Edisi 10-04-2016
Musik Klasik dalam Carmen


Belajar dan memaknai musik klasik bisa lewat berbagai cara. Selain lewat literasi musik klasik, opera Carmen bisa menjadi sarana untuk menikmati dan mempelajari musik klasik.

Pertunjukan opera klasik Carmen karya Komposer Perancis Georges Bizet (1869–1875) akan berlangsung di Ciputra Artpreuner, Jakarta, pada 16-–17 April ini. Inisiator pertunjukkan Carmen di Indonesia The Resonanz Music Studio (TRMS) menunjuk Sutrada asal Belanda Jos Groenier untuk menggarap opera Carmen di Indonesia.

Pemimpin TRMS Avip Priatna menilai, diikutsertakannya Jos dalam menggarap opera Carmenagar pertunjukkan nanti memiliki ruh dan nuansa Eropa. Kisah Carmen yang merupakan salah satu kisah opera yang sangat populer dan paling sering diangkat ke atas panggung opera dunia, merupakan pertunjukkan yang melibatkan sentuhan musik yang rumit. Untuk itu, peran Jos sebagai sutradara dengan latar belakang budaya dan pengalamannya di dalam dunia seni, dapat memberikan ruh tersendiri.

Selain itu, Avip berharap, dengan adanya sutradara asing yang profesional dan berpengalaman seperti Jos, para pemain dan pencinta musik klasik dapat menyerap ilmu yang diberikan oleh Jos. “Jos merupakan sutradara asal Eropa yang paham budayanya dan juga sangat berpengalaman di dunia seni,” katanya. Ide menggelar pertunjukkan opera Carmen merupakan mimpinya sejak 2007 silam. Saat itu Avip menyaksikan pertunjukkan Carmen di Singapura.

Di situlah terbesit keinginan untuk mementaskan sendiri Carmen di Indonesia. Alasannya, ia yakin bahwa sumber daya manusia (SDM) bersama talenta masyarakat Indonesia tidak kalah dengan penyanyi maupun aktor internasional. Seperti gayung bersambut, ketika rencana mementaskan Carmen di Indonesia berlangsung, Avip dikirimi video oleh temannya lewat surel tentang wanita Indonesia yang memerankan tokoh Carmen di Eropa.

Dengan kesempatan tersebut, Avip semakin yakin bisa mementaskan opera Carmen di Indonesia. Maka, ketika Batavia Madrigal Singers merayakan ulang tahun ke-10, Avip ingin momentum tersebut dirayakan dengan peringatan yang istimewa. Yakni menghadirkan opera Carmen. Opera Carmen dipilih dengan alasan pertunjukkan tersebut menjadi sebuah pertunjukkan musik klasik yang digabungkan dengan kisah drama melalui pertunjukkan orkestra yang spektakuler.

TRMS sebagai lembaga pendidikan musik, menurutnya memiliki komitmen untuk mendekatkan musik klasik kepada masyarakat luas. Opera Carmen yang memiliki reputasi internasional sebagai sebuah pertunjukkan musik dunia yang berhasil diboyong ke Indonesia, menjadi wujud dari komitmen TRMS sebagai lembaga musik. Lebih dari itu, hal ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pergerakan musik klasik di kancah internasional.

“Hadirnya opera Carmen di Indonesia bisa dijadikan bukti bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam pergerakan musik klasik di kancah internasional,” katanya. Sementara, sutradara asal Belanda Jos Groenier menilai, menggarap sebuah opera sekelas Carmen bukanlah kali pertama baginya. Popularitas dan kualitas opera Carmen sebagai sebuah seni dunia ketika dimainkan dan diperankan kepada penyanyi dan aktor Indonesia, tak menemui kesulitan berarti dalam proses latihannya.

Jos bahkan menilai, SDM Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Baik dari kualitas suara, akting, hingga menari. Jos juga mengutarakan antusiasnya dalam menggarap opera Carmen di Indonesia. Salah satunya adalah karena nama Avip Priatna yang baginya tak asing lagi di ranah musik dunia. Menurutnya, Avip merupakan seorang konduktor asal Indonesia yang telah meraih penghargaan di berbagai kompetisi musik internasional. Maka, ketika ditawarkan oleh TRMS untuk menggarap opera Carmen di Indonesia, ia dengan mantap menyatakan kebersediaannya.

Meskipun ia mengakui bahwa kerja sama tersebut merupakan pertama kali dan hal baru baginya. “Menggarap musik dan opera bersama TRMS merupakan hal baru bagi saya, tapi kesan saya terhadap Avip meyakinkan saya bahwa proyek ini akan mengasyikkan,” katanya. Adapun, pemeran tokoh Carmen Henny Janawati menilai, pertunjukkan opera Carmen di Indonesia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi pencinta musik klasik di Indonesia sebagai alternatif lain dalam mendalami musik klasik.

Pasalnya, meski peminat musik klasik di Indonesia cenderung bertambah, sarana dan pra-sarana untuk masyarakat yang ingin menggali musik klasik secara serius belum terlalu banyak. Ia kemudian berbagi pengalaman bagaimana dirinya sebagai penyanyi mezzo sofrano dalam menggeluti musik klasik di Indonesia. Lahir dan tumbuh di Bali, musik yang banyak berkembang di Bali didominasi oleh musik pop.

Maka, ketertarikannya terhadap musik klasik menjadi selera minoritas, sehingga sarana dan medium untuk mendalami musik klasik tidaklah mudah. “Di Bali berkembang budaya pop, sulit sekali mendalami musik klasik ketika itu,” katanya. Maka demi mendalami kegemarannya dalam musik klasik, Henny belajar melalui medium yang sederhana. Baik lewat literasi musik klasik, maupun aktif memantau perkembangan musik klasik dari media.

Seiring berjalannya waktu, berkat kegigihan dan bakatnya, Henny berhasil mendapatkan beasiswa musik di Eropa dan juga sempat beberapa kali memerankan tokoh Carmen. Memerankan tokoh Carmen merupakan mimpi bagi setiap penyanyi mezzo sofrano dunia. Pernah memerankan tokoh Carmen, Henny bersyukur dan tak merasa puas diri.

Imas damayanti