk susu yang diperlukan bagi kesehatan tulang dan gigi. Selain itu, biji-bijian yang dapat ditemukan dalam roti, sereal, dan camilan pun merupakan sumber kaya serat yang bermanfaat bagi perkembangan otak serta kecerdasan anak.

Serat juga bisa ditemukan dalam camilan. Dengan mengonsumsi camilan, menurunnya stamina dan konsentrasi pada anak yang disebabkan oleh turunnya gula darah dapat dicegah. Selain membuat anak membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan sehat, aktivitas makan sebetulnya bukan hanya membuat perut kenyang ataupun pemenuhan gizi semata. Lebih dari itu, kegiatan makan juga melatih anak untuk teratur.

“Makan bisa menjadi sarana bonding atau kedekatan antara orang tua dan anak jika dilakukan secara bersama-sama,” tutup Leona.

Sri noviarni