Edisi 10-04-2016
Tiap Hari Menulis Buku


Sehari selembar benang, lama-lama menjadi kain. Pepatah ini telah mengilhami penulis buku-buku marketing strategic Hendrik Lim, MBA.

Konsistensinya menulis setiap hari telah menghasilkan satu buku dalam setahun. Hingga saat ini peraih award (lomba menulis) dari Ary Suta Center (ASC) tersebut telah menerbitkan 11 buku. Di antaranya, buku berjudul BOMBusiness Owneer Mentality, ABGAdaptif Besar Gesit, Happy Work Happy Life, Indonesia Baru Mental Baru, dan dalam waktu dekat akan menerbitkan buku ke-12 berjudul New Games New Response.

Bagi CEO-Defora Anugrah Perkasa ini, menulis sesungguhnya bukan hanya persoalan isi kepala, tapi juga soal konsistensi menuangkan gagasan yang ada di balik tempurung kepala itu pada selembar kertas setiap hari. ”Usahkan satu hari menulis satu lembar, maka dalam 1 tahun akan punya 250-300 lembar, jadilah satu buku baru. Itulah yang saya lakukan setiap tahun. Satu buku baru dalam satu tahun,” jelasnya. Berikut petikan wawancaranya dengan KORAN SINDO.

Anda sudah menulis berapa buku dan apa kiat Anda dalam menulis?

Saya telah menulis 11 buku, lima di antaranya diterbitkan oleh kelompok Kompas Gramedia. Buku Indonesia Baru Mental Baru telah terbit awal tahun ini dan akan segera nyusul buku New Games New Response. Kiat dalam menulis? Ya, jangan menunda. Begitu ada ide muncul, langsung dicatat. Jangan bilang besok pagi saya menulis, karena idenya akan hilang kalau dibiarkan sampai besok pagi. Usahkan satu hari menulis 1 lembar, maka dalam 1 tahun akan punya 250-300 lembar, jadilah satu buku baru. Itulah yang saya lakukan setiap tahun. Satu buku baru, dalam satu tahun.

Apa tantangan yang dihadapi para penulis umumnya dan Anda rasakan khususnya?

Masyarakat Indonesia hanya punya mental membeli buku murah, dan buku ringan-ringan. Jadi, sifatnya cetek, alias shallow, tidak mendalam. Kalau orang hanya menulis atau bergelut dalam dunia literatur, sebaiknya tidak mengharapkan reward keuangan langsung dari dunia tulis-menulis. Sebab, bisa cepat mati. Karena, boleh dibilang reward royaltinya seperti tidak ada artinya. Jadi, kalau mau punya endurance dan ingin menyalurkan hobinya lewat dunia tulis-menulis, ia harus punya kemampuan menciptakan pendapatan-income dari sumber lain, misanya konsultan, speaker, atau trainer. Dengan begitu, buku dan tulismenulis menjadi sebuah tool.

Ada filosofi begini; penulis yang baik, pasti seorang pembaca yang baik. Bagaimana kebenaran dari filosofi itu menurut Anda?

Ya, apa yang keluar dari ujung pena berasal dari apa yang kita masukkan ke dalam mata (baca). Kalau tidak membaca, maka yang ditulis akan merupakan pengulangan, dari sebuah dunia percakapan diri sendiri, yang tidak berhenti dan berulang-ulang. Jadi, membaca adalah suatu kebiasaan yang amat baik untuk meningkatkan kualitas tulis dan pengetahuan umum lainnya. Alasan lain, kalau tidak ada asupan dan pengayaan ide lewat baca, maka tulisan akan garing. Kecuali untuk kasus di mana orang mendapat pencerahanpewahyuan transendental atau menuliskan pengalaman-pengalaman yang hebat dalam hidupnya sendiri.

Saat ini generasi muda sebagian besar waktunya baca gadget. Padahal informasi di media sosial sangat dangkal. Menurut Anda, kondisi seperti itu bisa melahirkan penulis hebat?

Gadget adalah tool yang sangat powerful untuk mendapatkan akses bacaan. Untuk melahirkan penulis hebat? Well, tergantung, bisa ya bisa tidak. Apakah seorang mau menjadi writer atau author. Gadget akan sangat membantu, kalau hanya dipakai untuk mencari atau akses informasi, tetapi kalau untuk menulis, kita perlu fokus dan kemampuan menghadapi distraksi. Dan, gadget sering kali menjadi sumber distraksi.

Anda telah menerbitkan buku Indonesia Baru Mental Baru . Apa yang mendorong Anda hingga menulis buku itu?

Buku ini mengusung tema sentral tentang kerangka implementasi revolusi mental. Saya melihat negara tidak bisa maju kalau tidak ada suatu gerakan revolusioner tentang perubahan cara berpikir, cara pandang (mindset-perserpsi), serta perilaku tindakan kolektif. Revolusi mental, ide yang amat baik. Namun, di sini masalahnya, tidak ada suatu kerangka implementasi sama sekali. Yang ada hanya imbauan.

Revolusi mental sejatinya diinkorporasikan ke dalam tujuan besar yang dicapai negara pada masa depan, kemudian menjadi bagian integral dari rumusan strategi untuk mencapai goal -tujuan negara. Dengan kata lain, kita memerlukan revolusi mental, agar punya mental yang kompatibel dengan pilihan pola strategi yang dianut. Hanya dengan itu, mental yang akan dibangun dan di-overhaul bisa terdefinisi dengan jelas. Dan kita tidak ragu lagi, mental yang mana yang mau direvolusi.

Kemudian, buku New Games New Response isinya tentang apa?

Intinya, dunia bisnis saat ini telah berubah begitu cepat. Selera dan preferensi konsumen sangat dinamis. Struktur bisnis juga telah berubah, terutama dengan adanya serbuan aplikasi teknologi. Di lain pihak, aspirasi pekerja, terutama knowledge workers dan kaum profesi telah berubah sangat jauh dibanding sebelumnya. Berbagai driver kinerja juga telah bergeser. Semua itu menuntut respons yang berbeda, jika perseroan ingin lulus seleksi alam pasar.

Persoalan terbesar yang dihadapi manajemen adalah pola dan respons manajemen sering terjerat dan terkondisi pola lama. Akibatnya, terjadi mismatch dan tidak mampu melakukan adaptasi, lalu mati ditelan zaman.

donatus nador