Edisi 10-04-2016
Pesan Spiritual dalam Kisah Menawan


Semua agama membawa pesan spiritual. Bentuk dan polanya bisa berbeda, tapi semangatnya kurang lebih sama.

Dalam Islam, pesan spiritual ini tersampaikan dalam tasawuf. Jalan tasawuf bertujuan mengantar seseorang agar berlaku selaras dengan Tuhan dan mampu bertindak sebagai perpanjangan kehendak-Nya. Buku Secawan Anggur Cinta memaparkan ajaran-ajaran pokok tasawuf. Yang menarik, ajaran inti tasawuf itu dalam buku ini disampaikan dalam kisah-kisah.

Naskah buku ini semula merupakan ceramah dan kuliah yang disampaikan penulisnya, Syekh Muzaffer Ozak, pada rentang tahun 1980 hingga 1985 di Amerika. Penyuntingnya adalah murid Syekh Muzaffer bernama Robert Frager, psikolog lulusan Harvard University dan pendiri Institute of Transpersonal Psychology.

Buku ini memuat 11 bab yang menjelaskan ajaran inti tasawuf, di antaranya tentang cinta, pengenalan diri, berserah diri pada Tuhan, sikap sabar, macammacam godaan, dan sikap murah hati. Menurut Syekh Muzaffer, jika tasawuf adalah upaya untuk menyingkap tabir antara seseorang dan Tuhan, maka jalan sufi tak lain adalah jalan cinta. Langkah awalnya adalah mensyukuri semua pemberian Tuhan (hlm. 29, 41). Dalam menempuh jalan sufi, seseorang harus bisa mengelola bilik batinnya sehingga tidak dikuasai oleh nafsu duniawi.

Tampilan luar kadang menipu. Dikisahkan bahwa ada seorang nelayan miskin yang menjadi guru sufi di kampungnya. Suatu saat, ada salah seorang muridnya yang hendak mengunjungi kota tempat tinggal guru si nelayan sufi tersebut di negeri yang jauh. Si nelayan sufi menyampaikan pesan agar ia mendapatkan nasihat dari gurunya. Murid si nelayan cukup kaget saat tiba di kediaman guru nelayan sufi tersebut.

Tempat tinggalnya sangat mewah dan pakaiannya lebih bagus daripada orang kaya di daerah itu. Murid si nelayan tambah merasa aneh karena Sang Guru memberi nasihat agar si nelayan sufi “jangan terlalu terikat pada dunia.” Pesan itu terasa aneh berhadapan dengan fakta kemewahan yang dilihatnya. Namun nyatanya, si nelayan sufi terkejut saat menerima nasihat itu. Dia mengakui bahwa ternyata selama ini hati dan pikirannya masih sering berpikir tentang dunia.

Saat makan kepala ikan hasil tangkapannya di laut, dia sering berharap menikmati makanan mewah yang jauh lebih nikmat (hlm. 57-60). Cerita ini menegaskan bahwa dalam jalan tasawuf yang lebih penting adalah cara menguasai nafsu yang sering kali begitu tersembunyi. Kisah lainnya mengingatkan tentang betapa godaan iblis kadang begitu sederhana tetapi dampaknya bisa berantai. Suatu saat, iblis protes karena selalu dipersalahkan sebagai yang menyesatkan manusia.

Padahal, kata si iblis, ia kadang hanya melonggarkan pasak seekor domba yang sedang diikat. Namun, gara-gara dilonggarkan, domba itu mengamuk di rumah seseorang. Akibatnya, suami-istri di rumah itu bertengkar hingga bercerai. Pertengkaran pun meluas ke pihak dua keluarga (hlm. 167-169).

Ajaran inti tasawuf yang lain mendorong manusia untuk berbuat baik kepada sesama dengan bermurah hati. Ada kisah-kisah menarik yang diangkat di buku ini untuk menggambarkan sikap murah hati dengan sederhana, seperti senang melayani dan memuliakan tamu, membantu tetangga meski harus menggagalkan rencana untuk naik haji, dan sebagainya (hlm 181-189). Sikap bermurah hati dengan mendahulukan pelayanan kepada orang lain adalah latihan dasar dalam jalan sufi untuk menaklukkan ego yang merusak.

Kisah-kisah dalam buku ini mengangkat cerita bertema sederhana tapi mengilhamkan agar kita dapat mereguk secawan anggur cinta di jalan spiritual yang terjal. Di tengah kehidupan yang cenderung semakin materialistis, kisah-kisah dalam buku ini dapat membantu pembaca untuk menghidupkan dimensi batin dalam dirinya sehingga dapat menerangi jalan hidup yang kian membingungkan dan kadang sulit dicerna nalar.

M Mushthafa,
dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur