Edisi 09-04-2016
SOS Children's Villages Ajak Seniman Muda Indonesia Jadi Relawan


Organisasi amal internasional SOS Children’s Villages mengajak seniman muda Indonesia Atreyu Moniaga untuk bergabung menjadi pengajar relawan.

Pada Mei mendatang Atreyu akan mengunjungi desa program SOS Children’s Villages di Tabanan, Bali, untuk mengajar fotografi dan membuat ilustrasi sesuai keahliannya. ”Sangat tertarik. Mungkin saya akan mengajarkan memotret atau ilustrasi tapi saya juga akan banyak belajar dari mereka bagaimana untuk menerima kehidupan ini,” ujar Atreyu kepada KORAN SINDO di Jakarta kemarin.

Ilustrator pola pada beberapa karya desainer ternama Indonesia Sebastian Gunawan ini mengaku akan mengajar ilustrasi yang dapat diaplikasikan, bukan sekadar lukisan. ”Gambar akan bersifat merchandising . Visi saya mau kasih tahu gambar itu tidak ada pakem tertentu, sederhana saja bagus. Ingin kasih tahu referensi lain yang mungkin bisa mereka contoh,” jelasnya.

Karya merchandising yang dimaksud Atreyu ialah karya yang dapat dibuat sesuatu yang bermanfaat atau dijadikan hadiah. ”Bagi mereka yang kreatif, mungkin bisa dibuat jualan untuk menambah uang jajan,” tambahnya. SOS Children’s Villages juga turut mendukung pameran fotografi pertama Atreyu bertajuk ”Pulih”.

Senada dengan visi SOS Children’s Villages yang ingin memulihkan anak-anak korban kekerasan atau bencana alam, karya Atreyu tentang bagaimana manusia bisa kembali hidup setelah menerima ujian. Bagi lelaki kelahiran 9 Desember 1988 ini, selain dapat berkolaborasi dengan seniman lainnya, proyek amal menjadi tujuan untuk memamerkan karyanya.

Bukan hanya itu, dia juga membagikan ilmunya dengan menjadi dosen di Universitas Bunda Mulia, Jakarta Utara. ”Dosen favorit saya pernah bilang, apa yang saya ajarkan tidak akan ada apa-apanya jika tidak membantu orang lain. Maka, saya ingin mengajar,” ucapnya. Kebanggaan terbesarnya kini ialah dapat membantu mengerjakan pameran bersama mahasiswanya.

Sementara, SOS Childrens Villages didirikan oleh mahasiswa kedokteran Hermann Gmeiner pasca-Perang Dunia (PD) II. Kerusakan yang disebabkan PD II menuntun langkah Gmeiner untuk menjadi seorang pekerja sosial bagi anak setelah perang. Anak membutuhkan kasih sayang dari rumah dan lingkungan sekitar sebagai tempat bersosialisasi.

Bermodalkan hanya 600 Austrian Schilllings (USD40), Gemeiner mendirikan desa ramah anak pertama di Imst, Austria, pada 1960. Kecintaannya akan anak-anak akhirnya mengalahkan ambisi pribadinya, ia tidak meneruskan pendidikannya di sekolah kedokteran agar bisa lebih fokus dalam menangani SOS Children’s Villages.

SOS Children Villages non- Eropa pertama berdiri di Daegu, Korea Selatan, yang kemudian diikuti oleh berdirinya SOS Children’s Villages lainnya di benua Amerika dan Afrika. Saat ini SOS Children’s Villages telah bekerja secara aktif di 134 negara dan mengasuh lebih dari 80.000 anak di seluruh dunia.

ANANDA NARARYA