Edisi 29-03-2016
Tetap Digunakan Selama Masih Relevan


Beragamnya media sosial yang bermunculan di dunia maya membuat value atau nilai tambah sebuah platform harus kuat dan tetap dirasakan oleh pengguna. Meski terbatas 140 karakter, kenyataannya Twitter di umur ke-10 masih menjadi media sosial sekaligus komunikasi yang diminati.

Ya, Twitter yang sekarang tidak lagi seperti dirinya yang dahulu lebih berfokus dengan cara komunikasi berbasis teks dan foto saja. Kini Twitter sudah berevolusi dari segi konten. Misalnya sudah dapat mengunggah video dan gambar animasi format .GIF serta dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan termasuk bisnis.

“Pada 2006 founder Twitter Jack Dorsey pertama kali menciptakan Twitter. Media sosial ini hadir sebagai cara baru berkomunikasi secara global, yakni tidak ada lagi batasan negara dengan tampilan yang sangat simpel yang mengutamakan kemudahan berkomunikasi dan berbagi informasi,” jelas Roy Simangunsong, Country Business Head Twitter Indonesia. Lebih dalam lagi menurut Roy, Twitter bukan sekadar media sosial di mana seseorang berbagi momen atau apa yang di pikirkan dan ingin sampaikan kepada banyak orang.

Tetapi dirinya melihat Twitter sebagai sebuah dunia nyata dalam bentuk digital. “Apa yang terjadi di dunia pasti akan terjadi juga di dunia Twitter, secara langsung atau real time. Yakni ramai dibicarakan dan di dalamnya ada banyak konten yang tidak sekadar teks. Ada video dan foto, alhasil kita bisa merunut sebuah momen yang sedang berlangsung tanpa berada di lokasi,” ungkap Roy.

Roy menceritakan bahwa Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan pengguna dan penyumbang tweet terbesar di dunia. Apalagi dengan sikap yang senang berbagi momen di beragam media sosial, termasuk Twitter—yang terintegrasi dengan beragam aplikasi di Internet—. “Misalnya ada yang kita kenal ‘kultwit’ atau ‘kuliah lewat twitter’, jadi pengguna akan men-tweet hingga beberapa poin mengenai ide atau materi yang disampaikannya. Ada pula ‘Twitwar’ atau “perang lewat Twitter” yang saling adu argumen. Ada pula ‘buzzer’, yakni mereka yang berprofesi untuk mempromosikan sebuah produk,” sebut Roy.

Hal ini oleh Roy menandakan bahwa pengguna Twitter di Indonesia sangat aktif dan kreatif menciptakan atau memanfaatkan Twitter meski layanan tersebut sudah memiliki segmen khusus seperti berjualan atau marketing.

“Netizen Twitter di Indonesia sangat aktif. 54% dari mereka melakukan lebih dari dua hal di Twitter. Jadi tidak hanya men-Tweet atau retweet saja. Pada 2014 saja tercatat Indonesia menghasilkan 4,1 miliart Tweet. Twitter pun di Indonesia sudah menjadi alat ukur tersendiri terhadap suatu momen atau peristiwa di tanah air, bahkan menjadi sebuah big data untuk pemanfaatan layanan lainnya,” tambah Roy.

Roy mencontohkan bagaimana tweet pengguna di Indonesia menjadi referensi dukungan terhadap sebuah gerakan sosial maupun tokoh negara di kancah dunia politik. Twitter pun menjadi media komunikasi antara pihak pemerintahan dengan masyarakat, misalnya akun TNI AU. Lalu ada juga pemanfaat Tweet sebagai bahan analisa titik bencana banjir di Jakarta, serta banyak lagi pemanfaatan Tweet sebagai sebuah big data. Roy optimistis bahwa Twitter akan terus dipergunakan meski media sosial tersebut tersaing oleh beragam media sosial baru.

Alasan Roy berdasar kepada fakta bahwa Twitter sebagai media sosial sangat efektif sebagai alat komunikasi dengan jangkauan yang luas serta segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti juga akan terjadi di “dunia” Twitter.

cahyandaru kuncorojati