Edisi 29-03-2016
Upaya Optimal untuk Dongkrak Pasar


Pemutaran film Batman v Superman: Dawn of Justice di Indonesia sejak Rabu (23/3) dimanfaatkan oleh Huawei untuk mendongkrak reputasi mereka. Huawei adalah mitra lokal untuk promosi film ini, sehingga berhak memanfaatkan film tersebut sebagai materi promosi produk.

Antara lain bonus untuk setiap pembelian Huawei G8, Honor 4C, Honor 4X, P8 Lite, Y1, dan Y6. Marketing Director Device Business Department Huawei Indonesia Ellen Anggraeni Gunawan memastikan bahwa promosi selama sebulan ini akan didorong seoptimal mungkin untuk mendongkrak pasar Indonesia.

Secara global, IDC melaporkan bahwa produsen asal Tiongkok tersebut berada pada posisi ketiga setelah Samsung dan Apple dengan pertumbuhan terkuat mencapai 37% pada kuartal tiga tahun 2015. Meski, memang untuk pasar Indonesia Huawei cukup alot untuk masuk ke jajaran produsen dengan penjualan tertinggi di Indonesia.

”Memang, kondisi merek Huawei belum bisa dibilang menggembirakan dengan pengiriman ponsel 10.000 unit per bulan,” ujar Henry Hsu, Chief Operating Officer Consumer Business Group South Pacific Huawei. Hsu mengungkap bahwa saat ini Huawei sedang melakukan pembenahan agar nama mereka sebagai produsen ponsel pintar lebih banyak dikenal. Salah satunya dengan menggarap serius ritel.

“Meski marak perniagaan elektronik, tapi 70 persen pembeli masih konvensional dalam membeli produk, yakni datang ke toko langganannya dan mencoba sendiri sebelum bertransaksi,” ungkap Hsu. Pada akhir 2015, Huawei mulai menguasai 1 persen dari pasar ponsel Indonesia. Berdasarkan survei internal, persepsi konsumen mengenai merek ponsel Huawei tumbuh dari 57 persen ke 75 persen.

Adapun laporan lembaga riset GfK juga positif. Pada kuartal pertama 2016 kondisi Huawei semakin membaik karena kini mereka sudah menguasai 2 persen pasar dan mengirimkan 100.000 unit ponsel per bulan. Hsu optimistis tahun ini mereka bisa mengancam merek yang bertengger di lima besar atau bahkan tiga besar dengan target pangsa pasar 5 persen di bulan Juni dan 8 persen di akhir 2016.

“Kami sedang merintis produksi lokal dengan menggandeng PT Panggung di Sidoarjo untuk merakit beberapa tipe ponsel kelas menengah dan pemula. Segmen ini terbilang menarik karena 70 persen dari penjualan ponsel di Indonesia adalah produk dengan harga di bawah Rp1,5 juta,” tambah Hsu. Bukan hanya itu, Huawei juga memiliki rencana untuk meluncurkan produk premium berupa komputer hibrida Huawei Matebook.

Perangkat yang bisa dioperasikan layaknya komputer jinjing ini diperkenalkan pada perhelatan Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol, beberapa waktu lalu, dan dipersiapkan untuk menandingi Surface milik Microsoft.

Menurut Lo Khing Seng, Channel and Sales Head Device Business Department, perangkat yang akan diluncurkan pada Juli ini akan mengincar pasar premium dengan harga di atas Rp10 juta. Salah satu tujuan adalah mengubah persepsi konsumen di Indonesia bahwa Huawei mampu menghasilkan produk premium.

binti mufarida