Edisi 02-04-2016
Poros Mahasiswa - Relasi Mahasiswa-Pemerintah


Semenjak kemerdekaan Indonesia, mahasiswa mulai aktif dalam kondisi sosial dan politik terlebih ketika memanasnya kondisi perpolitikan Indonesia di 1960-an.

Dengan melambungnya harga-harga Sembako yang mencapai titik hiperinflasi di tengah kehancuran ekonomi dalam negeri, mahasiswa mulai berdemonstrasi menyerukan kepada Soekarno untuk mengubah kondisi ini dengan seruan Tritura. Ketika Soeharto mulai berkuasa di awal-awal, terjadi peristiwa yang disebut Malari di 15 Januari 1974 di mana terjadi demonstrasi mahasiswa terhadap kedatangan perdana menteri Jepang,

Tanaka Kakuei, atas sentimen anti modal asing beberapa waktu terakhir. Semenjak terjadi Malari, pemerintah Orde Baru atau Orba mulai sedikit keras dengan yang namanya demonstrasi sampai 1998 dan SOeharto pun tumbang. Dengan tumbangnya Soeharto, tidak berarti keadaan mereda.

Justru sebaliknya, berbagai insiden yang memakan banyak korban sipil terjadi seperti tragedi Semanggi. Semenjak era reformasi, demonstrasi bukan lagi opsi utama untuk mengkritik pemerintah karena mulai tahun 2010-an, perkembangan media sosial mulai berkembang pesat sehingga orang bisa bebas mencibir atau hanya mengkritik saja termasuk mahasiswa sehingga media demonstrasi tidak terlalu menjadi prioritas karena agak merepotkan.

Kalau mau menyuarakan pendapat, beberapa kelompok atau individu tinggal membuat petisi kepada pemerintah, tapi mesti diingat, demonstrasiadalahsalahsatu cara tua semenjak zaman kuno yang sangat berguna untuk menunjukkan aspirasi masyarakat di lapangan. Saat ini, banyak yang berkata bahwa mahasiswa era sekarang tak seperti mahasiswa zaman dahulu yang benar-benar sungguh-sungguh memperjuangkan Ampera dan cenderung memikirkan diri sendiri.

Kalau berdemo tak sekeras mahasiswa era-era sebelumnya yang mati-matian menyuarakan aspirasi. Memang bisa dikatakan seperti itu karena perkembangan zaman yang sudah berbeda jauh dengan abad 20. Kalau dikatakan mahasiswa sekarang harus mencontoh apa yang dilakukan generasi sebelumnya, contohlah perjuangan mereka karena jika pemerintah tidak diingatkan, mereka akan lupa tujuan utamanya yaitu memajukan Indonesia.

Tapi mesti diingat kalau mahasiswa hanya berpikir demo saja dengan membawa massa yang sangat banyak hingga mencapai puluhan ribu sudah cukup tentu saja tidak. Perlu adanya saran-saran yang logis dan bisa diterapkan oleh pemerintah oleh para mahasiswa sesuai bidang-bidangnya tersendiri. Kemungkinan akan didengar cukup terbuka di tengah era reformasi ini sehingga mahasiswa harus bisa bersinergi dengan pemerintah sebagai pengawas dan pemberi saran.

MUHAMMAD ABDUL KARIM
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah,
Universitas Indonesia