Edisi 29-03-2016
Portal E-Learning Perguruan Tinggi


Tren sistem pendidikan masa depan yang berbasis e-learning membuat beragam startup pendidikan lahir di Indonesia. Salah satunya HarukaEdu yang mengklaim membuat akses pendidikan taraf perguruan tinggi menjadi lebih mudah.

Berdasarkan survei HarukaEdu kepada lebih dari 1.200 orang dewasa yang sudah bekerja di Jabodetabek, diperoleh data bahwa hampir 70% dari mereka ingin melanjutkan pendidikannya dan mendapatkan gelar sarjana. Keinginan tersebut, oleh founder HarukaEdu Novistiar Rustandi disebut tidak sesuai dengan realitas di lapangan.

“Karena kesibukan dan jadwal kerja yang tidak teratur, mereka tidak dapat mengikuti program kuliah reguler yang mengharuskan mereka untuk hadir ke kampus setiap malam. Selain itu, penghasilan dari sebagian besar teman-teman kita ini masih tak jauh dari UMR. Alhasil, mereka tidak dapat menjangkau pendidikan yang mahal. Seharusnya ada program pendidikan yang fleksibel dan terjangkau,” tandas Novistiar.

Melihat kondisi ini, Novistiar bersama beberapa rekannya yang juga berkecimpung di dunia pendidikan ingin membuat sebuah “jembatan” lewat HarukaEdu. Harapannya, ingin membantu perguruan tinggi menciptakan program pendidikan e-learning yang berkualitas namun tetap terjangkau dan dapat diakses oleh mereka yang ingin memperoleh pendidikan skala perguruan tinggi.

Sejak 2013, Novistiar tidak serta merta menciptakan versi digital dari material pendidikan, namun terlebih dahulu melakukan riset. Mereka mengikuti pelatihan pendidikan online dan melakukan banyak riset terhadap best practices pendidikan e-learning di dunia yang kemudian di riset kembali pada masyarakat Indonesia. “Sistem pendidikan e-learning yang kami ciptakan di HarukaEdu tidak 100% online, tetapi lebih mendekati hybrid atau blended learning. Siswa masih diharuskan untuk datang ke kampus beberapa kali dalam satu semester, termasuk ujian yang dilakukan offline dan terawasi,” jelas Novistiar.

Untuk sistem pendidikan e-learning, HarukaEdu berusaha memberikan personalized learning experience atau pengalaman belajar yang sesuai kebutuhan masing-masing siswa. “Contohnya, setiap materi belajar dibangun dalam bentuk video, audio, dan teks sehingga siswa dapat memilih cara belajar yang mereka paling sukai dan efektif. Mereka bisa belajar sambil menonton video, mendengarkan audio, atau bahkan mendengarkan audio sambil membaca teks. Semua materi tersebut sudah terekam dan dapat diulangi kembali,” tambahnya.

Novistiar menilai bahwa sistem pendidikan berbasis online menjadi salah satu solusi bagi kalangan di Indonesia yang sudah bekerja namun tetap ingin mengenyam pendidikan perguruan tinggi.

“Sudah banyak riset di luar negeri yang menunjukkan bahwa hasil belajar e-learning yang dibuat dengan baik adalah sama, bahkan sedikit lebih baik dibanding hasil belajar dari sistem pendidikan tatap muka. Salah satu faktor yang memungkin hal ini adalah penggunaan teknologi yang memungkinkan banyak hal baru seperti personalized learning,” ungkapnya.

cahyandaru kuncorojati