Edisi 10-04-2016
Coto Kuda Jeneponto, Tak Sekadar Rasa


Siapa bilang hanya Makassar yang punya coto? Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, juga memiliki kuliner tradisional yang dikenal akan rasa gurih nikmatnya itu. Bedanya, coto Jeneponto identik dengan kuda. Ya, coto kuda Jeneponto diburu bukan hanya karena kelezatannya,namun juga legendanya sebagai penambah stamina.

Mengunjungi Jeneponto seperti tak lengkap tanpa mencicipi coto kuda. Varian kuliner khas asal Butta Turatea seolah menjadi kuliner wajib bagi para pelancong maupun masyarakat daerah itu sendiri.

Rumah makan yang menyediakan coto kuda banyak tersebar di kota itu. Salah satunya warung Coto Noer di Jalan Pahlawan. Warung yang telah beroperasi sejak 1981 itu hingga sekarang belummembukacabang. Takheranpelanggannya membeludak. Coto Noer dianggap sebagai salah satu penyedia coto kuda terenak. Pemilik Coto Noer, Ahmad Noer mengatakan, bahan dasar daging yang digunakannya merupakan kuda muda berumur lima tahun.

Tentu saja ini dimaksudkan agar tekstur daging yang diolah tidak alot. Kuda yang digunakan juga tak sembarang kuda. ”Bertahun-tahun warung ini menggunakan kuda asal Sumbawa dan Flores. Dagingnya enak dan lebih lembut,”kata dia. Menyantap coto kuda paling cocok ditemani ketupat. Jika tak terlalu suka, nasi juga teman yang tak kalah nikmat. Satu porsi coto kuda dihargai Rp23.000. Itu termasuk olahan paru, hati, pipi, dan jantung kuda.

Adapun ketupat per biji Rp1.000 dan nasi per piring Rp2.000. Coto Noer dikenal karena dagingnya yang empuk dan tidak amis. Kegurihan kuah cotonya melegenda selama berpuluh tahun. Lidah penikmat kuliner ini akan dimanjakan dengan aroma kacang dan bumbu kental yang menggugah selera.

”Kuah coto kami memang berbeda karena tidak menggunakan bawang merah pada bumbunya. Tambahan susu kental putih membuat kuah coto kuda semakin segar,” jelasnya. Bagi yang tak berani menjajal masakan ini, Noer menyiapkan menu coto ayam sebagai alternatif. Pelanggan warung coto kuda Noer mengaku kelezatan masakan di tempat ini sulit ditemukan di warung lain.

Wajar bila mereka yang datang bukan hanya dari Jeneponto, melainkan beberapa daerah seperti Enrekang, Maros, Bulukumba, Bantaeng, Makassar bahkan Jakarta. Muhammad Arief yang telah menjadi pelanggan tetapnya selama 15 tahun tak menyangkal kelezatan coto kuda Noer. Diamengakucoto kuda Noergurihdengan daging yang lembut. ”Saya biasanya lebih suka menyantap coto kuda dengan nasi hangat. Dagingnya yang lembut dapat dinikmati semua penikmat coto,” katanya.

Arief mengaku menyukai coto kuda bukan hanya karena rasanya, melainkan juga khasiat yang terkandung di dalamnya. Banyak yang menyebut daging kuda memiliki khasiat obat. Selain itu, juga dipercaya menambah stamina. ”Karena itu, saya sering sekali menyantapnya,” kata dia.

Chaerani arief