Edisi 10-04-2016
Perlu Pembenahan Serius dan Ketegasan


Pemerintah Daerah Pemerintah daerah diminta lebih serius membenahi jalur pedestrian (pejalan kaki) yang saat ini sudah banyak beralih fungsi. Ketegasan mutlak diperlukan untuk memberikan kenyaman bagi para pejalan kaki. Alih fungsi trotoar sebagai lahan parkir, tempat berjualan, dan melintasnya sepeda motor harus segera diakhiri.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna menilai saat ini pemerintah daerah belum terlihat serius membenahi trotoar atau jalur pedestrian. Padahal trotoar memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam berlalu lintas.

“Kalau sekarang, trotoar cenderung dibangun dari tanah sisa,” ujar Yayat. Oleh karenanya, sudah saatnya bagi pemerintah daerah menyiapkan anggaran untuk meningkatkan kualitas trotoar. Di antaranya dengan membuat taman, tempat duduk, lampu penerang serta kanopi. Dengan begitu, pejalan kaki bisa merasakan kenyamanan ketika berada di trotoar.

Selain kualitas jalur pedestrian yang memadai, pemerintah daerah juga harus mengembalikan fungsinya yang saat ini banyak berubah. Tidak boleh lagi ada yang berjualan di trotoar atau digunakan sebagai lahan parkir, bahkan dipakai sebagai jalur sepeda motor menghindari macet. “Jangan ada lagi kekhawatiran ditabrak kendaraan ketika berjalan di trotoar,” jelasnya.

Di Surabaya, Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya Novan Nugroho mengaku masih banyak ditemukan kendaraan bermotor melintas di jalur bagi pedestrian. Padahal dalam aturannya, menggunakan trotoar, baik itu untuk dilintasi ataupun digunakan parkir kendaraan bermotor dilarang. Tak hanya kendaraan bermotor, terkadang jalur pedestrian digunakan sebagai tempat berjualan.

“Kami terus mengingatkan warga agar jalur pedestrian tidak disalahgunakan. Biaya pembangunan jalur pedestrian ini kan tidak murah. Kami ingin jalur pedestrian itu digunakan sebagaimana mestinya,” katanya. Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Golkar Sabar Samsuria Sitepu menyayangkan sikap Pemkot Medan yang tidak tegas dalam menertibkan sejumlah jalur pedestrian yang sudah beralih fungsi.

Bila dilihat dari persentasenya, terlalu banyak jalur pedestrian di Kota Medan yang beralih fungsi. Fungsi dasarnya untuk sarana pejalan kaki, sudah berubah fungsi menjadi tempat orang berjualan, berbisnis dan lainnya. Sebagai contoh, di Jalan Pandu, Medan, puluhan toko teknik di sepanjang Jalan Pandu tersebut memajang barang-barang dagangannya di atas jalur pedestrianyang menyebabkan pejalan kaki sulit mengakses kawasan tersebut.

Tidak jarang pejalan kaki harus berjalan di atas badan jalan yang bisa membahayakan keselamatan mereka. Lain halnya di Jalan Gatot Subroto, Medan, tepatnya di depan Plaza Medan Fair. Jalur pedestrian di kawasan tersebut sudah berubah fungsi menjadi lahan parkir sepeda motor dan tempat berjualan pedagang kaki lima (PKL). Begitu juga di Jalan Ar Hakim, Medan, tepatnya di kawasan Pasar Sukaramai. Sepanjang jalur pedestrian di kawasan itu dijadikan sebagai lokasi berjualan.

Sedangkan di Jalan Ir H Juanda, Medan, tepatnya di depan gedung Ace Hardware, pedestrian dijadikan sebagai lokasi baliho. “Ini kan ada perdanya. Ini perda lama. Pemerintah harus berani menegakkan perda. Kalau pemerintah tidak berani menegakkan perda akan membuat pemerintah tidak punya wibawa. Kota ini akan menjadi apa nanti,” pungkas Ketua Komisi D DPRD Kota Medan.

Menurut pengamat perkotaan Nirwono Joga, Jakarta belum memiliki jalur pedestrian yang ramah dan nyaman. Pengelolaan jalur pedestrian yang ideal itu harus terpadu dengan saluran air dan jaringan utilitas. Misalnya, lebar tiga meter, kiri kanan satu meter untuk pipa, dan satu meter di tengah untuk saluran air. Idealnya lebar jalur pedestrian mengikuti lebar jalan.

Misalnya, di Jalan Sudirman- MH Thamrin-Medan Merdeka dan Gatot Subroto-MT Haryono, di daerah tersebut jalur pedestrian minimal memiliki lebar lima meter. “Kalau Rasuna Said, Warung Buncit-Imam Bonjol-Diponegoro minimal 2,5-3 meter,” ujarnya.

Hermansah/ soeprayitno / heru muthahari/reza shahab/ dicky irawan/ yan yusuf/ bima setiyadi